Pelitakota – Kisah Saul adalah salah satu kisah paling menyentuh dan penuh pelajaran dalam sejarah kepemimpinan. Awalnya dipilih oleh Tuhan untuk memimpin Israel, Saul diberi kekuasaan dan kepercayaan besar, tetapi perlahan kekuasaan itu justru menghancurkan dirinya sendiri. Ia jatuh ke dalam perangkap ketakutan, kepahitan, dan ketidaktaatan yang akhirnya membawa kehancuran. Seperti yang tertulis dalam 1 Samuel 15:23, “Sebab pemberontakan sama seperti penyembahan berhala, dan keras kepala sama seperti menyembah berhala dan berhala-berhala lain. Karena itu, karena kamu menolak firman TUHAN, maka TUHAN juga menolak kamu sebagai raja atas Israel.” Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketidaktaatan dan keras kepala dalam kepemimpinan dapat membawa kehancuran yang tidak hanya menimpa diri sendiri, tetapi juga bangsa yang dipimpin. Kisah Saul bukan hanya sekadar cerita tentang kejatuhan seorang raja, tetapi juga sebuah panggilan untuk kita semua agar belajar dari kesalahannya dan menyadari bahwa kekuasaan yang tidak diimbangi dengan hati yang benar dapat menjadi jalan menuju kehancuran. Oleh karena itu, kisah Saul bukan sekadar narasi tentang seorang raja yang jatuh, melainkan sebuah otopsi kepemimpinan. Ia adalah studi kasus tentang bagaimana kekuasaan, alih-alih memuliakan, justru seringkali menghancurkan pemimpin dan mereka yang dipimpinnya. Saul, yang awalnya dipilih Tuhan, berakhir sebagai tiran yang paranoid dan tragis. Mengapa? Karena ia gagal memahami kebenaran pahit tentang kekuasaan: bahwa tanpa integritas, kerendahan hati, dan akuntabilitas, kekuasaan akan selalu merusak. Seperti kata pepatah Jawa, “Sing bisa rumangsa, aja rumangsa bisa,” yang berarti “yang bisa merasa (mawas diri), jangan merasa bisa (sombong)”. Saul terlalu cepat merasa bisa, padahal seharusnya ia selalu mawas diri. “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15). Namun, di balik tragedi ini, tersembunyi pelajaran berharga tentang hakikat kepemimpinan, kekuasaan, dan kemanusiaan.
Saul memulai dengan modal yang tampaknya ideal: ketampanan, kekuatan fisik, dan kerendahan hati yang tampak tulus. Namun, kerendahan hati itu sendiri adalah topeng yang menyembunyikan jurang ketidakpercayaan diri yang dalam. Ketika Samuel menunjuknya, Saul merendah, “Bukankah aku seorang bani Yamin, dari suku yang paling kecil di Israel? Dan bukankah kaumku yang paling hina dari segala kaum suku Binyamin?” (1 Samuel 9:21). Ini bukan sekadar kesopanan; ini adalah pengakuan implisit bahwa ia merasa tidak layak. Kekuasaan diberikan kepadanya, bukan diraih dengan perjuangan dan keyakinan diri. Inilah kesalahan fatal pertama. Saul mengajarkan kita bahwa kekuasaan sejati bukanlah hak, melainkan tanggung jawab yang harus diemban dengan kerendahan hati dan kesadaran diri. Seperti kata pepatah Sunda, “Lain ladang lain ilalang, lain hati lain pikiran,” yang berarti setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Saul gagal memahami bahwa kepemimpinan membutuhkan pemikiran yang terbuka dan kemampuan untuk memahami perspektif orang lain. “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:6).
Kekuasaan seperti asam yang menguji kualitas logam. Pada Saul, ia mengungkap kelemahan mendasar: ketidakamanan, ketidakmampuan mengambil keputusan sulit, dan ketergantungan pada validasi eksternal. Ketika menghadapi tantangan pertama, peperangan melawan Filistin, Saul panik dan melanggar perintah Tuhan dengan mempersembahkan korban bakaran sendiri (1 Samuel 13). Ini bukan hanya pelanggaran agama; ini adalah manifestasi dari ketidakmampuan memimpin di bawah tekanan. Ia lebih peduli tentang bagaimana ia terlihat di mata rakyat daripada menaati prinsip. Saul memperlihatkan kepada kita bahwa kekuasaan tanpa kebijaksanaan adalah pedang bermata dua; ia dapat membangun kerajaan, tetapi juga dapat menghancurkan jiwa. Seperti kata pepatah Jawa, “Kakehan gludhug kurang udan,” yang berarti “terlalu banyak guruh, kurang hujan” – banyak bicara, sedikit tindakan. Saul terlalu banyak membuat janji, tetapi kurang dalam tindakan nyata yang bijaksana. “Karena hikmat lebih berharga dari pada permata; segala sesuatu yang diinginkan tidak dapat menandinginya” (Amsal 8:11).
