Sobatande: Saat Orang Bekasi Memilih Bertahan atau Hilang
Oleh: Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas alias Mandor Alpin Bule)
Sampai di titik ini, Sobatande tidak lagi bisa dibicarakan sebagai sekadar budaya. Ia sudah berubah menjadi pertanyaan hidup:
apakah orang Bekasi masih mau hidup sebagai warga kampung,
atau sudah siap menjadi sekadar penghuni wilayah?
Orang Bekasi paham satu hal sejak lama: kampung itu bukan tanah, tapi sikap. Tanah bisa dijual. Rumah bisa dipindah. Tapi sikap hidup—itu yang menentukan apakah satu tempat masih layak disebut kampung atau sudah berubah jadi kumpulan orang asing yang kebetulan tinggal berdekatan.
Sobatande lahir dari situ. Ia bukan hasil diskusi panjang, tapi kesepakatan diam-diam untuk tidak saling meninggalkan. Dan kesepakatan itu hari ini sedang diuji paling keras sepanjang sejarahnya.
Di budaya Bekasi, diam bukan ketenangan. Diam adalah sinyal bahaya. Ketika orang mulai enggan bicara, takut menegur, atau pura-pura tidak tahu, Sobatande sedang sekarat.
Orang Bekasi dari dulu tahu:
yang menghancurkan kampung bukan konflik, tapi pembiaran.
Ribut bisa selesai. Pembiaran merusak pelan-pelan.
Maka Sobatande berdiri sebagai perlawanan terhadap budaya takut, budaya aman sendiri, budaya “bukan urusan gue”.
Sobatande tidak mengenal netral yang nyaman. Dalam situasi krisis, netral adalah kemewahan yang hanya dimiliki mereka yang tidak terdampak. Bagi orang Bekasi, netral di tengah ketidakadilan adalah keberpihakan yang paling pengecut.
Inilah klimaks Sobatande:
saat setiap orang dipaksa memilih—
ikut menjaga, atau ikut menghilang.
Tidak ada jalan tengah.
Yang paling mematikan bukan serangan dari luar, tapi pengkhianatan dari dalam. Orang yang tahu kampungnya rusak tapi memilih diam. Orang yang diuntungkan kebersamaan tapi lari dari tanggung jawab.
Dalam Sobatande, ini bukan sekadar salah moral. Ini penghancuran tatanan hidup.
Orang Bekasi keras pada hal ini, bukan karena benci, tapi karena sadar:
satu pengkhianatan sosial bisa merusak keberanian kolektif.
Pada titik ini, Sobatande tidak lagi bisa dinegosiasikan dengan zaman. Ia bukan nilai fleksibel. Ia garis batas.
Kalau Sobatande dikalahkan oleh individualisme,
yang runtuh bukan budaya—
tapi keberanian orang untuk hidup bersama.
Episode ini bukan penutup. Ini panggilan terakhir.
Sobatande hanya hidup jika:
- masih ada yang berani ngomong
- masih ada yang mau turun tangan
- masih ada yang siap disalahkan demi kebersamaan
Kalau tidak, Sobatande akan mati bukan karena dilawan, tapi karena ditinggalkan.
Dan orang Bekasi tahu:
budaya yang ditinggalkan warganya tidak akan diwarisi anak cucu.
Orang Bekasi tidak minta dunia mengerti.
Mereka cuma menuntut satu hal dari dirinya sendiri:
jangan jadi orang yang ninggalin kampung saat kampung butuh dijagain.
Sobatande adalah pilihan.
Pilihan untuk tetap manusia.
Pilihan untuk tetap warga.
Pilihan untuk tidak kabur dari tanggung jawab sosial.
Di titik ini, tidak ada lagi teori.
Tidak ada lagi romantisme.
Yang ada cuma pertanyaan terakhir:
lo masih bagian dari kampung,
atau cuma numpang hidup di dalamnya?
Itu Sobatande.
Dan di situlah orang Bekasi berdiri—
kalau perlu, sendirian,
asal tidak mengkhianati kebersamaan.


