Tutup Bibir, Buka Telinga: Hapus Kecenderungan “Saya Paling Benar” dan “Hanya Mau Di Dengar” 

Spread the love

Pelitakota id Pernah nggak sih, di antara kita para pelayan dan umat Tuhan, kita merasa terlalu yakin diri – kayak “cara gue yang paling benar” – bahkan sampe cuma mau di dengar orang lain, tapi gak mau mendengar balik? Entah sama sesama pelayan yang berpendapat beda, atau sama umat yang mau ngomongin kebutuhan mereka. Bukan cuma masalah bicara dan dengar doang, loh – ini seringkali bikin hubungan jadi renggang, sampe pelayanan kita kurang menyentuh hati.

Ada pribahasa Jawa yang pas banget: “Lumrah manungsa, ngomong akeh, ngrungokake sithik” – ya, itu yang sering kita alami. Tapi, ada juga ayat Alkitab yang selalu mengingatkan: “Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Matius 11:15). Prinsip “tutup bibir, buka telinga” itu sederhana banget, tapi bisa bikin perbedaan besar di tengah kita semua.

Ijinkan penulis membuat sebuah cerita perumpamaan tentang dua pelayan Tuhan di desa terpencil? Ada Bapak Yohanes – pelayan tua yang udah berpengalaman – dan Pdt. Andi – pelayan muda yang penuh semangat. Bapak Yohanes selalu bikin ibadah pagi, karena dia pikir “pagi itu waktu yang segar dan suci buat ngobrol sama Tuhan”. Tapi Pdt. Andi pengen ubah jadwal ke malam, karena “banyak umat kerja siang, gak bisa dateng pagi”.

Awalnya, keduanya saling debat terus – masing-masing cuma mau ngomong dan di dengar, gak mau dengar satu sama lain, bahkan gak mau dengar keluhan umat. Bapak Yohanes bilang Andi “tidak hormat tradisi”, Andi bilang Bapak Yohanes “terlalu kaku”. Mereka yakin banget cara dirinya yang paling benar, sampe lupa lihat situasi umat – bener banget sama pribahasa itu: “Ngomong akeh, ngrungokake sithik”. Padahal, Alkitab juga bilang: “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa yang menahan bibirnya, berakal budi” (Amsal 10:19).

Sampai satu hari, mereka lihat umat yang jarang dateng ke gereja berkumpul di pasar sore – saling cerita, makan bareng, dan yang paling penting: mereka saling dengar, bukan cuma mau di dengar. Mereka ngikutin pribahasa “Ngrungokake luwih penting tinimbang ngomong” dan juga ayat “Hai saudara-saudara yang ku kasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata” (Yakobus 1:19).

Tanpa banyak bicara, Bapak Yohanes ajak Andi buat diam dan ikutin cara umat: tutup bibir dari debat, buka telinga ke cerita dan kebutuhan mereka. Ternyata, sebagian umat kerja di sawah pagi, sebagian lagi jualan di pasar sore. Akhirnya, mereka sepakat bikin dua ibadah: satu pagi buat yang kerja sore, satu sore buat yang kerja pagi. Cuma sebulan, jumlah umat yang datang jadi dua kali lipat – dan hubungan antara pelayan dan umat jadi lebih erat!

“Gue bukan salah, kamu juga bukan salah,” kata Bapak Yohanes ke Andi. “Kita cuma terlalu lama mau di dengar, lupa dengar suara yang sebenarnya penting: suara umat yang kita layani. Bener kata orang Jawa, ‘Ojo mung ngomong, ngrungokake uga – baik sama sesama pelayan maupun umat’!”

Cerita itu bikin kita ngerti, kan? Kecenderungan “saya paling benar” dan “hanya mau di dengar” muncul karena kita terlalu banyak memikirkan diri sendiri. Padahal, mendengar bukan cuma sopan doang – ini cara buat pelayanan kita lebih baik dan hubungan kita lebih erat. Ada pribahasa Jawa yang ngajarin: “Ngrungokake iku bukti sopan, mangertos iku bukti cinta – baik sama pelayan maupun umat” – dan Alkitab juga menguatkan dengan ayat: “Setiap orang kristen menerima karunia khusus dari Tuhan dan harus menggunakannya untuk melayani” (1 Petrus 4:10).

Kita harus belajar “dengar dulu, bicara nanti” – biar kita ngerti pendapat orang lain dan kebutuhan umat lebih jelas, gak cepet salah paham. Jangan buru-buru mau di dengar, coba dengar dulu apa yang mereka mau katakan – sesuai ayat “Cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata” (Yakobus 1:19) dan pribahasa “Ojo cepet ngomong, raos ngrungokake dhisik”.

