
Pasca Rakerda, Ketua PD PGLII Kota Bandung Tegaskan Gereja Harus Hadir Menjawab Kebutuhan Zaman
Bandung, 18 Mei 2026 — Berakhirnya Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bandung Periode 2025–2029 tidak hanya meninggalkan rangkaian sidang dan keputusan organisasi, tetapi juga menghadirkan pesan kuat tentang arah pelayanan gereja di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Dalam wawancara bersama tim media usai penutupan Rakerda di GKKI COCCC Bandung Textile Center, Jalan Kebon Jati No. 44–88, Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Ketua PD PGLII Kota Bandung, Pdt. Mulianto Halim, M.Th., menegaskan bahwa gereja tidak boleh hanya sibuk membangun internal organisasi, tetapi harus mampu hadir menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata.
Menurutnya, pelayanan gereja di masa kini menghadapi tantangan yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Perubahan sosial, krisis moral, persoalan generasi muda, hingga perkembangan teknologi menjadi bagian dari realitas yang harus direspons dengan bijaksana oleh gereja.
“Gereja tidak boleh kehilangan arah dan hanya menjadi penonton di tengah perubahan zaman. Gereja harus hadir membawa terang, pengharapan, dan solusi bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai bahwa Rakerda kali ini menjadi momentum penting untuk menyatukan kembali visi pelayanan antar gereja dan lembaga Injili di Kota Bandung agar berjalan dalam satu semangat dan tujuan yang sama.
Dalam forum tersebut, berbagai program pelayanan dirumuskan bukan hanya untuk memperkuat organisasi, tetapi juga untuk memperluas dampak pelayanan kepada masyarakat.
Pdt. Mulianto Halim menegaskan bahwa pelayanan gereja harus mampu menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari pembinaan rohani, pelayanan sosial, penguatan keluarga, pembinaan generasi muda, hingga pengembangan pelayanan berbasis digital.
“Pelayanan hari ini tidak cukup hanya di mimbar. Gereja harus hadir di tengah masyarakat, mendengar pergumulan mereka, dan menjadi jawaban melalui tindakan nyata,” ujarnya kepada tim media.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kesatuan tubuh Kristus di tengah keberagaman denominasi dan latar belakang pelayanan gereja.
Menurutnya, perbedaan bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri, melainkan kekuatan untuk saling melengkapi dalam pelayanan.
“Kalau gereja bersatu, maka dampaknya akan jauh lebih besar bagi kota ini. Kesatuan adalah kekuatan pelayanan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Pdt. Mulianto Halim turut mengingatkan para pengurus yang baru dilantik agar tidak memandang jabatan sebagai posisi kehormatan, melainkan tanggung jawab rohani yang harus dijalankan dengan integritas dan hati seorang pelayan.
Ia berharap kepengurusan baru PGLII Kota Bandung mampu membangun komunikasi yang sehat antar gereja, menjaga semangat kolaborasi pelayanan, dan menjadi penggerak lahirnya pelayanan yang relevan di tengah masyarakat perkotaan.
Selain itu, ia juga mengajak seluruh gereja anggota untuk memperkuat persekutuan doa dan tetap menjaga semangat kebersamaan di tengah tantangan pelayanan yang terus berkembang.
“Kita tidak bisa berjalan sendiri. Pelayanan akan kuat ketika gereja mau berjalan bersama, saling menopang, dan tetap mengutamakan kasih Kristus,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, Pdt. Mulianto Halim menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta Rakerda, pengurus, panitia, dan gereja-gereja anggota yang telah mendukung seluruh rangkaian kegiatan hingga selesai.
Ia berharap hasil Rakerda tidak hanya menjadi dokumen organisasi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan yang hidup, berdampak, dan membawa pengharapan bagi Kota Bandung.
(Jurnalis: Tim)



