
Tri Adhianto Turun Langsung Dengarkan Keluhan ASN, Presensi Digital Jadi Bahan Evaluasi
BEKASI – Ketika laporan ketidakhadiran ratusan aparatur sipil negara (ASN) dalam apel pagi mencuat di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi, respons yang muncul dari Wali Kota Bekasi Tri Adhianto tidak langsung berupa teguran ataupun instruksi pemberian sanksi. Sebaliknya, ia memilih bertemu langsung dengan para pegawai untuk mendengarkan penjelasan dari sumbernya.
Langkah tersebut dilakukan usai kegiatan olahraga bersama yang berlangsung di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Selasa (23/6/2026). Di hadapan para ASN, Tri membuka ruang komunikasi guna mengetahui berbagai persoalan yang menyebabkan banyak pegawai tidak tercatat hadir dalam sistem presensi mobile.
Bagi Tri, data administrasi memang penting sebagai alat ukur kedisiplinan. Namun, menurutnya, angka tidak selalu mampu menggambarkan situasi yang sebenarnya terjadi di lapangan. Karena itu, setiap temuan perlu diverifikasi sebelum dijadikan dasar pengambilan keputusan.
Dalam dialog tersebut, sejumlah pegawai menyampaikan berbagai kendala yang mereka alami. Ada yang mengaku mengalami gangguan saat mengakses aplikasi presensi, ada pula yang keliru dalam proses pengisian sehingga status kehadiran tidak tercatat sebagaimana mestinya. Sebagian lainnya diketahui sedang menjalankan tugas kedinasan atau menghadapi kondisi keluarga yang mendesak.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa tantangan birokrasi modern tidak hanya terletak pada peningkatan disiplin aparatur, tetapi juga pada kemampuan sistem digital untuk mengakomodasi berbagai kondisi kerja yang dinamis.
Tri menilai bahwa teknologi harus menjadi alat bantu yang mempermudah pekerjaan, bukan justru menimbulkan persoalan baru. Oleh karena itu, evaluasi terhadap sistem presensi dianggap sama pentingnya dengan evaluasi terhadap perilaku kedisiplinan pegawai.
Menurutnya, ASN tetap memiliki tanggung jawab untuk mematuhi aturan dan menjaga komitmen terhadap tugas pelayanan publik. Namun pemerintah juga memiliki kewajiban memastikan bahwa sistem yang digunakan berjalan secara adil, akurat, dan tidak merugikan pegawai yang sebenarnya telah menjalankan tugas dengan baik.
Apel pagi yang digelar setiap pekan, lanjut Tri, bukan sekadar rutinitas administratif. Kegiatan tersebut menjadi sarana membangun komunikasi, memperkuat koordinasi, dan menumbuhkan semangat kebersamaan dalam menjalankan roda pemerintahan.
Karena itu, ia berharap seluruh ASN semakin meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya disiplin kerja, sekaligus aktif melaporkan setiap kendala yang dihadapi agar dapat segera ditindaklanjuti oleh pimpinan.
Evaluasi yang dilakukan Pemkot Bekasi menjadi bagian dari upaya memperkuat reformasi birokrasi yang tengah berjalan. Tidak hanya berorientasi pada pengawasan, tetapi juga pada perbaikan sistem dan peningkatan kualitas hubungan antara pimpinan dengan aparatur.
Melalui pendekatan yang mengedepankan dialog dan klarifikasi, Pemerintah Kota Bekasi ingin memastikan bahwa setiap kebijakan kepegawaian didasarkan pada fakta yang utuh. Sebab birokrasi yang kuat tidak hanya dibangun melalui aturan yang tegas, tetapi juga melalui komunikasi yang sehat dan rasa saling percaya antara pimpinan dan pegawai.
Jurnalis: Romo Kefas



