Pelitakota.id St. Yustinus Martir adalah salah satu tokoh penting abad ke-2 yang menunjukkan bahwa pencarian kebenaran melalui filsafat dapat bersinergi dengan wahyu ilahi. Ia membuktikan bahwa iman Kristen tidak menolak kebijaksanaan duniawi, melainkan melengkapinya, dan bahwa Kristus adalah pusat dari seluruh pencarian manusia akan kebenaran.
Lahir sekitar tahun 100 M di Neapolis (sekarang Nablus), Yustinus berasal dari keluarga pagan Yunani. Ia menelusuri berbagai aliran filsafat—Stoisisme, Aristotelianisme, Pythagoreanisme, dan Platonisme—dengan harapan menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensial dan makna hidup. Namun, ia menyadari bahwa sistem-sistem tersebut tidak mampu memberikan jawaban akhir yang memuaskan.
Contoh konkret yang mendukung argumen ini adalah bahwa Yustinus, melalui pencarian filsafatnya, menyadari adanya kekosongan yang tidak bisa diisi oleh kebijaksanaan manusia semata. Ia kemudian bertemu dengan seorang pria bijak yang mengarahkan dia membaca Kitab Suci para nabi. Setelah menyelidiki ajaran-ajaran Yesus Kristus, Yustinus menyadari bahwa Kristus adalah Logos—Firman Allah yang kekal—yang menjadi pusat seluruh kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa pencarian filsafatnya mengarah pada pengakuan bahwa wahyu Kristus melengkapi dan menyempurnakan kebijaksanaan manusia.
Konsep Logoi Spermatikoi (Benih-benih Logos) yang dikembangkan Yustinus didukung oleh fakta bahwa filsafat Yunani kuno, seperti ajaran Stoik tentang logos spermatikos (prinsip rasional yang menjiwai alam), menunjukkan adanya prinsip ilahi yang mengatur dunia. Yustinus menafsirkan bahwa pemikiran Stoik ini adalah cerminan awal dari Logos yang bekerja dalam ciptaan.
Contoh konkret lainnya adalah bahwa pemikiran Plato tentang dunia ide—yang menyatakan bahwa dunia nyata hanyalah bayangan dari bentuk-bentuk yang sempurna—menggambarkan bahwa ada prinsip ilahi yang melampaui dunia materi. Yustinus menegaskan bahwa pemikiran ini adalah refleksi dari Logos yang bekerja dalam hati manusia, dan bahwa seluruh kebijaksanaan Yunani adalah jalan menuju pengenalan akan Kristus.
Setelah menjadi Kristen, Yustinus pindah ke Roma dan mendirikan sekolah filsafat Kristen. Ia menulis Apologia Pertama dan Kedua untuk membela iman Kristen dari tuduhan-tuduhan palsu. Contoh konkret yang mendukung argumen ini adalah bahwa Yustinus menegaskan bahwa orang Kristen tidak menyembah dewa-dewa Romawi, melainkan menyembah Allah yang sejati, yang melampaui dewa-dewa politeistik. Ia menulis bahwa tuduhan ateisme terhadap orang Kristen adalah salah kaprah, karena mereka menyembah Allah yang benar.
Selain itu, Yustinus membela praktik Ekaristi dengan menjelaskan bahwa mereka menerima Tubuh dan Darah Kristus sebagai makanan rohani, bukan sebagai tindakan kanibalisme seperti tuduhan musuh-musuh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Yustinus menggunakan argumen rasional dan teologis untuk memperlihatkan kedalaman iman Kristen, mendukung argumen bahwa iman dan akal budi saling melengkapi.
Yustinus, yang menolak menyembah dewa-dewa Romawi, dihukum mati sekitar tahun 165 M di bawah pemerintahan Marcus Aurelius. Ia dipenggal karena keberaniannya mempertahankan iman. Fakta ini menguatkan argumen bahwa kesaksian hidup dan kemartiran adalah puncak dari integritas iman, yang tidak terpisahkan dari pencarian kebenaran yang rasional dan tulus.
Contoh-contoh konkret dari sejarah dan tradisi Gereja ini memperkuat argumen bahwa filsafat Yunani dan iman Kristen bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Warisan Yustinus menunjukkan bahwa pencarian manusia akan kebenaran, melalui akal dan kebijaksanaan, akhirnya menemukan puncaknya dalam Kristus, Sang Logos. Ia adalah teladan bahwa pencarian yang tulus akan kebenaran akan selalu mengarah kepada Kristus, pusat seluruh sejarah keselamatan.
(Red)


