Tak Semua Perhatian Itu Aman: MoMA Depok Ungkap Cara Predator Mendekati Anak Tanpa Disadari Orang Tua

Spread the love

Tak Semua Perhatian Itu Aman: MoMA Depok Ungkap Cara Predator Mendekati Anak Tanpa Disadari Orang Tua

Depok — Banyak orang tua mengira ancaman terhadap anak hanya datang dari orang asing. Padahal, dalam banyak kasus, pelaku justru hadir sebagai sosok yang terlihat baik, perhatian, dan dipercaya anak. Fenomena berbahaya ini dikenal sebagai child grooming, sebuah kejahatan yang sering luput dari pengawasan keluarga.

Kenyataan inilah yang menjadi sorotan dalam webinar edukasi yang digelar Komunitas Perempuan Mom Academy (MoMA) Regional Depok 1 bertajuk “Ketika Perhatian Jadi Ancaman: Memahami Child Grooming”, Kamis (12/2/2026).

Kegiatan daring tersebut bukan sekadar forum diskusi, melainkan menjadi alarm keras bagi para orang tua bahwa kejahatan terhadap anak kini berkembang semakin halus dan sulit dikenali.

Ketua MoMA Depok 1, Fitri Anas, mengatakan banyak keluarga masih menganggap isu child grooming sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.

“Padahal kejahatan ini bisa terjadi di sekitar kita, bahkan dilakukan oleh orang yang dikenal anak. Karena itu, orang tua perlu memiliki pengetahuan agar tidak terlambat menyadarinya,” ujar Fitri.

Dalam webinar tersebut, psikolog anak dan remaja Fabiola Priscilla, S.Psi., M.Psi., CPHt., memaparkan bagaimana pelaku grooming bekerja secara perlahan dan sistematis.

Ia menjelaskan, pelaku biasanya memulai dengan membangun kedekatan emosional, memberikan perhatian khusus, hingga menempatkan diri sebagai sosok yang dianggap paling memahami anak.

“Pelaku tidak langsung menunjukkan niat jahat. Mereka masuk melalui rasa nyaman dan kepercayaan anak. Inilah yang membuat child grooming sangat berbahaya,” kata Fabiola.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuat pola grooming semakin kompleks. Media sosial dan ruang komunikasi daring kini menjadi lahan baru yang memudahkan pelaku menjangkau anak-anak tanpa batas ruang dan waktu.

Fabiola mengungkapkan, anak yang kurang mendapatkan ruang komunikasi terbuka di rumah cenderung mencari perhatian di luar, sehingga lebih mudah menjadi target manipulasi pelaku.

“Ketika anak merasa tidak didengar di rumah, mereka akan mencari tempat lain untuk bercerita. Di situlah pelaku sering masuk,” ujarnya.

Selama 90 menit pelaksanaan webinar, suasana diskusi berlangsung intens. Para peserta yang mayoritas ibu rumah tangga tampak aktif menyampaikan kekhawatiran mereka, terutama terkait keamanan anak di era digital.

Sejumlah peserta bahkan mengaku baru menyadari bahwa perubahan sikap anak, seperti menjadi lebih tertutup, emosional, atau sering menyembunyikan aktivitas ponsel, bisa menjadi tanda awal grooming.

MoMA menilai edukasi seperti ini menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kasus kekerasan terhadap anak yang sering kali terungkap setelah dampaknya semakin berat.

Program ini merupakan bagian dari MoMA Class, sebuah inisiatif edukasi keluarga yang rutin digelar untuk meningkatkan kesadaran orang tua terhadap berbagai ancaman sosial yang mengintai anak.

Fitri berharap edukasi perlindungan anak tidak berhenti pada kegiatan seminar atau webinar saja, melainkan menjadi gerakan bersama dalam keluarga.

“Anak membutuhkan rasa aman, bukan hanya pengawasan. Ketika hubungan emosional antara orang tua dan anak kuat, maka anak tidak akan mudah terjerumus dalam manipulasi orang lain,” ujarnya.

Ia menegaskan, perlindungan anak dimulai dari rumah, dari komunikasi yang hangat, kepercayaan, serta kehadiran orang tua dalam kehidupan anak sehari-hari.

Karena pada akhirnya, ancaman tidak selalu terlihat menakutkan. Kadang ia hadir dalam bentuk perhatian yang tampak tulus, namun menyimpan bahaya yang mengintai masa depan anak.


Tinggalkan Balasan