Tantangan Pendidikan Karakter di Masa Pembelajaran Jarak Jauh

Spread the love
Abednego Tri Gumono, M.Pd

Pelitakota.Id | Pendidikan karakter dan budi pekerti  menjadi keniscayaan tujuan pendidikan kita di samping aspek iman , kecerdasan intelektual, serta keterampilan. Karakter dan budi pekerti merupakan aspek yang sangat utama dalam menunjang kehidupan manusia. Tanpa pertumbuhan karakter, peserta didik tidak akan tumbuh secara holistis. Karakter yang unggul akan mampu membawa peserta didik atau siapa pun dapat menjadi sumber daya yang diandalkan. Karakter yang unggul akan mampu mengantarkan seseorang pula kepada kinerja yang baik. Dengan itu pula berarti aspek karakter menjadi kata kunci dalam seluruh bidang kehidupan manusia. Seorang guru, pengajar, siswa, pemimpin, atau profesi yang lain, akan sangat memerlukan karakter unggul guna menunjang performansi dirinya.

Pada era kurikulum pendidikan di Indonesia yang terus mengalami perubahan guna menunjang proses pembelajaran yang maksimal, pendidikan karakter selalu menjadi segi yang menonjol dibahas dan diketengahkan di samping aspek kognitif dan psikomotorik. Kurikulum pun dirancang sedemikian rupa sehingga melalui proses pembelajaran, guru dapat memberikan porsi yang mencukupi untuk mengajarkan karakter dan budi pekerti.

Sedemikian tinggi tingkat urgensi pendidikan karakter dan budi pekerti bagi bangsa ini sehingga Presiden Jokowi ingin meletakkan dua aspek tersebut di dalam program kerjanya. Ini menandakan begitu pentingnya aspek karakter dan budi pekerti dalam menunjang perjalanan pendidikan anak dan perjalanan bangsa kita itu sendiri. Itu berarti pula bahwa karakter dan budi pekerti menjadi faktor utama dan menentukan bagi keberlangsungan bangsa ini. Kesungguhan presiden tersebut dapat kita lihat misalnya bahwa pembangunan karakter, budi pekerti dan etika akan menjadi fokus di pendidikan dasar dan menengah pada pemerintahan Joko Widodo-Ma’ruf Amin periode 2019-2024 (Kompas.com, 2 Agustus 2019). Pesan tentang perlunya segi karakter juga disampaikan kembali oleh Presiden Jokowi ketika memberikan pengarahan kepada siswa SMA Taruna Nusantara tahun 2019 di Istana Kepresidenan Bogor

( Republika.com 4 Maret 2019).

Pernyataan presiden tersebut menandai keprihatinannya terhadap sedemikian banyak peristiwa tawuran, pembulian, dan pelanggaran etika serta moral lainnya di kalangan pelajar. Oleh karena itu tidak mengherankan jika Presiden Joko Widodo telah  menegaskan dan mengingatkan agar pembentukan karakter dan budi pekerti menjadi pekerjaan rumah dalam dunia pendidikan (Pikiran Rakyat.com,6 Februari 2018).

Di tengah gencarnya upaya pemerintah menggelorakan dan berupaya berproses membangun karakter peserta didik, kini upaya itu mendapatkan tantangan terjal. Ini disebabkan oleh pandemik covid-19 yang belum  kunjung reda. Sungguh, pandemik yang telah berlangsung kurang lebih enam bulan ini telah berpengaruh serius pada seluruh aspek kehidupan, terutama juga terhadap dunia pendidikan. Proses pembelajaran yang semestinya berlangsung di dalam kelas (terjadi interaksi langsung pengajar dan peserta didik), kini bersamaan dengan berlakunya masa WFH, seluruh proses belajar mengajar harus dikerjakan secara online. Pembelajaran jarak jauh menjadi keniscayaan untuk dapat terus melangsungkan dunia pendidikan dari tingkat dasar, menengah, dan tinggi. Itu pula yang membuat program PJJ pernah diwacanakan akan dipermanenkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional.

Untuk membangun proses pembelajaran jarak jauh ini, seluruh komponen pendidikan bekerja keras membuat sistem pembelajaran dengan memanfaatkan  perangkat  lunak media sosial yang terus berkembang pesat. Di tengah situasi ini, perkembangan era digital dan media komunikasi menjadi berkah terbesar sebagai sarana melangsungkan proses pendidikan itu. Oleh karena itu, pihak penyelenggara pendidikan dengan getol memanfaatkan perangkat zoom meeting, moodle, dan perangkat penunjang lainnya sebagai perangkat utama.

Beberapa Tantangan

Penerapan pembelajaran jarak jauh memiliki tidak sedikit kendala seperti kendala jaringan. Kendala ini tentu akan berakibat kepada tidak murahnya biaya kuota internet. Kapasitas internet juga turut memengaruhi kualitas pemyampaian pesan. Di samping itu, ekspresi pengajar dan tujuan pembelajaran tentu tidak seoptimal ketika pengajar berada di ruag kelas dan bertatap muka langsung dengan peserta didik. Dalam belajar langsung, interaksi timbal balik secara langsung akan dapat mengekspresikan dirinya secara lebih utuh. Komukasi timbal balik yang utuh pun dapat semakin mengoptimalkan tujuan pembelajaran itu-tentu tidak demikian dengan belajar jarak jauh. Tantangan teknis lainnya adalah tidak sepenuhnya materi akan dapat dituntaskan. Hal ini karena kemungkinan ada hal-hal yang tidak berkembang secara alamiah dalam mengembangkan diskusi topik pembelajaran misalnya.

