ROMA,03 JANUARI 2026 – Sebuah gestur penuh makna dari Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menggema di tengah keributan konflik global yang kerap berlatar agama. Saat ia mencium kepala dan tangan Paus serta menyalakan Lilin Perdamaian di Vatikan pada 28 Oktober lalu, momen itu bukan sekadar seremoni – melainkan pesan spiritual yang mengajak dunia merenung.
Acara yang memperingati 60 tahun Dokumen Konsili Vatikan II Nostra Aetate diselenggarakan komunitas awam Sant’Egidio dan dihadiri Paus Leo XIV serta tokoh lintas agama dari berbagai penjuru dunia. Menag RI menjadi salah satu tamu kehormatan yang dipercaya untuk menyalakan lilin simbol dialog dan rekonsiliasi.
“Di saat agama sering jadi alat untuk mengeras dan memecah belah, Menag RI justru tunjukkan wajah iman yang lembut dan rendah hati,” ujar aktivis Gereja Katolik sekaligus pemerhati dialog lintas iman, Dar Edi Yoga, Sabtu (3/1).
Menurutnya, tindakan mencium kepala adalah simbol penghormatan terhadap kebijaksanaan, sedangkan mencium tangan adalah pengakuan atas pelayanan. “Ini bukan soal hierarki atau politik. Ini ekspresi teologis yang dalam – bahwa pemimpin agama adalah pelayan kemanusiaan,” jelasnya.
Lilin yang dinyalakan juga membawa pesan universal. Cahaya, katanya, menjadi simbol kehadiran Tuhan dalam hampir semua tradisi agama. “Api kecil itu adalah doa yang melawan kegelapan kebencian dan kekerasan. Dunia tidak kekurangan khotbah, tapi kekurangan teladan – dan ini adalah teladan yang berharga,” tegas Dar Edi Yoga.
Kehadiran Indonesia di forum internasional tersebut juga menjadi bukti bahwa keberagaman bukan ancaman. “Indonesia tunjukkan bahwa dialog bukan kelemahan, dan iman tidak lahir untuk memisahkan, melainkan menyatukan,” ujarnya.
Di tengah konflik global yang terus meningkat, momen di Roma itu jadi pengingat bahwa Tuhan tidak membutuhkan pembelaan dengan kemarahan. “Iman sejati diukur dari seberapa dalam kita mencintai sesama. Lilin kecil itu mengingatkan dunia: cahaya Tuhan selalu cukup, asal kita mau merendahkan hati untuk menjaganya,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicken Highlanders
Editor: Romo Kefas


