
Dicky Yo: “Jika Gereja Hanya Sibuk Mengenang Kebangunan Lama, Maka Api Pentakosta Sedang Redup”
“Kita bukan museum Pentakosta. Kita adalah Gerakan Pentakosta.”
Bandung, 23 Mei 2026 — Menjelang Hari Pentakosta yang diperingati 10 hari setelah Kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke surga, Ketua Umum Gereja Gerakan Pentakosta (GGP), Pdt. Dicky Suwarta, M.Th., menyampaikan pesan tajam yang kini ramai menjadi perbincangan di kalangan jemaat dan pelayan Tuhan.
Dalam wawancara bersama Tim Media Pewarna Indonesia Jawa Barat, tokoh yang akrab disapa Dicky Yo itu mengingatkan bahwa gereja Pentakosta tidak boleh kehilangan roh kebangunan rohani hanya karena terlalu nyaman hidup dalam cerita masa lalu.
Menurutnya, gereja akan kehilangan arah ketika lebih sibuk mengenang sejarah dibanding melanjutkan api pergerakan yang dahulu melahirkan kebangunan rohani.
“Jika gereja hanya sibuk mengenang kebangunan lama, maka itu tanda api Pentakosta sedang mulai redup,” tegasnya.
Dicky Yo mengatakan bahwa Pentakosta sejati bukan hanya tentang perayaan gerejawi, melainkan tentang gereja yang terus hidup dalam doa, kuasa Roh Kudus, penginjilan, dan penjangkauan jiwa.
Ia menilai bahwa gereja mula-mula bertumbuh karena memiliki keberanian rohani untuk bergerak keluar membawa Injil, bukan karena nyaman dengan rutinitas internal.
“Pentakosta bukan untuk disimpan di mimbar.
Pentakosta harus bergerak menjangkau dunia.”
Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa kata “Gerakan” dalam nama Gereja Gerakan Pentakosta bukan sekadar identitas denominasi, tetapi panggilan ilahi yang harus tetap hidup di tengah gereja.
“Bukan nostalgia.
Bukan seremoni.
Bukan museum Pentakosta.
Kita adalah Gerakan Pentakosta!”
Selain aktif memimpin GGP sebagai Ketua Umum, Pdt. Dicky Suwarta, M.Th. saat ini juga sedang menempuh pendidikan Doktoral sebagai bagian dari komitmennya memperkuat kepemimpinan gereja dan pengembangan teologi Pentakosta di era modern.
Dalam wawancara tersebut, Dicky Yo juga menyinggung warisan rohani yang ditinggalkan pendiri gereja, Rev. Gerhard Johanes Thiesen.
Menurutnya, para pendiri gereja dahulu tidak membangun tempat untuk sekadar mengenang sejarah, tetapi membangun pergerakan doa dan penginjilan yang harus terus dilanjutkan lintas generasi.
“Makam pendiri kita memang ada, tetapi itu bukan tanda akhir pelayanan. Itu adalah titik mulai pergerakan,” ujarnya.
Ia menilai bahwa gereja yang kehilangan semangat memenangkan jiwa akan perlahan kehilangan identitas Pentakostanya.
“Kita tidak dipanggil menjaga abu kebangunan lama.
Kita dipanggil menjaga api Pentakosta tetap menyala.”
Pesan tersebut kini menjadi perhatian luas di berbagai komunitas pelayanan Pentakosta karena dianggap sebagai seruan kebangunan rohani di tengah gereja masa kini.
Di akhir wawancara, Dicky Yo menyampaikan refleksi yang kini mulai viral di berbagai kalangan gereja Pentakosta.
«“As long as the Holy Spirit is still sought,
as long as souls are still being won,
as long as prayers are still rising,
as long as the fire is still burning,
GGP will never become a Pentecostal museum—Pentacostal Hystory__
Pentacostal Nostagia__
Pentacostal The Past__
Pentakostal Monument__
Pentakostal Tomb,
but a Pentecostal Movement!”»
Menurutnya, selama Roh Kudus tetap dicari, doa tetap dinaikkan, dan jiwa-jiwa terus dimenangkan, maka GGP akan tetap berdiri sebagai Gerakan Pentakosta yang hidup dan relevan bagi generasi hari ini.
“Museum hanya menyimpan masa lalu.
Tetapi Gerakan Pentakosta membawa kehidupan.”
— Tim Media Pewarna Indonesia Jawa Barat



