Perkembangan Seksual – Ulasan Singkat Biblical dan Science

Spread the love

Pelitakota.Id | Sejak semula Allah telah menetapkan manusia dalam rancangan kekekalanNya untuk menyelesaikan tujuanNya, yaitu membawa budaya Kerajaan Allah di bumi seperti di Surga. Untuk maksud yang mulia itu, Allah sendiri setidaknya memberikan identitas kepada manusia ciptaanNya, yang terangkum dalam Firman Tuhan di Kejadian 1:26-28.

“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

Ada tiga identitas yang Tuhan berikan kepada manusia jika kita merujuk pada Firman Tuhan di atas, yaitu : 1

a. Identitas dasar sebagai IMAGO DEI – manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah.

b. Identitas seksual normal, yaitu sebagai laki–laki dan perempuan.

c. Orientasi seksual normal, yaitu ketertarikan terhadap lawan jenis (heteroseksual). Orientasi seksual sangat terkait erat dengan identitas seksual.

Ketiga identitas ini membentuk budaya manusia yang benar, atau dapat pula kita pahami sebagai amanat kebudayaan manusia. Oleh karena itu, penyimpangan atau pelanggaran di area ini, seperti fenomena homoseksual (lesbian dan gay), biseksual, transgender (LGBT)–sama artinya dengan merusak identitas manusia, menghancurkan pola budaya manusia yang benar, serta memposisikan diri sebagai musuh Allah.

Sebagai orang percaya, kita tidak boleh meragukan sedikitpun bahwa Firman Tuhan yang tertulis dalam Alkitab adalah kebenaran tertinggi dan tidak pernah salah! All truth is God’s truth. Pernyataan ini sejalan dengan pernyataan Augustine dalam On Christian doctrine : “…wherever truth may be found, it belongs to his Master.” John Calvin juga menyatakan bahwa “All truth is from God.” Science yang benar pasti sejalan dengan kebenaran Firman Tuhan, bahkan science tunduk pada kebenaran Firman Allah. Dasar inilah yang menjadi alasan saya untuk menulis kepada segenap pembaca agar setiap kita memperoleh pengetahuan science tentang keajaiban penciptaan kita sebagai laki–laki maupun perempuan sejak dalam kandungan ibu.1

Seks merupakan bagian dari kemanusiaan kita yang sangat esensial. Dalam Medical Dictionary, seks adalah the structural and functional characteristics of a person or organism that allow assignment as either male or female; sex is determined by chromosomes, hormones and external and internal genitalia (gonads). Jadi, science sejalan dengan Alkitab, memberikan batasan yang jelas bahwa hanya ada dua jenis kelamin (seks), yaitu laki-laki dan perempuan. Lebih jauh lagi science menyatakan, kedua jenis kelamin ditentukan oleh kromosom, hormon dan organ kelamin eksternal dan internalnya. Inilah yang membentuk perbedaan karakteristik laki–laki dan perempuan, baik secara struktural (anatomi) maupun fungsinya (biologis dan sosial).

Jenis kelamin ditentukan sejak terjadinya fertilisasi (meleburnya sperma dan sel telur) dan perkembangannya sepenuhnya adalah pekerjaan tangan Tuhan–artinya meskipun sudah ada usaha atau teknologi yang dapat membantu suami-istri untuk menentukan jenis kelamin anaknya, namun kecanggihan teknologi tersebut tidak dapat menentukan kelangsungan perkembangan embrio. Tepat seperti yang dinyatakan Daud dalam Mazmur 139:13-16.

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.”

Studi–studi molekuler telah menunjukkan setidaknya ada tiga faktor yang mempengaruhi perkembangan seksual manusia sejak dari dalam kandungan, yaitu kromosom, gen dan hormon.

a. Kromosom

Kromosom merupakan struktur dalam sel yang disusun oleh berbagai informasi genetik suatu individu. Setiap sel manusia normal terdiri dari 23 pasang kromosom, yang dibedakan menjadi 22 pasang autosom dan 1 pasang kromosom seks. Setiap individu laki–laki memiliki pasangan kromosom seks XY dan individu perempuan memiliki pasangan kromosom seks XX.

Sel sperma ada yang membawa kromosom Y atau kromosom X; sedangkan sel telur (oosit) hanya membawa kromosom X. Pada saat terjadi fertilisasi, jika sel sperma yang membawa kromosom Y melebur dengan oosit, maka embrio yang terbentuk telah membawa potensi gonad XY (jenis kelamin laki–laki). Jika sel sperma yang membawa kromosom X melebur dengan oosit, maka embrio yang terbentuk membawa potensi gonad XX (jenis kelamin perempuan). Meskipun sejak fertilisasi telah ditentukan jenis kelamin embrio, namun struktur jelas dari organ genital embrio masih belum terbentuk, yang dikenal dengan stadium indiferen atau bipotential gonad. Proses ini terjadi pada usia embrio 5-6 minggu, ketika embrio masih berukuran ± 5-12 mm.

