
Ketua PW PGLII DIY: Kasih kepada Tuhan Harus Terlihat dalam Cara Kita Menghormati Sesama dan Menjaga Indonesia
Yogyakarta, 30 Mei 2026 – Hari Lahir Pancasila bukan sekadar peringatan sejarah tentang lahirnya dasar negara. Lebih dari itu, momentum 1 Juni adalah panggilan moral bagi seluruh rakyat Indonesia untuk kembali mengingat nilai-nilai luhur yang telah mempersatukan bangsa ini sejak awal kemerdekaan.
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi konflik, polarisasi, dan krisis kemanusiaan, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk tetap menjadi bangsa yang mampu merawat persaudaraan dalam keberagaman. Sebab kekuatan Indonesia tidak terletak pada keseragaman, melainkan pada kemampuan hidup bersama dalam perbedaan dengan semangat saling menghormati dan saling mengasihi.
Menjelang Hari Lahir Pancasila 2026, pesan tersebut kembali ditegaskan oleh berbagai tokoh bangsa dan tokoh agama, termasuk dari kalangan gereja yang selama ini turut berkontribusi menjaga persatuan nasional.
Saat dihubungi Tim Media pada Sabtu pagi (30/5/2026), Ketua Pengurus Wilayah Persekutuan Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Daerah Istimewa Yogyakarta, Pdt. Onwin Hetharie, mengatakan bahwa Pancasila harus terus dihidupi sebagai wujud nyata kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, iman yang sejati tidak hanya diukur dari kesetiaan seseorang beribadah, tetapi juga dari kesediaannya menghormati sesama manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
“Ketika kita menghormati sesama manusia, menjaga persaudaraan, dan merawat kedamaian, sesungguhnya kita sedang menghidupi nilai-nilai iman yang Tuhan kehendaki. Kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama,” ujar Pdt. Onwin.
Ia menilai bahwa Pancasila mengandung nilai-nilai luhur yang selaras dengan semangat kehidupan beriman, yaitu penghormatan kepada Tuhan, penghargaan terhadap martabat manusia, semangat persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Peristiwa Bantul Menjadi Pelajaran Berharga
Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Onwin juga menyinggung peristiwa yang terjadi di Bantul beberapa waktu lalu yang menimbulkan perhatian luas dari masyarakat.
Menurutnya, kejadian tersebut harus menjadi refleksi bersama agar kehidupan yang rukun dan harmonis di Daerah Istimewa Yogyakarta tetap terjaga dengan baik.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membiarkan perbedaan keyakinan berkembang menjadi prasangka, permusuhan, atau tindakan yang dapat melukai persaudaraan.
“Kita semua tentu prihatin apabila ada peristiwa yang menimbulkan rasa tidak nyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Namun sebagai bangsa yang beradab, kita harus menjadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk membangun dialog, memperkuat pengertian, dan memperdalam rasa saling menghormati,” katanya.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan lebih banyak jembatan persaudaraan daripada tembok pemisah. Karena itu, seluruh tokoh agama memiliki tanggung jawab untuk menjadi penyejuk di tengah masyarakat.
“Jangan pernah membalas kebencian dengan kebencian. Terang tidak akan pernah lahir dari kegelapan, dan damai tidak akan pernah lahir dari permusuhan. Sebaliknya, kasih, pengampunan, dan kebijaksanaan adalah jalan yang akan membawa bangsa ini tetap bersatu,” tegasnya.
Gereja Dipanggil Menjadi Garam dan Terang
Pdt. Onwin menegaskan bahwa gereja harus hadir sebagai kekuatan moral yang membawa harapan bagi masyarakat.
Menurutnya, panggilan gereja bukan hanya membangun kehidupan rohani jemaat, tetapi juga menghadirkan damai sejahtera bagi lingkungan, masyarakat, dan bangsa.
Ia mengutip prinsip ajaran Kristus bahwa umat percaya dipanggil menjadi “garam dan terang dunia”, yakni membawa pengaruh positif yang menghadirkan kasih, keadilan, dan perdamaian.
“Gereja tidak boleh hidup dalam eksklusivisme. Gereja harus hadir melayani, membangun persaudaraan, membantu mereka yang membutuhkan, dan menjadi sahabat bagi semua orang. Itulah kesaksian iman yang sesungguhnya,” ujarnya.
Menurutnya, gereja yang sehat adalah gereja yang tidak hanya bertumbuh dalam jumlah, tetapi juga memberi dampak positif bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Indonesia Membutuhkan Kebangkitan Hati Nurani
Pdt. Onwin menilai bahwa tantangan terbesar bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, tetapi juga bagaimana membangkitkan kembali hati nurani bangsa.
Menurutnya, Indonesia memerlukan lebih banyak keteladanan, kejujuran, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian kepada sesama.
“Bangsa ini tidak akan menjadi besar hanya karena kekayaan alam atau kemajuan teknologinya. Bangsa ini akan menjadi besar apabila rakyatnya memiliki hati yang benar, hidup dalam integritas, dan mau berkorban demi kebaikan bersama,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah memberikan warisan yang luar biasa melalui Pancasila. Tugas generasi sekarang adalah menjaga dan menghidupkan warisan tersebut dalam tindakan nyata.
Menjadikan Pancasila Sebagai Kesaksian Kebangsaan
Menjelang Hari Lahir Pancasila 2026, Pdt. Onwin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menjadikan Pancasila bukan sekadar simbol negara, tetapi sebagai gaya hidup kebangsaan.
Menurutnya, pengamalan Pancasila harus dimulai dari hal-hal sederhana seperti menghormati sesama, menjaga kerukunan, menolong yang lemah, menghindari ujaran kebencian, dan membangun semangat gotong royong.
“Indonesia adalah anugerah Tuhan yang harus kita rawat bersama. Jangan biarkan kebencian merusak apa yang telah dibangun dengan pengorbanan para pendiri bangsa. Mari menjadi pembawa damai, menjadi penabur kasih, dan menjadi penjaga persaudaraan bagi Indonesia,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Pdt. Onwin menyampaikan pesan rohani yang menguatkan seluruh anak bangsa.
“Ketika kasih menjadi dasar kehidupan, maka persatuan akan bertumbuh. Ketika kebenaran berjalan bersama keadilan, maka kedamaian akan lahir. Dan ketika kita menempatkan Tuhan di atas segala-galanya, Indonesia akan tetap berdiri kokoh sebagai bangsa yang diberkati, bermartabat, dan menjadi terang bagi dunia,” pungkasnya.
Jurnalis: Romo Kefas
Narasumber:
Pdt. Onwin Hetharie
Ketua PW PGLII Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, 30 Mei 2026.



