
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Menggelar Simposium Nasional dan Orasi Kebangsaan Dalam Rangka Memperingati 99 Tahun Partai Nasional Indonesia
Jakarta –
Pelitakota.id
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Jakarta Raya menggelar Simposium Nasional dan Orasi Kebangsaan dalam rangka memperingati 99 Tahun Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan mengusung tema “Refleksi Historis dan Meneguhkan Marhaenisme untuk Kedaulatan Rakyat” di Jakarta, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan ini menjadi forum refleksi sekaligus penguatan nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika nasional.
Ketua DPD PA GMNI Jakarta Raya dalam sambutannya menegaskan bahwa pelantikan kepengurusan bukanlah akhir dari sebuah proses organisasi, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk terus mengabdi kepada rakyat, bangsa, dan negara.

Menurutnya, organisasi harus mampu menjawab tantangan zaman yang terus berkembang dengan menghadirkan gagasan dan kerja nyata yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“Teruslah bergerak, teruslah berjuang, dan teruslah mengabdi untuk rakyat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dipilihnya tema Simposium Nasional merupakan upaya merefleksikan kembali pemikiran Bung Karno yang melahirkan Marhaenisme sebagai ideologi perjuangan yang tetap relevan dalam menjawab berbagai persoalan bangsa sa’at ini.
Dalam kesempatan tersebut, DPD PA GMNI Jakarta Raya turut menyampaikan sejumlah gagasan strategis bagi pembangunan Jakarta, di antaranya pembangunan rumah susun terintegrasi dengan kawasan pasar, penanganan banjir secara berkelanjutan, penyediaan ruang terbuka hijau, penyelesaian persoalan pertanahan, hingga mendorong penguatan kembali posisi Jakarta sebagai pusat politik nasional.
Sementara itu, Ketua Umum DPP PA GMNI Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.H., dalam Orasi Kebangsaannya menegaskan bahwa Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 harus tetap menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut menilai nilai-nilai Marhaenisme bukan sekadar warisan sejarah, tetapi merupakan pandangan hidup yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan, mewujudkan keadilan sosial, membangun kemandirian ekonomi nasional, serta menjaga kedaulatan bangsa di tengah tantangan global.
“Perjuangan mewujudkan keadilan sosial, kesejahteraan rakyat, dan demokrasi konstitusional merupakan amanat ideologi sekaligus amanat konstitusi yang wajib diwujudkan oleh seluruh anak bangsa,” ujar Arief.
Arief juga mengajak seluruh alumni GMNI untuk terus menjadi kekuatan moral dan intelektual bangsa melalui penguatan pendidikan kebangsaan, pengembangan ilmu pengetahuan, penegakan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, serta menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu menjawab tantangan Indonesia ke depan.
Ia menegaskan bahwa sejarah tidak boleh hanya dikenang sebagai romantisme masa lalu, melainkan harus menjadi inspirasi untuk membangun Indonesia yang semakin berdaulat, adil, demokratis, dan sejahtera.
Simposium Nasional tersebut dihadiri akademisi, tokoh nasional, politisi, mahasiswa, serta kader dan alumni GMNI dari berbagai daerah. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan gagasan-gagasan strategis sebagai kontribusi nyata bagi penguatan demokrasi, konstitusi, dan pembangunan nasional menuju Indonesia yang berkeadilan sosial.
Jurnalis Lianna