Kedatangan Daud adalah katalisator yang mempercepat kehancuran Saul. Pujian yang diterima Daud setelah mengalahkan Goliat memicu iri hati dan ketakutan Saul. “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa!” (1 Samuel 18:7). Alih-alih melihat Daud sebagai aset, Saul melihatnya sebagai ancaman. Obsesinya untuk melenyapkan Daud menghabiskan energinya dan mengalihkan perhatiannya dari tugas-tugas penting sebagai raja. Kekuasaan telah mengubahnya menjadi seorang tiran yang paranoid, lebih peduli tentang mempertahankan takhta daripada melayani rakyat. Saul mengajarkan kita tentang pentingnya mengenali dan mengatasi ketakutan kita. Ketakutan adalah musuh terbesar dalam diri kita; ia dapat membutakan kita terhadap kebenaran, meracuni pikiran kita, dan menghancurkan hubungan kita. Seperti kata pepatah Sunda, “Bobot pangayun timbang taraju,” yang berarti “segala sesuatu harus dipertimbangkan dengan matang”. Saul gagal mempertimbangkan dengan matang konsekuensi dari tindakannya yang didorong oleh ketakutan. “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7).
Kekuasaan memiliki kecenderungan merusak moralitas. Saul, yang awalnya tampak jujur, mulai berbohong, memanipulasi, dan bahkan mencoba membunuh Daud secara langsung (1 Samuel 19-21). Ia melanggar sumpah, mengkhianati teman, dan membantai para imam di Nob karena dicurigai membantu Daud (1 Samuel 22). Kekuasaan telah membutakannya terhadap nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi landasan kepemimpinannya. Saul menunjukkan kepada kita bahwa kekuasaan sejati bukanlah tentang mendominasi orang lain, melainkan tentang melayani mereka dengan integritas dan kasih. Seperti kata pepatah Jawa, “Gusti ora sare,” yang berarti “Tuhan tidak tidur” – setiap tindakan akan ada konsekuensinya. “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya? Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Markus 8:36-37).
Salah satu alasan utama mengapa kekuasaan merusak adalah kurangnya akuntabilitas. Saul tidak memiliki siapa pun yang berani menentangnya atau memintanya bertanggung jawab atas tindakannya. Samuel, nabi yang awalnya mendukungnya, kemudian menjadi pengkritiknya yang paling keras. Namun, Saul mengabaikan peringatan Samuel dan terus melakukan kesalahan (1 Samuel 15). Ia dikelilingi oleh para penjilat yang hanya mengatakan apa yang ingin ia dengar. Saul memperlihatkan kepada kita bahwa keberanian sejati bukanlah tentang tidak merasa takut, melainkan tentang bertindak meskipun kita merasa takut. Seperti kata pepatah Sunda, “Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak,” yang berarti “bersatu dalam suka dan duka”. Saul gagal membangun tim yang solid dan jujur, yang berani memberikan masukan yang konstruktif. “Hai para suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25).
Tragedi di Gunung Gilboa adalah konsekuensi logis dari kekuasaan yang merusak (1 Samuel 31). Ditinggalkan Tuhan, dikelilingi musuh, dan dihantui rasa bersalah, Saul memilih bunuh diri daripada menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Ia mati sebagai seorang pecundang, bukan sebagai pahlawan. Kekuasaan yang pernah ia genggam dengan begitu erat telah menghancurkannya. Namun, mungkin pelajaran terpenting dari kisah Saul adalah tentang pengampunan. Seperti kata pepatah Jawa, “Sepi ing pamrih, rame ing gawe,” yang berarti “bekerja tanpa mengharapkan imbalan, tetapi ramai dalam tindakan”. Saul terlalu fokus pada pamrih (keuntungan pribadi) sehingga melupakan tujuan utama kepemimpinan: melayani rakyat. “Karena upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23).
Kisah Saul adalah pelajaran pahit untuk kita semua, bukan hanya para pemimpin politik. Kekuasaan ada dalam berbagai bentuk: kekuasaan atas orang lain, kekuasaan atas sumber daya, kekuasaan atas diri sendiri. Jika kita tidak berhati-hati, kekuasaan dapat merusak kita seperti halnya merusak Saul. Namun, kisah Saul juga merupakan panggilan untuk merenungkan nilai-nilai yang kita anut dan pilihan yang kita buat. Apakah kita akan membiarkan ketakutan dan ambisi membutakan kita seperti Saul? Atau akankah kita memilih jalan kebijaksanaan, keberanian, dan pengampunan? Pilihan ada di tangan kita. Saul gagal memaafkan dirinya sendiri dan orang lain. Ia membiarkan kepahitan merusak hatinya dan menghancurkan hidupnya. Pengampunan adalah kunci untuk membebaskan diri dari belenggu masa lalu dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik. Seperti kata pepatah Sunda, “Nyaah ka indung, nyaah ka bapa, nyaah ka sasama,” yang berarti “sayangi ibu, sayangi ayah, sayangi sesama”. Saul melupakan pentingnya kasih sayang dan hubungan yang baik dengan sesama manusia. “Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Markus 11:26).
