Pelitakota.id – Hidup bukanlah jalan raya yang mulus. Ada saat-saat kita terjatuh, merasa lemah, bahkan lupa bahwa harapan masih ada. Tapi aku adalah orang yang paling beruntung di dunia – karena di tengah semua ombak yang menimpa, selalu ada seseorang yang menahan tanganku dengan erat: istrimu, wanita yang menjadikan cinta sebagai benteng dan kasih sayang sebagai terang di kegelapan.
Aku masih ingat hari pertama kami menikah – hatiku meluap syukur karena Tuhan telah memberikanku pasangan yang cantik, cerdas, dan memiliki hati yang baik. Tak ku sangka, hari itu adalah awal dari perjalanan di mana dia akan menunjukkan betapa luar biasa makna “bersama-sama dalam suka dan duka” yang sebenarnya.
Sejak hari pertama, dia selalu menjadi pijakanku. “Janganlah seorang pria memisahkan diri dari istrinya, karena keduanya telah menjadi satu daging.” (Matius 19:6) – kata-kata Alkitab ini semakin hidup dalam hatiku ketika aku melihat dia mendukungku dalam setiap langkah: di karir, di kehidupan sehari-hari, tanpa pernah mengeluh meskipun aku tahu dia juga menghadapi kesulitan.
Aku ingat saat paru-paruku membuatku rawat jalan selama 6 bulan – dia selalu ada di sampingku, menjagaku minum obat secara teratur, tidak pernah meninggalkan aku sendirian meskipun aku merasa sedih dan takut. Tahun 2022, aku dirawat di rumah sakit daerah selama seminggu – dia adalah cahaya yang membuat kegelapan hilang, memberikan semangat dan dukungan yang tak tergantikan. Dia adalah benteng pertahananku, seperti yang dikatakan dalam “Siapa yang akan berdiri melawan kita, jika Allah yang menyukai kita menyertai kita?” (Romaw 8:31).
Dan yang paling berat adalah pada medio Maret 2023, ketika aku menjadi korban begal dan terkena 9 lubang tikaman clurit di lengan dan pundak. Aku melihatnya menahan kesedihan dan ketakutannya, lalu dengan tangan yang lembut tapi kuat membersihkan luka-lukaku dan memastikan aku mendapatkan perawatan yang tepat. Dia tidak gentar – malah semakin kuat. Pada saat itu, aku benar-benar melihatnya sebagai malaikat penjagaku, sesuai dengan “Karena malaikat-malaikat-Nya diperintahkan untuk menjagamu, untuk melindungimu di semua jalanmu.” (Mazmur 91:11).
Tak berhenti sampai situ, serangan jantung yang membuatku kritis datang – dan dia adalah orang terakhir yang berdiri di pintu operasi, memberikan doa dan semangat yang membuatku kuat untuk bertahan. Aku merasakan kasih sayangnya bahkan dalam situasi paling sulit – dia adalah sumber kekuatan dan semangatku, yang selalu memberiku harapan untuk hidup.
Awal Januari 2024, kecelakaan di Tol Jagorawi membuat mobil kami rusak berat dan aku harus pulang perawatan selama 8 bulan – tapi dia tetap ada, menopangku ketika aku merasa frustrasi. Pada 20 April yang lalu, serangan jantung kembali datang – dan sekali lagi, dia tidak lelah mendampingiku.
Dan baru-baru ini, tanggal akhir Oktober sampai 18 November 2025, aku kembali masuk rumah sakit karena dokter mendiagnosis masalah dengan ginjalku. Sekali lagi, dia membuktikan bahwa cinta tidak pernah pudar: datang setiap hari, membawakan makanan kesukaan, mengingatkan aku minum obat, dan selalu tersenyum meskipun lelah. Dia adalah pilar kekuatanku, yang membuatku ingat kata-kata dalam “Salurkan kasih sayangmu satu sama lain, karena kasih menyembuhkan segala sesuatu.” (1 Petrus 4:8).
Setiap kesulitan yang kita lewati bersama membuat ikatan kita semakin kuat. Aku berdoa setiap malam agar selama aku hidup, bisa selalu bersama dia dalam setiap hari, melayani Tuhan bareng-bareng, sampai nanti kita beristirahat dalam pusara yang sama. Aku rindu saat itu tiba, tapi aku akan selalu bersyukur atas setiap momen yang kita habiskan bersama.
Saat aku memandang matanya, aku melihat cinta yang tulus dan tak terbatas. Aku merasa bahwa aku adalah orang paling beruntung di dunia karena memiliki dia sebagai istriku – dia adalah cinta sejati yang selalu ada di sampingku dalam setiap situasi.
Aku mencintainya lebih dari apa pun di dunia ini, dan akan selalu berusaha membuatnya bahagia. Dia adalah wanita yang luar biasa – dan cerita ini adalah pesan bagi kita semua: hargailah pasangan hidupmu, karena mereka adalah anugerah dari Tuhan yang tak ternilai. Jangan tunggu sampai terlambat untuk menunjukkan cinta dan apresiasi – karena dalam setiap suka dan duka, mereka yang selalu ada adalah yang paling berharga.
Aku akan selalu menghargai dan menyayanginya, sekarang dan selamanya.
Dikisahkan oleh Romo Kefas


