Spiritualitas Seorang Jurnalis Kristen: Antara Doa, Disiplin, dan Daya Tahan Nurani

Spread the love

Spiritualitas Seorang Jurnalis Kristen: Antara Doa, Disiplin, dan Daya Tahan Nurani

Oleh: Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas), Jurnalis Pewarna Indonesia

Bogor – Tidak semua pertempuran terlihat.

Ada pertempuran yang terjadi di ruang redaksi.
Ada yang terjadi di ruang publik.
Tetapi yang paling berat sering terjadi di dalam diri sendiri.

Menjadi jurnalis Kristen bukan hanya tentang integritas profesional. Ia adalah perjalanan spiritual. Sebab setiap kata yang ditulis bukan hanya membentuk opini publik—ia juga membentuk karakter penulisnya.

Pertanyaannya bukan sekadar: apakah berita ini valid?
Tetapi: apakah hati saya bersih ketika menulisnya?

Dalam dunia yang bergerak cepat, doa sering menjadi hal pertama yang dikorbankan.

Deadline menekan.
Telepon berdering.
Pesan masuk bertubi-tubi.

Namun spiritualitas jurnalis Kristen justru diuji di tengah kecepatan itu.

“Takut akan TUHAN adalah permulaan hikmat.” (Amsal 9:10)

Takut akan Tuhan berarti sadar bahwa setiap kalimat memiliki bobot moral. Bahwa berita bukan sekadar produk, tetapi tanggung jawab.

Doa bukan ritual tambahan. Ia adalah proses menjernihkan motivasi.
Apakah saya menulis karena kebenaran?
Atau karena ambisi?
Atau karena kemarahan?

Dalam era digital, opini mudah meledak. Emosi mudah viral.

Tetapi spiritualitas menuntut disiplin.

Tidak semua yang benar harus ditulis dengan nada marah.
Tidak semua kritik harus disampaikan dengan kebencian.

Yesus berkata:

“Berbahagialah orang yang membawa damai.” (Matius 5:9)

Membawa damai bukan berarti kompromi terhadap ketidakadilan. Ia berarti menjaga agar kebenaran tidak disampaikan dengan roh yang salah.

Seorang jurnalis Kristen perlu belajar puasa dari reaksi impulsif. Belajar menunda publikasi sampai hati tenang. Belajar memeriksa ulang bukan hanya fakta—tetapi niat.

Ada masa ketika jurnalis merasa sendirian.

Ketika integritas tidak dihargai.
Ketika keberanian tidak populer.
Ketika kompromi dianggap lebih realistis.

Di saat seperti itu, spiritualitas bukan slogan. Ia menjadi daya tahan.

Rasul Paulus menulis:

“Sebab kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran.” (2 Korintus 13:8)

Ayat ini bukan hanya prinsip kerja. Ia peneguhan batin. Bahwa pada akhirnya, kebenaran bukan milik manusia. Ia milik Tuhan.

Sunyi bukan tanda kegagalan. Kadang ia adalah ruang pembentukan karakter.

Spiritualitas juga berarti kejujuran terhadap diri sendiri.

Ada bahaya yang jarang diakui: merasa lebih benar. Merasa menjadi penyelamat bangsa. Merasa memegang monopoli moral.

Padahal kerendahan hati adalah fondasi iman.

“Yang dituntut TUHAN daripadamu ialah berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati…” (Mikha 6:8)

Hidup rendah hati berarti sadar bahwa jurnalis bukan hakim terakhir. Ia hanya pelayan kebenaran.

Realitas tidak selalu ideal.

Ada kebutuhan keluarga.
Ada tekanan finansial.
Ada tawaran kompromi yang menggiurkan.

Di sinilah iman menjadi konkret.

Apakah saya lebih takut kehilangan pemasukan atau kehilangan integritas?
Apakah saya lebih khawatir pada reputasi atau pada Tuhan?

Spiritualitas bukan tentang tidak memiliki kebutuhan. Ia tentang tidak membiarkan kebutuhan mengendalikan nurani.

Yesus berkata:

“Kamu adalah garam dunia.” (Matius 5:13)

Garam tidak tampil mencolok. Ia larut. Ia bekerja tanpa sorotan.

Spiritualitas jurnalis Kristen bukan tentang tampil heroik. Ia tentang kesetiaan kecil setiap hari:

Memverifikasi meski melelahkan.
Menolak framing manipulatif.
Mengakui kesalahan jika keliru.
Memberi ruang klarifikasi.

Hal-hal kecil inilah yang membentuk integritas besar.

Pada akhirnya, spiritualitas seorang jurnalis Kristen bukan hanya terlihat dalam ayat yang dikutip. Ia terlihat dalam keputusan yang diambil ketika tidak ada yang melihat.

Ketika tulisan lahir dari hati yang jernih, ia bukan sekadar berita. Ia menjadi doa yang dituliskan.

Dan mungkin panggilan terdalam seorang jurnalis Kristen bukan menjadi paling keras, bukan menjadi paling viral, bukan menjadi paling ditakuti—

melainkan menjadi paling setia.

Setia pada kebenaran.
Setia pada nurani.
Setia pada Tuhan.

Karena dalam kesunyian itulah karakter dibentuk.
Dan dalam karakter itulah iman menjadi nyata.

Tinggalkan Balasan