Mari belajar dari kesalahan Saul dan berjuang untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, manusia yang lebih baik. Mari gunakan kekuasaan kita untuk melayani, mengatasi ketakutan kita dengan keberanian, dan memaafkan diri sendiri dan orang lain dengan kasih. Dengan demikian, kita dapat menciptakan dunia yang lebih adil, damai, dan penuh harapan. Kisah Saul adalah peringatan, namun juga inspirasi. Kekuasaan dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk kehancuran. Pilihan ada di tangan kita. Mari memilih dengan bijak, karena “Gusti Allah mboten sare,” (Tuhan tidak tidur) dan setiap tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban. *”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dikehendaki TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8)*. Dengan demikian, mari kita renungkan kisah Saul dan memilih jalan kepemimpinan yang benar, yang berlandaskan pada keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati.
Salah satu aspek kunci yang hilang dari kepemimpinan Saul adalah kerendahan hati yang sejati. Ia terlalu fokus pada kekuasaan dan popularitas, sehingga melupakan pentingnya melayani orang lain. Kerendahan hati bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan yang memungkinkan seorang pemimpin untuk mendengarkan, belajar, dan mengakui kesalahan. Tanpa kerendahan hati, seorang pemimpin akan menjadi sombong dan tidak mau menerima masukan dari orang lain, yang pada akhirnya akan membawa kehancuran.
Selain kerendahan hati, akuntabilitas juga sangat penting dalam kepemimpinan. Seorang pemimpin harus bertanggung jawab atas tindakannya dan bersedia menerima konsekuensi dari kesalahan yang dibuatnya. Saul gagal dalam hal ini karena ia selalu mencari alasan dan menyalahkan orang lain atas kesalahannya. Akuntabilitas membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan dan komitmen untuk belajar dari pengalaman.
Kisah Saul adalah panggilan untuk kepemimpinan yang berintegritas. Integritas berarti bertindak sesuai dengan nilai-nilai moral dan etika yang kuat, bahkan ketika tidak ada yang melihat. Seorang pemimpin yang berintegritas akan jujur, adil, dan dapat dipercaya. Ia akan memimpin dengan contoh dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang benar.
Integritas bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari dalam semalam. Ia membutuhkan latihan dan komitmen yang terus-menerus. Seorang pemimpin harus selalu berusaha untuk meningkatkan diri dan mengembangkan karakter yang kuat. Ia harus bersedia untuk mengakui kelemahannya dan mencari bantuan dari orang lain ketika dibutuhkan.
Warisan Saul adalah peringatan dan pelajaran bagi kita semua. Ia menunjukkan kepada kita betapa berbahayanya kekuasaan yang tidak terkendali dan betapa pentingnya kerendahan hati, akuntabilitas, dan integritas dalam kepemimpinan. Kisah Saul juga mengajarkan kita tentang pentingnya pengampunan. Saul gagal memaafkan dirinya sendiri dan orang lain, yang pada akhirnya menghancurkan hidupnya.
Namun, di balik tragedi Saul, terdapat juga harapan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa kita semua memiliki potensi untuk membuat kesalahan, tetapi kita juga memiliki potensi untuk belajar dan tumbuh. Dengan merenungkan kisah Saul, kita dapat menghindari jebakan yang sama dan menjadi pemimpin yang lebih baik, manusia yang lebih baik.
Kisah Saul adalah cermin yang memantulkan pilihan-pilihan yang kita hadapi dalam hidup. Apakah kita akan mengejar kekuasaan dengan segala cara, ataukah kita akan memilih jalan kerendahan hati, integritas, dan pelayanan? Apakah kita akan membiarkan ketakutan dan kepahitan merusak hati kita, ataukah kita akan memilih pengampunan dan kasih? Pilihan ada di tangan kita.
Mari belajar dari kesalahan Saul dan berjuang untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, manusia yang lebih baik. Mari gunakan kekuasaan kita untuk melayani, mengatasi ketakutan kita dengan keberanian, dan memaafkan diri sendiri dan orang lain dengan kasih. Dengan demikian, kita dapat menciptakan dunia yang lebih adil, damai, dan penuh harapan. Kisah Saul adalah peringatan, namun juga inspirasi. Kekuasaan dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan, tetapi juga dapat menjadi kekuatan untuk kehancuran. Pilihan ada di tangan kita. Mari memilih dengan bijak, karena “Gusti Allah mboten sare,” (Tuhan tidak tidur) dan setiap tindakan kita akan dimintai pertanggungjawaban. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dikehendaki TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Dengan demikian, mari kita renungkan kisah Saul dan memilih jalan kepemimpinan yang benar, yang berlandaskan pada keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati.
Oleh Kefas Hervin Devananda


