Takut Itu Manusiawi, Berhenti Itu Pilihan

Spread the love

Takut Itu Manusiawi, Berhenti Itu Pilihan

Jujur saja—siapa yang tidak pernah takut?
Takut gagal. Takut tidak sanggup. Takut melangkah sendirian.
Masalahnya bukan pada rasa takut, tapi pada keputusan setelah rasa takut itu datang.

Banyak orang berhenti bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu lama berdialog dengan ketakutannya sendiri.

Padahal firman Tuhan jelas: “Jangan takut.”
Bukan karena kita kuat.
Bukan karena jalan mudah.
Tetapi karena Tuhan berjalan lebih dulu.


Kalau Tuhan Sudah Jalan Duluan, Kenapa Kita Masih Ragu?

Dalam Ulangan 31, Musa tidak sedang memberi motivasi kosong. Ia tidak bilang hidup akan nyaman. Ia tidak menjanjikan segalanya aman. Ia hanya menegaskan satu hal yang paling penting:

“TUHAN akan berjalan di depanmu.”

Bukan mungkin.
Bukan nanti.
Tetapi AKAN.

Artinya apa?
Ketika kita melangkah, Tuhan tidak berdiri di belakang sambil menonton.
Dia sudah ada di depan, menyiapkan jalan, menghadapi rintangan, dan membuka kemungkinan.


Takut Itu Normal, Taat Itu Keputusan

Sering kali kita menunggu rasa percaya diri baru mau taat.
Padahal dalam iman Kristen, urutannya dibalik:
taat dulu, baru kuat.

Orang Jawa bilang, “Jer basuki mawa bea.”
Tidak ada berkat tanpa proses.
Tidak ada panggilan tanpa risiko.

Kalau semua harus jelas dulu, itu bukan iman—itu perhitungan.


Jangan Tunggu Siap, Tuhan Tidak Pernah Menunggu Kita Sempurna

Yosua bukan pemimpin sempurna.
Tapi Tuhan tetap memilihnya.
Kenapa? Karena Tuhan tidak mencari orang paling hebat, tapi orang yang mau berjalan bersama-Nya.

Kadang Tuhan sengaja membawa kita ke titik di mana kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri.
Supaya kita belajar satu hal: tanpa Tuhan, kita rapuh. Dengan Tuhan, kita cukup.


Berani Melangkah Itu Bukan Nekat, Tapi Percaya

Ada beda antara nekat dan iman.
Nekat bersandar pada ego.
Iman bersandar pada janji Tuhan.

Kalau Tuhan yang memerintahkan, maka Tuhan pula yang bertanggung jawab atas hasilnya.

Seperti kata orang tua Jawa, “Wani ngalah luhur wekasane.”
Berani merendahkan diri di hadapan Tuhan bukan kekalahan—itu jalan menuju kemenangan sejati.


Berhenti Meragukan Tuhan, Mulailah Melangkah

Jangan ukur panggilan Tuhan dengan ketakutanmu.
Jangan nilai masa depan dengan trauma masa lalu.
Dan jangan tunda ketaatan hanya karena jalan belum terlihat jelas.

Ingat ini baik-baik:
👉 Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk berjalan sendirian.
👉 Dia selalu mendahului, menyertai, dan menuntun sampai akhir.

Jadi kalau hari ini kamu takut—tidak apa-apa.
Tapi jangan berhenti.
Karena takut itu manusiawi, tapi iman itu pilihan.


Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


Tinggalkan Balasan