Gangguan yang terjadi selama proses ini akan menyebabkan kelainan kongenital, seperti sindrom turner (bayi perempuan hanya memiliki kromosom X; 45,X) atau sindrom klinifelter (bayi laki-laki kelebihan kromosom X; 47,XXY dan variasi lainnya).

b. Gen

Gen adalah urutan DNA yang diwariskan–mengandung seluruh informasi mengenai sifat unik individu. Pada sekitar minggu ke-7 sampai ke-8 kehamilan, bipotential gonad pada embrio telah berdiferensiasi, sehingga struktur gonad mulai terlihat jelas. Proses ini sangat bergantung pada kerja dari gen SRY (Sex Region Y) yang terdapat pada kromosom Y.

Laki–laki : Gen SRY akan mendegenerasi (menghilangkan) mullerian duct yang merupakan bakal uterus, tuba falopi dan 2/3 vagina pada perempuan; sehingga bipotential gonad berkembang menjadi testis. Dalam perkembangannya, gen SOX-9 akan membantu testis berkembang, sehingga memiliki sel leydig dan sel sertoli. Perempuan : ketiadaan gen SRY mendorong kerja gen, seperti DAX-1, WNT-4, FOXL2, dsb untuk mengarahkan bipotential gonad berkembang menjadi ovarium serta mendegenerasi wolfian duct yang merupakan bakal vas deferens, epididimis dan vesikula seminalis pada laki–laki.

Gangguan yang terjadi selama proses ini menyebabkan tidak terbentuknya atau ketidaksempurnaan struktur dan fungsi gonad, baik testis maupun ovarium, seperti mixed gonadal dysgenesis, ovotesticular DSD, dsb.

c. Hormon

Hormon merupakan salah satu pembawa pesan kimia yang ada di dalam tubuh. Begitu testis atau ovarium telah terbentuk pada perkembangan janin, maka perkembangan seks sepenuhnya bergantung pada hormon yang dikeluarkan oleh masing–masing gonad.

Laki–laki : sel sertoli pada testis akan mengeluarkan hormon AMH (anti-mullerian hormone), sehingga mullerian duct menghilang dan memastikan bahwa wolfian duct yang berkembang. Sel leydig pada testis akan mengeluarkan hormon testosteron, yang diaktivasi oleh enzim 5α-reduktase menjadi DHT (dehidrotestosteron). Kedua jenis hormon tersebut merangsang wolfian duct dan struktur anatomi genital berkembang menjadi organ interna dan eksterna laki–laki (penis, prostat, skrotum). Proses ini terjadi pada usia embrio sekitar 9-18 minggu. Perempuan : ovarium menghasilkan estrogen, dan tidak ada hormon testosteron yang dihasilkan. Akibatnya, mullerian duct dan struktur anatomi lainnya akan terus berkembang menjadi organ genital interna dan eksterna pada perempuan (labia minora, labia mayora, klitoris, 1/3 vagina bagian bawah).

Gangguan pada proses ini akan mengakibatkan kelainan yang berdampak tidak hanya pada pembentukan organ kelamin, namun dapat memengaruhi organ vital lainnya, seperti kondisi Congenital Adrenal Hyperplasia (CAH) yang dapat menyebabkan kematian pada bayi perempuan baru lahir.

Gambaran perkembangan seks manusia yang rumit sejak dari dalam kandungan yang telah kita lihat melalui kacamata ilmu pengetahuan, semakin membuktikan bahwa Tuhan hanya menciptakan dua jenis kelamin sedari awal dengan orientasi heteroseksual, sehingga fungsi seksual–reproduksi dapat berlangsung sebagaimana seharusnya. Allah bahkan memberikan regulasi yang tegas untuk mencegah berbagai penyimpangan perilaku seksual, seperti tertulis dalam Imamat 18:22 “Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.”1

Penulis : Friska A. Zai, S.K.M (Mahasiswa Program Magister Ilmu Biomedik Fak.Kedokteran UI dan Tim Pengembang Pendidikan di Sekolah Tunas Pertiwi Bogor)

Daftar Pustaka :

  1. Wijaya, Andik. (2018). Biblicomedic Perspective On LGBTIQ. A Biblical and Medical Review of Sex, Gender, and Sexuality. Surabaya : YADA Institute.
  2. Ostrer, H. (2014). Disorders of sex development (DSDs): an update. The Journal of clinical endocrinology and metabolism, 99 5, 1503-9)

Leave a Reply