PESAN JUMAT AGUNG (GOOD FRIDAY)

Spread the love

Pelitakota.id Setelah Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, maka hubungan yang harmonis itu menjadi rusak. Sistem korban pertama kali diajarkan Tuhan kepada Adam dan Hawa di taman Eden “Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kej. 3:21).

Pesan dari sistem korban seperti yang dikehendaki Allah, dilakukan tepat oleh Habel yakni persembahan yang ada DARAH. Hal ini bukan karena Habel (הֶ֨בֶל), yang berarti sia-sia adalah seorang peternak tapi ia melakukan dengan iman tepat seperti korban Golgota “Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati” (Ibr. 11:4).

Sistem korban penghapusan dosa ini dilakukan berulang-ulang oleh umat Allah, namun mereka tidak memahaminya, hingga puncaknya mereka menyalibkan Dia di atas Kalvari sebagai korban yang sempurna. Jika binatang yang dikorbankan dapat menyelamatkan manusia maka betapa rendahnya martabat dan nilai manusia karena disejajarkan dengan binatang. Jika korban binatang dapat menyelamatkan maka kelak di Sorga mereka yang selamat harus berterima kasih kepada binatang yang dikorbankan. Kesempurnaan korban keselamatan itu telah digenapi Kristus tatkala Dia berseru: tetelestai/Τετέλεσται (it is finished). Sebab setiap imam besar, yang dipilih dari antara manusia, ditetapkan bagi manusia dalam hubungan mereka dengan Allah, supaya ia mempersembahkan persembahan dan korban karena dosa. Ia harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan, yang mengharuskannya untuk mempersembahkan korban karena dosa, bukan saja bagi umat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. Dan tidak seorangpun yang mengambil kehormatan itu bagi dirinya sendiri, tetapi dipanggil untuk itu oleh Allah, seperti yang telah terjadi dengan Harun. Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”, sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek. Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri.  Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya. Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya. Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa. Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: “Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Apa yang telah selesai?

  • Berakhirnya sistem korban (Ibr. 5:1-10, 10:1-18). Mulai dari zaman Adam hingga Kristus, sistem penghapusan dosa melalui domba, namun berkhir semuanya tatkala korban yang sejati mati di kayu salib (Ibr. 10:1-18).
  • Berakhirnya sistem ibadah simbolik (Yoh. 4:23-24). Kematian adalah tujuan inkarnasi. Permusuhan antara Allah dan manusia telah diperdamaikan di salib. Salib adalah kunci keselamatan bagi umat manusia. Melalui salib, pintu Neraka ditutup dan pintu Sorga dibukakan. Ia tergantung antara langit dan bumi, seolah-olah sorga dan bumi menolak Dia. Allah meremukkan dan memalingkan wajah-Nya; dunia berteriak “Salibkan Dia, salibkan Dia”. Melalui kematian Kristus, ibadah simbolik yang menekankan kesalehan lahiriah diganti dengan sistem menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23-24).
  • Jalan ke Sorga telah rata (KPR 4:12, Yoh. 3:16, 14:6). Tidak ada keselamatan selain iman Golgota yakni kepada Kristus yang tersalib menebus dosa umat manusia. Bukit tengkorak atau bukit penuh kejahatan; kini diganti dengan bukit kasih melalui pendamaian Kristus di atas Kalvari. Hanya melalui saliblah manusia kembali menemukan jalan ke Sorga. Amal, kebajikan dan perbuatan baik tidak menyelamatkan, hanya iman Golgota yang dapat menyelamatkan.

Dengan demkian, maka pesan (massage) Jumat Agung (Good Friday) adalah:

  1. Jangan sekali-kali menukar darah dan pengorbanan Kristus yang mulia dan mahal itu dengan sesuatu yang sia-sia.
  2. Sejarah mencatat bahwa berjuta-juta orang menghina nama Yesus, namun berjuta-juta orang pun rela mati demi nama yang berkuasa dan menyelamatkan itu.
  3. Belum ada seorang nabi, rasul, raja, filsuf dan penguasa dunia yang mengklaim dirinya Juruselamat tetapi hanya Yesus Kristus, orang Nazaretlah yang memberi jaminan bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup serta Juruselamat, pemilik Sorga (Yoh. 3:13, 14:6).
  4. Kesamaan Sorga dan Neraka adalah bersifat abadi. Orang yang ada di Sorga akan tinggal kekal selamanya dan mereka yang di Nereka pun akan tinggal kekal selamanya. Keputusan untuk menerima atau menolak Juruselamat, Sang Pemilik Sorga menentukan seseorang berada di Sorga atau Neraka.
  5. Jangan ikut Yesus hanya saat senang, sukses atau diberkati tetapi iringlah Yesus seperti saat Dia tertati-tati dan terhuyung-huyung dengan tubuh penuh cambukan memikul salib menuju Golgota demi keselamatan umat manusia.

Tatalah diri secara apik dan bijaksana serta hidup bertekun dalam iman Golgota hingga menutup mata. Kejarlah yang abadi dan kerjakanlah segala sesuatu bernilai kekal. Jangan mati-matian mencari sesuatu yang tidak dibawa mati tapi kerjakanlah segala sesuatu sebagai respons atas anugerah keselamatan yang telah diterima secara cuma-cuma. Mazal Ubrakha.

Penulis : Pieter Otta

Leave a Reply