KEBERSAMAAN DALAM PERBEDAAN

Spread the love

Pelitakota.Id PERAYAAN Idul Fitri 1442 Hijriah bertepatan dengan peringatan Kenaikan Isa Almasih 2021 Masehi. Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, peristiwa serupa sebelumnya terjadi pada 1772. Kejadian serupa berulang 200 tahun kemudian, yakni pada 2248.

Berbarengannya Peringatan Hari besar dua agama berbeda itu sekadar kebetulan penanggalan belaka bila kita tak bisa menarik makna darinya. Betapapun simbolisnya perayaan Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih secara berbarengan itu, kita selayaknya bisa memetik makna di baliknya.

Kita disuguhkan sejumlah simbol yang menggambarkan perayaan Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih yang berbarengan itu.

Simbol-simbol itu tentu punya makna. Makna itulah yang semestinya kita tarik dari mereka.

Diantaranya berbagai gambar, yang paling viral kiranya gambar muslimah berjilbab dan biarawati Katolik yang juga berjilbab.

Di lengan muslimah melingkar tasbih dan dilengan biarawati melingkar Rosario. Keduanya saling mengucapkan selamat.

Muslimah mengucapkan selamat merayakan Kenaikan Isa Almasih. Biarawati mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri.

Jilbab dan tasbih atau Rosario merupakan simbol persamaan kedua agama. Jilbab dan tasbih atau Rosario merupakan simbol bahwa Islam dan Kristianitas berasal dari dan menuju ke sumber sama dan satu. Meminjam pemikiran Filsuf ‘Frithjof Schuon’, semua Wahyu Ilahi, terlepas dari perbedaannya, memiliki esensi sama, yakni Kebenaran yang satu dan sama. Memakai jalan pikiran Schoun, tentu saja bukan cuma Islam dan Kristianitas, melainkan semua agama, berasal dari dan menuju ke sumber yang satu dan sama.

Gambar muslimah dan biarawati itu juga merupakan simbol yang mengajak kita mencari persamaan dalam perbedaan, bukan memperlebar perbedaan itu sendiri. Dalam hal ini, kita diajak mencoba menggali persamaan Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih.

Idul Fitri bermakna : kembali ke Fitrah karena segala dosa diampuni setelah menjalankan Ibadah puasa selama sebulan suntuk. Orang-orang yang kembali Fitrah, suci, bersih, diyakini masuk atau naik ke surga. Oleh karena itu, umat Islam bersukacita merayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan.

Kenaikan Isa Almasih dipercaya sebagai momen Yesus Kristus naik ke surga disaksikan murid-muridnya. Pesan yang terkandung di dalamnya ialah mereka yang beriman tidak perlu takut, tetapi semestinya bersuka cita karena Yesus Kristus senantiasa menyertai mereka untuk menyelamatkan mereka kelak.

Ada sekurang-kurangnya dua persamaan dalam Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih.

Pertama, keduanya merupakan momen orang-orang beriman masuk surga. Kedua, kedua hari besar dua agama itu menjadi momen untuk bersuka cita.

Muslimah dan biarawati yang saling mengucapkan selamat merupakan simbol toleransi. Salah satu wujud toleransi ialah saling mengucapkan selamat memperingati hari besar agama-agama. Ucapan selamat sesungguhnya doa dan doa ialah kebaikan.

Agama menyuruh kita berbuat baik kepada sesama manusia. Itu artinya mengucapkan selamat hari raya sebagai bentuk doa dan perbuatan baik merupakan wujud pelaksanaan ajaran agama.

Banyak Muslim mengucapkan selamat merayakan Kenaikan Isa Almasih kepada umat Kristen melalui media sosial. Banyak pula penganut Kristen menghaturkan selamat merayakan Idul Fitri kepada kaum muslimin melalui media sosial. Tidak sedikit pula, baik muslim maupun penganut Kristen mengunggah gambar muslimah dan biarawati tersebut sebagai simbol mereka mengucapkan selamat Idul Fitri sekaligus Selamat merayakan Kenaikan Isa Almasih.

Itu semua mudah-mudahan pertanda makin tolerannya kita. Semoga itu juga pertanda toleransi di negara kita yang memiliki keragaman agama, suku, dan ras, makin kukuh.

Selamat merayakan Idul Fitri, selamat memperingati Kenaikan Isa Almasih, selamat merayakan keberagaman. Selamat menggali ‘kebersamaan dalam perbedaan’.

P. Sirait.

Leave a Reply