Suatu Hari Nanti, Kita Akan Bertemu Lagi di Rumah Bapa

Spread the love

Sejak mama pergi pada 10 Januari 2023, aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan sekolah mana pun — bagaimana hidup dengan kehilangan yang tidak bisa diperbaiki oleh waktu.

Hari itu, bukan hanya mama yang pergi.
Ada bagian dari hatiku yang ikut dikuburkan bersama kenangan tentang pelukan yang selalu menenangkan, tentang suara yang selalu memanggil namaku dengan penuh kasih, tentang doa-doa yang dulu terasa biasa, tetapi sekarang menjadi harta yang tak ternilai.

Aku sering bertanya kepada Tuhan,
“Kenapa Engkau memanggil mama lebih dulu?”

Pertanyaan itu tidak selalu mendapat jawaban. Tetapi dalam keheningan doa, aku mulai mengerti… bahwa kehilangan bukan akhir dari kasih. Ia hanya perubahan cara kita mencintai.

Firman Tuhan pernah berkata:

“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.”
(Yohanes 14:2)

Ayat itu dulu hanya aku baca sebagai penghiburan. Sekarang aku membacanya sebagai janji.

Aku percaya mama tidak benar-benar pergi. Mama hanya pulang lebih dulu ke rumah yang sesungguhnya.

Aku anak sulung dari tujuh bersaudara. Mama selalu berpesan agar kami tetap saling mengasihi, tidak mudah bertengkar, dan selalu saling menolong. Dulu aku menganggap itu nasihat seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya rukun.

Sekarang aku sadar… itu adalah warisan rohani yang mama titipkan sebelum Tuhan memanggilnya pulang.

Aku tinggal di kota yang berbeda sekarang. Rumah mama tidak lagi menjadi tempatku kembali setiap hari. Tetapi setiap kali aku pulang, aku sering masuk ke kamar mama… duduk, bahkan berbaring di tempat ia dulu beristirahat.

Kadang aku menutup mata dan berdoa pelan.
Bukan karena aku berharap mama kembali.
Tetapi karena aku ingin Tuhan menjaga mama di tempat terbaik yang tidak bisa dilihat mataku.

Ada saat ketika tubuhku sendiri melemah karena sakit jantung. Dalam ketakutan menghadapi kemungkinan terburuk, aku justru semakin merasakan kerinduan kepada mama. Aku membayangkan bagaimana mama dulu akan duduk di sampingku, menggenggam tanganku, dan berdoa tanpa lelah.

Namun di tengah ketakutan itu, Roh Tuhan seperti berbisik di hatiku:

“Berbahagialah orang-orang yang mati di dalam Tuhan.”
(Wahyu 14:13)

Ayat itu membuatku menangis… bukan karena sedih, tetapi karena aku percaya mama meninggal dalam iman. Mama tidak pergi ke tempat yang gelap. Mama pergi ke terang yang tidak pernah padam.

Sekarang aku sudah memiliki keluarga sendiri. Aku memiliki seorang anak yang tumbuh menuju kedewasaan. Ketika aku memeluk anakku, aku sering teringat pelukan mama. Ketika aku berdoa untuk keluargaku, aku seperti mendengar gema doa mama yang dulu tidak pernah berhenti mengiringi hidupku.

Aku mulai percaya… mungkin aku masih berdiri sampai hari ini bukan karena kuatku, tetapi karena doa mama yang masih bekerja bahkan setelah ia pulang ke surga.

Firman Tuhan berkata:

“Kasih tidak berkesudahan.”
(1 Korintus 13:8)

Aku percaya kasih seorang ibu juga tidak berakhir di kuburan. Ia melintasi waktu. Ia melintasi dunia. Ia tetap hidup dalam doa, kenangan, dan iman yang diwariskan.

Kadang aku membayangkan hari ketika Tuhan memanggilku pulang nanti. Aku membayangkan berjalan melewati gerbang kekekalan, dengan segala kelemahan dan kegagalanku sebagai manusia.

Dan di sana… aku membayangkan mama berdiri menungguku.

Bukan dengan tangisan.
Bukan dengan kesedihan.
Tetapi dengan senyum yang sama seperti ketika mama pertama kali memelukku saat aku lahir ke dunia.

Mungkin aku akan berkata:

“Ma… aku akhirnya pulang.”

Dan mama mungkin akan menjawab dengan lembut:

“Kamu sudah berjuang dengan baik, Nak.”

Firman Tuhan memberi pengharapan:

“Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan atau ratap tangis atau dukacita.”
(Wahyu 21:4)

Ayat itu menjadi penghibur terbesar dalam hidupku sekarang. Bahwa suatu hari nanti, semua air mata akan berhenti. Semua rindu akan menemukan jawabannya. Semua kehilangan akan dipulihkan.

Hari ini aku masih hidup dengan kerinduan.
Masih berjalan dengan kenangan.
Masih belajar menerima bahwa perpisahan di dunia hanyalah sementara.

Karena bagi orang yang percaya, kematian bukan akhir perjumpaan…
melainkan awal menunggu pertemuan yang kekal.

Mama sudah pulang ke rumah Bapa.
Dan suatu hari nanti…
aku percaya Tuhan akan mempertemukan kami kembali,
bukan dalam air mata,
tetapi dalam sukacita yang tidak pernah berakhir.


Tinggalkan Balasan