Spirit of Deborah
Belajar Taat, Berani, dan Menggenapi Rencana Tuhan
Bacaan: Hakim-hakim 4:1–9
(Disampaikan pada Ibadah Wanita Berkat GBI Aletheia Tirta Kencana)
Sejak awal penciptaan, Tuhan membentuk perempuan sebagai penolong yang sepadan. Namun dalam perjalanan sejarah, makna “penolong” sering kali dipersempit dan disalahartikan, seolah-olah perempuan hanyalah pelengkap yang perannya bisa diabaikan. Dari sinilah kemudian muncul berbagai pergumulan, termasuk perjuangan panjang yang dikenal sebagai emansipasi wanita.
Firman Tuhan justru memperlihatkan sudut pandang yang berbeda. Alkitab mencatat banyak perempuan yang dipakai Tuhan secara luar biasa, bukan karena posisi sosialnya, tetapi karena ketaatan dan keberanian imannya. Salah satu tokoh yang menonjol adalah Debora.
Debora di Tengah Budaya Patriarkal
Debora hidup pada zaman Perjanjian Lama, dalam konteks masyarakat yang sangat patriarkal. Ia adalah seorang nabi perempuan sekaligus hakim bagi Israel. Ketika Tuhan menyampaikan firman-Nya mengenai pembebasan Israel dari penindasan, Debora tidak serta-merta mengambil alih peran kepemimpinan militer.
Ia justru memanggil Barak, seorang pemimpin pasukan, dan menyampaikan dengan jelas perintah Tuhan agar Barak memimpin 10.000 orang dari suku Naftali dan Zebulon untuk berperang. Ini menunjukkan kerendahan hati Debora dan penghargaannya terhadap tatanan kepemimpinan yang ada.
Namun Barak menolak untuk maju berperang jika Debora tidak ikut bersamanya. Di sinilah terlihat dinamika iman dan keraguan manusia. Barak memiliki posisi dan pasukan, tetapi ia membutuhkan kehadiran Debora sebagai peneguhan iman.
Pelajaran Hidup dari Spirit of Deborah
Dari kisah Debora dan Barak, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari:
1. Tuhan Memakai Siapa Saja yang Mau Taat
Tuhan tidak membatasi diri-Nya pada mereka yang terlihat kuat, berkuasa, atau dominan. Tuhan memakai siapa saja yang mau taat pada firman-Nya. Ketaatan membuka jalan bagi karya Tuhan dinyatakan.
2. Keberanian Sejati Lahir dari Iman
Keberanian bukan hasil dari jabatan, posisi, atau kekuatan manusia. Keberanian sejati lahir dari iman kepada Tuhan. Debora berani bukan karena statusnya, tetapi karena keyakinannya akan firman Tuhan.
3. Keraguan Tidak Membatalkan Rencana Tuhan
Keraguan manusia tidak menggagalkan rencana Tuhan. Namun keraguan bisa menggeser kehormatan. Barak tetap mengalami kemenangan, tetapi kehormatan kemenangan itu tidak sepenuhnya jatuh kepadanya.
4. Kemenangan Adalah Milik Tuhan
Manusia hanyalah alat di tangan Tuhan. Tidak ada kemenangan yang murni hasil usaha manusia. Ketika kemenangan terjadi, kemuliaan hanya layak diberikan kepada Tuhan.
5. Kepemimpinan Sejati Membangkitkan Orang Lain
Pemimpin sejati tidak mencari kemuliaan pribadi. Debora tidak mengambil alih peran Barak, tetapi membangkitkan dan mendorongnya untuk melangkah. Kepemimpinan yang benar adalah kepemimpinan yang memberdayakan, bukan menyaingi.
Penutup
Spirit of Deborah mengajarkan bahwa Tuhan bekerja melalui hati yang taat, iman yang teguh, dan sikap yang rendah hati. Perempuan—dan setiap orang percaya—dipanggil bukan untuk bersaing mencari pengakuan, tetapi untuk setia menggenapi peran yang Tuhan percayakan.
Kiranya kita semua dimampukan oleh Tuhan untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar. Dengan demikian, hidup kita diberkati dan menjadi saluran berkat bagi banyak orang.
— Abah Daniel


