
Aswasdallat Kostrad Uji Standar Tempur Yonkes 2, Prajurit Medis Dituntut Siap Hadapi Situasi Operasi Nyata
Malang – Di medan operasi, prajurit kesehatan bukan hanya bertugas menyelamatkan korban, tetapi juga harus mampu bertahan, bergerak cepat, dan bekerja di bawah tekanan. Berangkat dari kebutuhan tersebut, Staf Operasi Kostrad melaksanakan Asistensi Pengawasan dan Pengendalian Latihan Pembinaan Satuan (Aswasdallat Binsat) di Yonkes 2/Divif 2 Kostrad, Malang, untuk mengukur kesiapan personel secara menyeluruh.
Kegiatan yang dipimpin Kolonel Inf Teguh Wardoyo, S.I.P., M.M. itu tidak sebatas mengevaluasi program latihan di atas kertas. Tim turun langsung ke lapangan untuk memastikan setiap materi pembinaan benar-benar membentuk prajurit kesehatan yang siap mendukung operasi TNI AD dalam berbagai kondisi.
Suasana latihan berubah menjadi lebih dinamis ketika Alarm Stelling dibunyikan tanpa pemberitahuan. Dalam waktu singkat, seluruh prajurit dituntut bergerak menuju titik kumpul dengan perlengkapan yang telah ditentukan. Simulasi ini menjadi indikator awal dalam mengukur kecepatan respons, disiplin, dan kesiapsiagaan personel menghadapi situasi darurat.
Usai evaluasi kesiapan awal, pemeriksaan berlanjut pada ransel protap Tipe A yang menjadi perlengkapan standar setiap prajurit. Kelengkapan isi ransel, kondisi peralatan, hingga kesiapan penggunaannya diperiksa secara rinci sebagai bagian dari standar operasional satuan.
Tim Aswasdallat kemudian melaksanakan pengujian kemampuan individu melalui sejumlah materi yang menjadi kompetensi dasar prajurit, antara lain navigasi darat, kesegaran jasmani, pertolongan darurat di lapangan (Longdarlap), serta menembak reaksi lanjutan. Pengujian dilakukan secara acak agar memberikan gambaran objektif mengenai kualitas pembinaan personel.
Komandan Yonkes 2 Kostrad, Letkol Ckm dr. David Marlynson Purba, M.Ked(Surg), Sp.B., M.Tr.Mil., turut mendampingi seluruh proses evaluasi. Menurutnya, setiap hasil pengawasan menjadi bahan penting untuk menyempurnakan sistem latihan sehingga kemampuan prajurit kesehatan terus berkembang mengikuti kebutuhan operasi modern.
Berbeda dengan tenaga medis pada umumnya, prajurit Yonkes memiliki tanggung jawab ganda. Mereka harus mampu memberikan tindakan medis secara cepat di medan operasi, sekaligus memiliki kemampuan keprajuritan yang memungkinkan mereka bertugas di berbagai kondisi, termasuk daerah dengan tingkat risiko tinggi.
Karena itu, pembinaan di Yonkes 2 tidak hanya berfokus pada kompetensi medis, tetapi juga pada pembentukan fisik, mental, disiplin, serta kemampuan bertahan hidup di lapangan. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi Kostrad dalam membangun prajurit yang adaptif terhadap perubahan karakter operasi militer.
Pelaksanaan Aswasdallat Binsat juga menjadi bukti bahwa proses pembinaan di lingkungan Kostrad berlangsung secara berkesinambungan melalui evaluasi yang objektif. Dengan demikian, setiap satuan memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan kualitas personel sesuai standar yang ditetapkan TNI AD.
Bagi Yonkes 2 Kostrad, kesiapan bukanlah sesuatu yang dibangun saat keadaan darurat datang, melainkan hasil dari latihan yang dilakukan tanpa henti. Di balik kemampuan menyelamatkan nyawa, terdapat disiplin, ketangguhan, dan semangat pantang menyerah yang terus ditempa. Sebab seorang prajurit kesehatan bukan hanya hadir untuk mengobati, tetapi juga siap berdiri di garis depan pengabdian ketika negara memanggil.
Jurnalis : Romo Kefas
Editor : Tim Redaksi