Tantangan Pendidikan Karakter

Dalam situasi pelik ini pertanyaan urgensial yang menjadi kewaspadaan, focus, dan tidak bisa diabaikan adalah jika  secara teknis dan materi pembelajaran dapat tercapai, bagaimana permasalahan segi pendidikan karakter itu. Bagaimana pengajar dapat turut serta dalam menekankan dan memberi porsi cukup bagi tempat pendidikan karakter dan budi pekerti memperoleh jaminan dapat dikerjakan dengan optimal.

Jalan Masuk Solusi Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti.

Satu hal yang harus kita sadari dan kita yakini adalah bahwa justru masa  WFH dan pembelajaran jarak jauh substansinya  merupakan suatu tes terhadap semua komponen untuk benar-benar memiliki komitmen kuat melaksanakan proses pembelajaran secara maksimal seperti pada saat kita mengajar dan belajar secara tatap muka. Melalui WFH kita harus bekerja dengan penuh komitmen serta integritas agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik. Di tengah proses belajar dan mengajar yang tidak dipantau atau diawasi oleh pihak institusi, pengajar dan pembelajar diharuskan tetap menjalankan fungsinya dengan baik.

Oleh karena itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bersama dalam upaya mewujudkan pendidikan karakter dan budi pekerti  antara lain , pertama jika sekolah atau insitusi pendidikan selama ini sudah memiliki program pendidikan karakter dan budi pekerti secara terpadu, terencana, dan dilaksanakan dengan konsisten, hal itu menjadi modal yang akan menyokong pembangunan karakter di tengah sistem belajar online ini. Kedua,  Orang tua perlu menjadi pengawas dan moderasi yang baik di rumah selama proses belajar. Orang tua dapat memberikan perhatian berupa alokasi waktu yang cukup untuk turut berperan serta dalam proses pembelajaran dalam fungsi turut mengawasi, memberikan dorongan moral, serta memberi perhatian kepada kebutuhan kuota jaringan (hal yang menjadi perhatian pemerintah dan penyelenggara Pendidikan).

Ketiga, para pengajar dan pembelajar dapat membangun komitmen bersama, membangun kontrak kerja yang jelas, jujur dan bertangung jawab.  Kesadaran atas hal ini harus menjadi kesepahaman dan kesepakatan bersama. Institusi pendidikan dapat memberikan pelatihan profesional cara pengembangan silabus dan rencana pengajaran, sehingga di samping akan membantu secara praktis, komponen penting seperti upaya pembangunan karakter dan budi pekerti dapat tercakup dalam rencana pembelajaran itu. Misalnya mengembangkan bentuk kegiatan belajar mandiri yang memungkinkan antar peserta didik dapat saling memantau dan mengawasi. Ketika peserta didik sedang belajar atau mengerjakan tugas dalam kelompok,mereka dapat  saling memberikan feedback atas tugas-tugas belajar mandiri. Hal ini  dapat membantu pengajar dalam mengontrol aktivitas belajar bahkan dapat mengontrol bagaimana tanggung jawab dan komitmen terhadap tugas dapat berjalan dengan konsisten. Ketua kelompok dan anggotanya dapat menjadi pengontrol bagi teman-teman dalam hal tingkat partisipasinya, dengan memberikan laporan kepada para pengajar secara berkala.

Keempat, membangun relasi positif melalui komunikasi. Dalam proses PJJ, para pengajar dapat memanfaatkan media untuk melakukan bentuk komunikasi positif yang dapat memotivasi pembelajar. Kata-kata yang dibangun diarahkan pada bentuk kalimat-kalimat atau pernyataan yang tidak memberi kesan membebani, bernada marah, cuek, atau ketus. Sebaliknya, komunikasi dapat dilakukan dengan bahasa yang lebih halus atau memotivasi sehingga tingkat stress pun berkurang, bahkan dapat meningkatkan motivasi dan kegembiraan di tengah tekanan pandemi ini. Pada akhirnya belajar yang bermakna dan menyenangkan pun dapat tercipta.

Dengan cara itu, bentuk-bentuk tanggung jawab, kerja sama, sportivitas, kejujuran, konsistensi dapat dilatihkan kepada para peserta didik. Kesepakatan-kesepakatan antara pengajar dengan pembelajar, dan antarpembelajar itu sendiri, dan antara institusi dengan orang tua, perlu dibangun agar proses pendidikan seutuhnya yang terus diupayakan dapat berjalan seperti harapan kita.

Dengan demikian pula, sekali lagi dapat ditegaskan di sini bahwa, pendidikan karakter dan budi pekerti dapat dilakukan dalam masa online learning dengan memerhatikan peran innstitusi dalam menyelenggarakan sarana prasarana, para pengajar dalam merancang program pembelajaran, bentuk komunikasi positif, serta peran orang tua dalam mengawasi, membimbing, dan memberi perhatian kepada anak-anak.

Pada akhirnya, melalui WFH, melalui proses belajar mengajar secara online, kita sedang diuji kadar komitmen dan integritas untuk memberi yang terbaik dalam tugas pelayanan kita secara jujur dan bertanggung jawab, dan terutama kepada Tuhan yang tidak terbatas itu.

Penulis : Abednego Tri Gumono, M.Pd. ( adalah Dosen  pada Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas Pelita Harapan, Karawaci-Tangerang)

One Reply to “Tantangan Pendidikan Karakter di Masa Pembelajaran Jarak Jauh”

Tinggalkan Balasan