Mendengar juga itu bentuk kasih loh. Kalo kita mau dengar, berarti kita nganggap sesama pelayan dan umat penting dan berharga. Bukan cuma kita yang punya cerita – mereka juga punya pikiran dan pengalaman yang berharga, sesuai ayat “Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (Matius 22:39) dan pribahasa “Ngrungokake iku bukti cinta”. Bahkan, mendengar juga bikin kita tumbuh bareng – masukan dari mereka bisa bikin kita lihat kelemahan yang kita punya, dan nemuin cara yang lebih baik buat melayani. Kalo cuma mau di dengar, kita gak akan pernah tumbuh – seperti yang dikatakan ayat “Jadilah pelaku firman dan bukan hanya pendengar” (Yakobus 1:22).

Tapi, kenapa ya sulit buat “tutup bibir” dan mau mendengar, bukan cuma mau di dengar? Karena kita sering takut dianggap kurang pintar atau hilang kendali. Tapi, ingat pribahasa Jawa: “Ojo wedi ngrungokake teguran, amarga saka teguran bisa dadi luwih apik – baik saka pelayan maupun umat” – dan Alkitab juga bilang: “Pemimpin kristen harus diterima oleh umat, dan umat harus mematuhi pemimpin yang saleh” (Ibrani 13:17).

Ingat ya, mendengar bukan berarti kita kalah – ini berarti kita cukup dewasa buat ngerti bahwa pandangan lain juga berharga. Seperti yang dikatakan ayat “Bersama-sama kita adalah tubuh Kristus, dan setiap orang adalah anggota yang penting” (1 Korintus 12:27). Jangan selalu jadikan diri kita pusat perhatian – pelayanan itu tentang Tuhan dan umat, bukan tentang kita. Sesuai pribahasa “Ojo mung mikir awake dhewe, mikir uga wong liya” dan ayat “Segala sesuatu yang kamu lakukan, lakukanlah dengan nama Tuhan Yesus” (Kolose 3:17). Bahkan, hikmat bisa datang dari mana saja – baik pelayan tua maupun muda, umat tua maupun muda – asalkan kita mau buka telinga, seperti yang dikatakan “Orang bijak mendengarkan nasihat untuk menambah kebijaksanaannya” (Amsal 1:5).

Yang paling penting, kalo kita benar-benar mau diam, gak cuma mau di dengar, dan buka telinga ke sesama pelayan maupun umat – keajaiban akan terjadi! Sesuai pribahasa Jawa: “Nalika kabeh mau ngrungokake satu sama lain, keajaiban bakal teka di tengah kita” dan ayat “Kalau semua anggota tubuh bekerja sama, maka tubuh itu akan kuat dan penuh kasih” (Efesus 4:16).

Komunitas gereja kita akan jadi solid dan penuh rasa hormat – konflik jadi jarang, hubungan antara pelayan dan umat jadi lebih erat. Pelayanan kita juga akan lebih cocok sama kebutuhan umat, karena kita ngerti mereka lebih baik. Dan yang paling bahagia: semua orang tumbuh bareng – bukan cuma pelayan yang jadi lebih baik, tapi umat juga merasakan pertumbuhan spiritual – semuanya menang bersama, sesuai ayat “Maka kita semua akan tumbuh menjadi Kristus, yang merupakan kepala dari tubuh gereja” (Efesus 4:15).

Kecenderungan “saya paling benar” dan “hanya mau di dengar” itu wajar banget – seperti yang dikatakan pribahasa “Lumrah manungsa, ngomong akeh, ngrungokake sithik”. Tapi, kita bisa ngatasinya dengan prinsip “tutup bibir, buka telinga” – baik di antara pelayan maupun dengan umat Tuhan. Ingat selalu ayat Alkitab yang indah: “Barangsiapa bertelinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” (Matius 11:15) dan pribahasa Jawa: “Ngrungokake iku kunci, mangertos iku jembatan, kasih iku hasilnya”.

Jadi pendengar yang baik bukanlah tujuan akhir – tapi cara buat komunitas gereja kita lebih penuh kasih dan bermanfaat, yang bikin kita semua lebih dekat sama Tuhan, sesama pelayan, dan umat.

Semoga kita semua diberi kekuatan buat jalankan prinsip ini – biar keajaiban mendengarkan bisa bangkitin semangat baru di gereja kita dan memberkati banyak orang.

“Siapa yang punya telinga buat dengar, mari dia dengar.” (Matius 11:15)

Selamat berkarya, semoga Tuhan Yesus memberkati langkahmu dan semua kita yang melayani!

Penulis: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Tinggalkan Balasan