Sobatande: Cara Orang Bekasi Berpikir, Bertahan, dan Melawan Zaman
Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas alias Mandor Alpin Bule)
Orang Bekasi itu dari dulu satu: nggak betah pura-pura. Hidup di kampung ngajarin bahwa masalah kalau dipendem bakal busuk, dan kebusukan paling berbahaya itu bukan di sawah atau got, tapi di hubungan antarwarga. Maka orang Bekasi terbiasa ngomong lurus, kadang keras, kadang panas—tapi jarang licik. Dari cara hidup itulah lahir satu falsafah yang bukan teori, bukan slogan, tapi praktik harian: Sobatande.
Sobatande bukan sekadar gotong royong. Ia adalah cara orang Bekasi berpikir tentang hidup bersama. Cara menentukan mana yang benar, mana yang salah, mana yang harus dibela, dan mana yang harus dilawan—bahkan kalau yang salah itu orang sendiri.
Etika Sosial Kampung: Kalau Bisa Bantu, Jangan Cuek
Dalam logika Sobatande, hidup bukan soal “gue nggak ganggu lo, lo nggak ganggu gue”. Itu logika kota dingin. Di kampung Bekasi, logikanya beda: kalau lo lihat masalah tapi diem, lo bagian dari masalah.
Sobatande adalah etika sosial tak tertulis. Ia mengikat warga bukan lewat hukum, tapi lewat rasa malu dan tanggung jawab. Orang yang kuat tapi nggak turun tangan dianggap cacat moral. Orang yang pintar tapi ngumpet dianggap kehilangan fungsi sosial.
Melawan Individualisme Tanpa Spanduk
Sobatande berdiri berseberangan dengan individualisme perkotaan. Ketika kota mengajarkan “urus diri sendiri”, Sobatande bilang: urus diri lo penting, tapi urus kampung lo wajib.
Di sinilah Sobatande menjadi kritik diam-diam terhadap pembangunan yang lupa manusia. Apartemen boleh tinggi, tapi kalau tetangga nggak saling kenal, itu bukan kemajuan—itu keterasingan.
Modal Sosial yang Lebih Kuat dari Dana
Banyak krisis bisa dilewati masyarakat Bekasi bukan karena anggaran besar, tapi karena Sobatande. Saat negara lambat, kampung bergerak. Saat sistem macet, warga saling sandar.
Sobatande adalah modal sosial: kepercayaan, jaringan solidaritas, dan keberanian kolektif. Itu sebabnya kampung bisa bertahan dalam situasi sulit, sementara sistem formal sering ambruk oleh prosedur.
Kepemimpinan Ala Sobatande: Siap Disalahkan, Bukan Cuma Dipuja
Dalam logika Sobatande, pemimpin bukan yang paling lantang bicara, tapi yang paling siap disalahkan demi kepentingan bersama. Pemimpin yang alergi kritik dianggap nggak paham kampung.
Orang Bekasi nggak cari pemimpin sempurna. Mereka cari yang mau turun, mau ditegur, dan nggak kabur saat warga ribut.
Seni Bertengkar Tanpa Memutus Persaudaraan
Sobatande juga mengajarkan cara berkonflik. Ribut boleh. Debat keras boleh. Tapi jangan bawa pulang dendam. Setelah argumen, masih bisa duduk bareng.
Ini seni sosial yang mulai langka: bertengkar tanpa membunuh hubungan. Bagi orang Bekasi, konflik itu soal gagasan, bukan harga diri.
Spiritualitas yang Membumi
Sobatande sejalan dengan nilai keagamaan, tapi tidak berhenti di ritual. Ia hidup dalam tindakan: menolong, menegur, membela yang lemah.
Beragama tanpa Sobatande bisa jadi kering. Sobatande tanpa nilai spiritual bisa liar. Keduanya saling mengunci agar manusia tetap manusia.
Budaya Politik Akar Rumput
Sobatande adalah politik kampung yang sehat: musyawarah, keberanian bicara, kontrol terhadap kekuasaan. Politik yang menakut-nakuti warga jelas anti-Sobatande. Politik yang membungkam kritik adalah politik yang asing bagi orang Bekasi.
Sobatande sekarang diuji generasi. Apakah diwariskan, atau dibiarkan mati jadi cerita nostalgia? Sobatande tidak bisa diturunkan lewat ceramah, tapi lewat keteladanan. Anak muda akan belajar Sobatande bukan dari spanduk, tapi dari sikap orang tuanya.
Sobatande bukan budaya tunduk. Ia mengajarkan perlawanan yang beradab: melawan ketidakadilan tanpa kehilangan martabat. Menolak serakah tanpa menjadi beringas.
Inilah cara orang kampung melawan zaman: tetap keras di prinsip, tapi utuh sebagai manusia.
Sobatande bukan romantisme masa lalu. Ia bekal masa depan. Di kota yang makin individual, Sobatande adalah benteng terakhir agar manusia tidak berubah jadi angka dan alamat.
Buat orang Bekasi, falsafah hidup itu sederhana tapi berat: Kalau kampung rusak, semua kena.
Kalau kampung dijaga, semua selamat.
Itu Sobatande.
Itu cara orang Bekasi berpikir.
Dan itu alasan kenapa kampung masih bertahan.


