
Ketua PGLII Kota Bandung: Hari Kebangkitan Nasional Harus Menjadi Momentum Memulihkan Jiwa Bangsa
Bandung, 19 Mei 2026 — Menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026, Ketua PGLII Kota Bandung, Pdt. Mulianto Halim, M.Th., mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak hanya mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga membangkitkan kembali nilai kemanusiaan, persatuan, dan kehidupan spiritual di tengah tantangan zaman modern.
Tokoh gereja yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum Sinode GKKI serta Gembala Pembina GKKI COCCC Bandung Textile Center tersebut menyampaikan pandangannya saat diwawancarai tim media pada Selasa malam (19/5/2026) di kawasan Jalan Kebon Jati No. 44–88, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung.
Dalam wawancara yang berlangsung penuh suasana refleksi kebangsaan itu, Pdt. Mulianto Halim menilai bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang bukan hanya bersifat ekonomi dan sosial, tetapi juga krisis moral, menurunnya kepedulian sosial, dan melemahnya semangat persaudaraan.
Menurutnya, kemajuan teknologi dan derasnya arus digital tidak boleh membuat manusia kehilangan hati nurani dan rasa kemanusiaan.
“Bangsa ini jangan hanya maju secara teknologi, tetapi juga harus kuat secara moral, spiritual, dan rasa persaudaraan,” ujarnya kepada tim media.
Ia mengatakan bahwa Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi momentum untuk membangkitkan kembali kesadaran masyarakat agar hidup saling menghargai, menjaga persatuan, dan membangun kehidupan yang penuh kasih terhadap sesama.
Menurutnya, bangsa yang besar bukan hanya dibangun dengan kekuatan ekonomi, tetapi juga dengan kualitas karakter manusia di dalamnya.
“Kalau hati manusia mulai kehilangan kasih dan kepedulian, maka bangsa akan kehilangan jiwanya,” tegasnya.
Sebagai Ketua PGLII Kota Bandung dan pemimpin gereja, Pdt. Mulianto Halim menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat membawa damai sejahtera, pengharapan, dan nilai-nilai kebenaran.
Ia menilai gereja tidak boleh hanya sibuk dengan kegiatan internal dan rutinitas organisasi, tetapi harus menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai pergumulan hidup.
“Gereja dipanggil bukan hanya untuk berbicara tentang iman, tetapi menghadirkan kasih Tuhan secara nyata melalui tindakan dan pelayanan,” katanya.
Dalam pemahaman teologi Kristen, ia menjelaskan bahwa kebangkitan sejati dimulai dari perubahan hidup manusia di hadapan Tuhan.
Menurutnya, kebangkitan nasional akan memiliki makna yang kuat apabila manusia-manusia di dalamnya kembali hidup dalam kejujuran, kasih, dan takut akan Tuhan.
“Kebangkitan bangsa dimulai ketika hati manusia dibangkitkan untuk kembali hidup dalam kebenaran,” ungkapnya.
Pdt. Mulianto Halim juga menyoroti kondisi generasi muda yang menurutnya sedang menghadapi tantangan besar akibat pengaruh budaya instan, media sosial, dan lunturnya keteladanan moral.
Karena itu, ia mengajak keluarga, gereja, dan dunia pendidikan untuk bersama-sama membangun generasi muda yang memiliki karakter kuat, integritas, dan kehidupan rohani yang sehat.
“Generasi muda jangan kehilangan identitas dan arah hidupnya. Mereka harus menjadi generasi yang membawa harapan bagi bangsa,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman Indonesia.
Menurutnya, semangat Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bahwa Indonesia berdiri karena adanya semangat gotong royong, persaudaraan, dan perjuangan bersama.
“Perbedaan jangan menjadi sumber perpecahan. Justru keberagaman adalah kekuatan yang harus dijaga bersama,” katanya.
Di akhir wawancara, Pdt. Mulianto Halim mengajak seluruh masyarakat Indonesia menjadikan Hari Kebangkitan Nasional 2026 sebagai momentum untuk memperbaiki diri, membangun kembali kepedulian sosial, dan memperkuat persatuan bangsa.
“Bangsa yang besar lahir dari manusia-manusia yang hidup dalam kasih, persaudaraan, dan takut akan Tuhan,” pungkasnya.
(Jurnalis: Tim)



