
Bukan Sekadar Halal Bihalal, G-BRAN Jawa Barat Menyatukan Arah dan Menyusun Langkah Besar
Bandung — Pertemuan itu tampak sederhana. Saling bersalaman, saling memaafkan, suasana hangat khas pasca Idulfitri. Namun di balik itu, DPD G-BRAN Jawa Barat sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: menyatukan arah dan menegaskan langkah.
Pada 14 April 2026, jajaran pengurus DPD dan DPC se-Bandung Raya berkumpul dalam satu ruang. Dipimpin Ketua DPD Jawa Barat, Agus Salim Dwidasawarsa, forum ini dihadiri Penasehat Soegandar Rahardjo, Wakil Ketua Kefas Hervin Devananda dan Ketut Sethyon, Sekretaris Agus Ruspendy, Bendahara Hj. Asih Rukasin, serta Ir. Ghazali bersama pengurus lainnya.
Dari Kota Bandung hingga Kabupaten Cianjur, seluruh perwakilan hadir membawa satu kepentingan yang sama: memastikan organisasi tidak hanya berjalan, tetapi bergerak.
Pertemuan ini langsung menukik pada hal-hal mendasar. Tidak berlama-lama pada seremoni, pembahasan diarahkan pada tiga fokus utama: memperkuat konsolidasi, menegaskan arah perjuangan, dan mempersiapkan deklarasi serta pelantikan G-BRAN se-Jawa Barat.
Ketua DPD Jawa Barat menegaskan bahwa organisasi tidak boleh kehilangan arah di tengah dinamika yang terus berubah.
“Kita harus berhenti berjalan sendiri-sendiri. Saatnya bergerak bersama, dengan tujuan yang jelas dan komitmen yang sama,” ujar Agus Salim.
Di sela kegiatan, sejumlah pengurus menyampaikan pandangan kepada awak media. Penasehat Soegandar Rahardjo berbicara dengan nada yang dalam dan reflektif.
“Kita ingin organisasi ini punya makna. Bukan sekadar ada, tetapi hadir dengan tujuan dan membawa perubahan,” ungkapnya.
Wakil Ketua Ketut Sethyon menegaskan bahwa kekuatan organisasi akan terlihat dari gerak nyata di lapangan.
“Yang dibutuhkan bukan hanya struktur, tetapi tindakan. DPC harus hidup, harus bergerak, dan harus dirasakan keberadaannya,” tegasnya.
Sementara itu, Ir. Ghazali mengarahkan perhatian pada sektor yang paling dekat dengan masyarakat: ekonomi.
“Kalau kita ingin relevan, kita harus menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat. UMKM dan ekonomi kreatif adalah ruang nyata untuk itu. Di sana G-BRAN harus hadir dan bekerja,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa organisasi harus mampu menjadi jembatan antara potensi masyarakat dan peluang yang lebih luas.
Pertemuan berlangsung tanpa hiruk pikuk, tetapi penuh makna. Tidak banyak retorika, namun sarat dengan kesadaran bahwa organisasi sedang memasuki fase penting.
Halal Bihalal ini menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Ia berubah menjadi ruang penyatuan arah, tempat di mana komitmen diperkuat dan langkah besar mulai disusun.
Dari Bandung Raya, satu pesan menguat: G-BRAN Jawa Barat tidak hanya berkumpul—mereka sedang bersiap untuk bergerak.



