Tak Semua Panggilan Berakhir di Pensiun: Sri Gunarti Tetap Melayani dari Jogja hingga Kalimantan
YOGYAKARTA, 9 Januari 2026 — Bagi sebagian orang, pensiun adalah akhir dari pengabdian. Namun tidak bagi . Mantan Pembimas Kristen Kanwil Kementerian Agama DIY ini justru membuktikan satu hal: pelayanan tidak mengenal kata selesai.
Mengawali tahun 2026, Gunarti menyempatkan diri hadir di Ruang Tamu Jogja Istimewa, Baciro, Kota , sebelum kembali menjalankan tugas akademiknya sebagai dosen di institut Agama Kristen Negeri Palangkaraya , Kalimantan Tengah.
Meski kini menetap dan mengajar di Palangka Raya, Gunarti menegaskan bahwa ikatan pelayanannya dengan Yogyakarta tidak pernah putus.
Duka yang Tidak Mematikan Panggilan
Gunarti secara terbuka membagikan sisi paling personal dari perjalanannya. Tahun 2021 menjadi fase paling berat ketika ia kehilangan suami tercinta di tengah tanggung jawab sebagai pejabat negara dan pelayan umat.
“Waktu itu saya lebih banyak diam, merenung, dan memperdalam iman pribadi. Tapi Tuhan tidak berhenti bekerja,” tuturnya.
Setahun kemudian, ia mengaku dikuatkan untuk bangkit dan kembali melayani, bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai pemimpin yang lebih matang secara rohani dan emosional.
Blak-blakan Soal PR Besar Kekristenan
Dalam diskusi bersama para tokoh Kristen Jogja, Gunarti melontarkan kritik yang cukup tajam namun jujur. Ia menilai Kesatuan Tubuh Kristus masih rapuh akibat sekat denominasi, organisasi, dan ego pelayanan.
“Banyak energi habis untuk konflik internal, padahal tantangan di luar jauh lebih besar,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti lemahnya pemahaman sebagian pemimpin Kristen terhadap sistem pemerintahan. Bahkan, menurutnya, masih ada yang keliru menyebut nomenklatur lembaga negara.
“Masih sering terdengar istilah Depag, padahal sudah lama berubah menjadi Kementerian Agama atau Kemenag. Ini hal kecil, tapi mencerminkan wawasan,” ujarnya.
Minoritas Bukan Alasan Diam
Gunarti menolak mental minder sebagai minoritas. Menurutnya, konstitusi Indonesia sudah sangat jelas menjamin kebebasan dan kesetaraan beragama.
Ia lalu membagikan kisah nyata saat mengusulkan agar pembacaan doa dalam upacara di Kanwil Kemenag DIY dilakukan secara bergilir lintas agama.
“Puji Tuhan, usulan itu diterima. Sampai sekarang doa dibacakan bergantian. Itu contoh kecil, tapi dampaknya besar bagi rasa keadilan,” katanya.
Dari Pejabat ke Dosen: Pintu Baru di Palangka Raya
Usai pensiun, Gunarti tidak memilih berhenti. Ia berdoa agar tetap dipakai Tuhan. Jawaban itu datang ketika Kemenag pusat mengarahkan dirinya mengikuti seleksi dosen di IAKN Palangka Raya.
“Saya ikut seleksi, lolos, dan sekarang sudah setahun mengajar. Bahkan tempat tinggal pun seperti sudah Tuhan siapkan,” ujarnya dengan senyum syukur.
Dua Wilayah, Satu Semangat
Kini, Yogyakarta dan Palangka Raya menjadi dua medan pelayanan yang terus ia jaga. Gunarti juga menaruh harapan agar suatu hari Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki Institut Agama Kristen Negeri sendiri.
“Sampai hari ini jabatan Pembimas Kristen Kemenag DIY masih dijabat pelaksana tugas. Dalam keistimewaan Jogja, saya percaya Tuhan juga punya rencana istimewa,” pungkasnya.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: Romo Kefas


