Senyap namun Bermakna: Raden Penewu Tunjung Anom dan Jalan Panjang Pengabdian Budaya Jawa
YOGYAKARTA — Di balik wajah tenang dan senyum sederhana seorang Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, tersimpan kisah panjang pengabdian yang melampaui ruang dan waktu. Raden Penewu Tunjung Anom adalah satu di antara sedikit figur yang membuktikan bahwa pengabdian budaya bukanlah soal sorotan, melainkan kesetiaan menjalani laku hidup.
Terlahir dengan nama Raden Yohanes Suatmadi Hardjodipuro pada 1 Mei 1929, ia tumbuh dan besar dalam lingkungan yang akrab dengan seni tradisi Jawa. Karawitan menjadi jalan hidup yang ditekuninya sejak muda. Ia tidak hanya piawai memainkan gamelan, tetapi juga menurunkan ilmunya sebagai pendidik seni, membentuk generasi baru yang memahami makna musik Jawa sebagai jiwa kebudayaan.
Keahlian dan dedikasinya mengantarkan Suatmadi ke panggung internasional. Pada awal 1990-an, ia dipercaya menjadi pengajar karawitan di Amerika Serikat melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia. Di negeri asing, ia memperkenalkan gamelan Jawa sebagai warisan budaya yang kaya filosofi dan nilai spiritual, sekaligus menjadi duta kebudayaan Indonesia di mata dunia.
Namun, bagi Suatmadi, pencapaian internasional bukanlah tujuan akhir. Panggilan batin untuk kembali mengabdi pada tanah kelahiran membawanya pulang ke Yogyakarta. Pada 2001, di usia 72 tahun, ia memulai pengabdian sebagai Abdi Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat—sebuah pilihan hidup yang mencerminkan ketulusan dan kesadaran budaya.
Hingga 2026, di usia 97 tahun, ia tetap aktif dan dipercaya mengemban pangkat Panewu. Sultan Yogyakarta menganugerahkan asma paringan dalem Raden Penewu Tunjung Anom sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi panjang dan kontribusinya dalam menjaga marwah kebudayaan Keraton.
Tak hanya mengabdi secara struktural, Raden Penewu Tunjung Anom terus berkarya. Ia menciptakan gendhing, mengikuti lomba seni, dan menjadikan musik sebagai medium refleksi kebangsaan. Salah satu karyanya bahkan mengangkat tema Keistimewaan Yogyakarta, mempertegas posisi budaya sebagai fondasi identitas daerah.
Dalam keseharian, ia dikenal sebagai sosok sederhana dan penuh kehangatan. Kepada generasi muda, ia kerap menyampaikan pesan agar tidak lelah belajar, tetap sabar, dan menjalani hidup dengan sikap narima—nilai Jawa yang mengajarkan keteguhan batin dan keseimbangan hidup.
Kisah Raden Penewu Tunjung Anom menjadi pengingat bahwa kebudayaan tidak dijaga oleh gemerlap panggung, melainkan oleh manusia-manusia yang setia merawatnya dalam diam. Melalui laku hidup yang konsisten dan penuh makna, ia membuktikan bahwa pengabdian sejati akan selalu menemukan jalannya untuk tetap hidup dan diwariskan.


