Stola, Simbol “Kuk” Pengabdian dalam Lintasan Sejarah dan Liturgi

Spread the love

Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Pelitakota.id Dalam kekayaan tradisi liturgi Gereja, kita sering menjumpai simbol-simbol yang tak hanya elok dipandang, tetapi juga sarat akan makna filosofis. Salah satu yang paling sentral namun kerap luput dari perenungan mendalam adalah Stola. Selembar kain panjang yang dikalungkan di leher para klerus ini bukan sekadar atribut busana, melainkan sebuah narasi sejarah dan teologi tentang jati diri seorang pelayan Tuhan.

Akar Sejarah: Dari Tanda Pangkat ke Tanda Pengabdian

Jika kita menengok ke belakang, sejarah stola memiliki akar yang menarik dalam budaya Romawi Kuno. Istilah stola berasal dari bahasa Latin yang awalnya merujuk pada jubah panjang bagi wanita bangsawan. Namun, cikal bakal stola liturgi yang kita kenal sekarang lebih dekat dengan orarium—sebuah syal kecil yang digunakan oleh pejabat publik di Kekaisaran Romawi sebagai tanda pangkat dan otoritas sipil.

Sejak abad ke-4, Gereja mulai mengadopsi elemen ini ke dalam ranah liturgi. Namun, terjadi transformasi makna yang luar biasa: dari yang semula merupakan simbol status sosial dan kekuasaan duniawi, menjadi simbol penyerahan diri secara total kepada Kristus. Gereja mengubah “pangkat” menjadi “beban suci”. Stola bukan lagi tentang siapa yang paling tinggi di mata manusia, melainkan siapa yang paling rendah hati dalam melayani sesama.

Simbolisme “Kuk” dan Otoritas Sakramental

Secara simbolis, stola melambangkan “Kuk Kristus”. Sebagaimana tertulis dalam Matius 11:30, “Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Mengalungkan stola di pundak adalah tindakan sadar seorang pelayan Tuhan untuk memikul beban pelayanan dengan sukacita.

Pembedaan cara mengenakan stola juga bukan tanpa alasan teologis:

  1. Imam dan Uskup: Mengenakan stola yang menjuntai lurus di depan dada. Ini melambangkan bahwa otoritas sakramental yang mereka emban—mulai dari memimpin Ekaristi hingga memberikan pengampunan dosa—bersumber langsung dari Kristus Sang Imam Agung.
  2. Diakon: Mengenakan stola secara diagonal dari bahu kiri ke pinggang kanan. Bentuk ini menyerupai selempang pelayan (servant) di masa lalu, yang menunjukkan bahwa tugas utama mereka adalah pelayanan aktif kepada kaum miskin dan meja perjamuan.

Estetika yang Berbicara: Warna dan Harapan

Warna-warna stola bukan sekadar pilihan estetika, melainkan bahasa visual Gereja dalam mendampingi perjalanan iman umat manusia:

  • Putih/Emas berbicara tentang kemenangan dan kemurnian hidup.
  • Merah menggemakan keberanian dan pengorbanan total, bagaikan api Roh Kudus.
  • Hijau menyuarakan keteguhan dan pertumbuhan dalam keseharian yang biasa.
  • Ungu mengajak pada kedalaman batin dan kerendahan hati untuk bertobat.

Di balik warna-warna itu, stola menjadi pengingat bahwa hidup adalah sebuah peziarahan yang dinamis, di mana Tuhan hadir dalam setiap musim kehidupan manusia.

Refleksi: Stola di Tengah Krisis Keteladanan

Mengapa pemahaman akan stola ini menjadi krusial di era sekarang? Kita hidup di zaman di mana jabatan sering kali disalahpahami sebagai privilese untuk memerintah, bukan mandat untuk melayani. Filosofi stola menawarkan antitesis terhadap narsisme kekuasaan.

Setiap kali seorang klerus mencium salib kecil di bagian tengah stola sebelum mengenakannya, ia sedang memperbarui janji setianya. Ia diingatkan bahwa “kuasa” yang ia miliki harus digunakan untuk membalut luka batin umat, memberikan penghiburan bagi yang berduka, dan menjadi jembatan antara manusia dengan Sang Pencipta.

Stola adalah pengingat bisu namun tajam bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa banyak orang yang melayani kita, melainkan dari seberapa besar kesetiaan kita dalam memikul “kuk” pelayanan bagi orang lain. Di dunia yang semakin individualis, stola berdiri sebagai mercusuar yang memanggil kita kembali pada hakikat kemanusiaan kita yang paling luhur: yaitu menjadi saluran kasih bagi sesama, tanpa memandang status dan pangkat.

____________

Tinggalkan Balasan