Sobatande: Cara Orang Bekasi Menjaga Hidup Tetap Waras

Spread the love

Sobatande: Cara Orang Bekasi Menjaga Hidup Tetap Waras

Orang Bekasi itu hidupnya nggak pernah benar-benar aman. Dari dulu, kampung dibentuk oleh kerja keras, keterbatasan, dan tekanan dari luar. Dalam kondisi begitu, satu hal jadi jelas: kalau hidup dijalanin sendiri, yang datang bukan kebebasan, tapi kehancuran. Dari kesadaran itulah Sobatande lahir—bukan sebagai ajaran moral, tapi sebagai naluri bertahan hidup orang kampung.

Sobatande adalah cara orang Bekasi membaca keadaan. Kalau ada yang janggal, dibahas. Kalau ada yang salah, ditegur. Kalau ada yang susah, ditarik rame-rame. Diam bukan kebijaksanaan, tapi sinyal bahaya. Dalam logika Sobatande, masalah yang tidak diomongkan akan tumbuh jadi racun sosial.

Itu sebabnya orang Bekasi dikenal keras di omongan. Bukan karena suka ribut, tapi karena kejujuran dianggap bentuk tertinggi kepedulian. Lebih baik sakit sebentar karena ditegur, daripada rusak lama karena dibiarkan. Budaya ini tidak memberi ruang bagi kepura-puraan. Senyum palsu dianggap penghinaan terhadap kebersamaan.

Sobatande juga bukan sekadar gotong royong tenaga. Ia adalah gotong royong sikap. Keberanian buat hadir, buat ambil risiko sosial, dan buat disalahkan demi kepentingan bersama. Orang yang kuat tapi memilih aman sendiri dianggap tidak lulus sebagai warga kampung. Dalam budaya Bekasi, netralitas sering kali berarti lari dari tanggung jawab.

Yang menjaga Sobatande bukan aturan, tapi rasa malu. Malu kalau nggak ikut bantu. Malu kalau pura-pura nggak tahu. Malu kalau menikmati hasil tapi menghindari beban. Rasa malu inilah yang membuat kampung tetap hidup, bahkan saat sistem formal sering gagal bekerja.

Di tengah kota yang makin individual, Sobatande berdiri sebagai perlawanan sunyi. Ia menolak logika hidup serba hitung-hitungan. Ia melawan zaman yang mengajarkan tampil baik tapi absen saat dibutuhkan. Bagi orang Bekasi, nilai bukan di kata, tapi di kehadiran.

Sobatande juga menyimpan ingatan perlawanan. Kampung Bekasi tidak lahir dari ketundukan, tapi dari keberanian bertahan. Maka Sobatande keras terhadap pengkhianatan sosial—terhadap mereka yang menjual kebersamaan demi kepentingan pribadi. Ini bukan soal moral, tapi soal kelangsungan hidup bersama.

Hari ini Sobatande diuji. Generasi tumbuh dengan layar, bukan dengan ronda. Dengan notifikasi, bukan dengan tetangga. Jika Sobatande hanya diceritakan, ia akan mati. Budaya ini hanya hidup kalau diteladankan, bukan diceramahkan.

Bagi orang Bekasi, falsafah hidup itu sederhana tapi tegas:
kampung yang dijaga bersama akan bertahan,
kampung yang ditinggal warganya akan hilang.

Sobatande bukan cerita masa lalu.
Ia adalah jawaban orang Bekasi atas krisis manusia modern.
Dan selama masih ada yang mau jaga kampung ndiri,
Sobatande belum selesai.


Tinggalkan Balasan