
Dr. Syeikh Syarif Hamdani Alkaf : Majelis Ilmullah Mahabbatul Wujud Gelar Maulid Nabi 1448 H” KH. Bahrul Ilmi Sampaikan Ceramah Agama
Banjarmasin — Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah, Majelis Ilmullah Mahabbatul Wujud Annubuwwah Alkaf menggelar kegiatan keagamaan pada Sabtu, 22 Agustus 2026, malam Ahad setelah salat Magrib.
Kegiatan tersebut dihadiri jamaah dan berlangsung dengan penuh khidmat dimana acara diisi dengan pembacaan Maulid oleh Simtudduror (Maulid Habsyi) serta ceramah agama yang disampaikan oleh KH. Bahrul Ilmi.

Adapun kegiatan Maulid Nabi tersebut digelar bertempat di Majelis Ilmullah Mahabbatul Wujud Annubuwwah Alkaf, yang diasuh oleh” Dr. Syeikh Syarif Hamdani Alkaf, S.H.,M.H.,Ph.D.
Pada kesempatan ini KH.Bahrul Ilmi menyampaikan” Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H ini diharapkan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kecintaan kepada Rasulullah, memperdalam keimanan serta mengamalkan nilai-nilai akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini jamaah diharapkan dapat mengambil hikmah dari perjalanan Rasulullah SAW sekaligus mengimplementasikan pesan-pesan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan beragama.
Selain rangkaian pembacaan Maulid dan ceramah agama, Dr. Syeikh Syarif Hamdani Alkaf juga menyampaikan pesan mutiara dan nasihat kepada para jamaah dari Majelis Ilmullah Mahabbatul Wujud Annubuwwah Alkaf, Majelis Ma’rifatullah Arrasyid Abadan Abada serta Majelis Ma’rifatullah Nur Nun Wal Qolami Wama Yasturun.
Dalam nasihatnya Dr. Syarif mengajak jamaah untuk memahami makna “fana”, yakni mematikan keakuan dan tidak menjadikan diri sebagai pusat dari segala sesuatu“ Karena kita berkumpul bukan untuk tambah ilmu di kepala tapi untuk mati sebelum mati.
Menurutnya, perjalanan spiritual bukan sekadar memperbanyak pengetahuan, tetapi bagaimana ilmu tersebut mampu membentuk kerendahan hati, menghilangkan kesombongan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dr. Syarif juga memberikan perumpamaan mengenai orang yang telah mencapai pemahaman ma’rifat, orang ma’rifat itu seperti garam di air, dia ada tapi tidak terlihat dan dia berasa tapi tidak mengakui” ujarnya.
Pesan tersebut mengandung makna bahwa seseorang yang memiliki kedalaman spiritual tidak selalu berusaha menonjolkan dirinya, sebab keberadaannya selalu memberikan manfaat namun ia tidak merasa perlu mengklaim kelebihan tersebut sebagai miliknya.
Lebih lanjut Dr. Syarif Hamdani Alkaf mengatakan” Pesan yang kami sampaikan untuk jamaah, selain itu juga dinasihati agar tidak mudah terlena ketika mendapatkan pujian maupun terpancing emosi ketika mendapatkan hinaan“ Kalau dipuji jangan bangga dan kalau dihina jangan marah, karena yang dipuji bukan kamu juga yang dihina juga bukan kamu, sebab semua itu Nur Allah yang lewat” Ucapnya.
Nasihat tersebut menjadi pengingat bagi jamaah agar senantiasa menjaga hati, tidak terjebak pada pujian manusia serta tidak mudah tersulut oleh perkataan yang merendahkan” Tutupnya.(*)



