Pelita kota – Kisah janda di Sarfat, yang terabadikan dalam 1 Raja-Raja 17:8-16, bukanlah sekadar catatan tentang intervensi Ilahi di tengah kelaparan. Ia adalah alegori mendalam tentang perjuangan eksistensial manusia, ujian iman yang melampaui logika, dan penemuan makna sejati di tengah krisis yang meruntuhkan harapan. Kisah ini menantang kita untuk merenungkan kembali fondasi kepercayaan kita dan mempertanyakan apa yang sebenarnya kita andalkan ketika dunia di sekitar kita runtuh.
Kelaparan di Sarfat bukan hanya tentang perut yang keroncongan. Ia adalah simbol dari kekeringan spiritual, kehampaan eksistensial yang menghantui manusia modern. Kita mungkin tidak mengalami kelaparan fisik seperti janda itu, tetapi kita seringkali merasa lapar akan makna, tujuan, dan koneksi yang otentik. Amos 8:11 memperingatkan, “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan ALLAH, “Aku akan mengirimkan kelaparan ke negeri ini, bukan kelaparan akan makanan dan bukan kehausan akan air, melainkan akan mendengarkan firman TUHAN.” Kelaparan ini adalah krisis identitas yang menuntut jawaban yang lebih dalam daripada sekadar pemenuhan kebutuhan materi.
Elia bukanlah sekadar tukang sulap yang datang untuk menyelesaikan masalah kelaparan. Ia adalah katalisator iman, sosok yang menantang janda itu untuk menggali lebih dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Perintah Elia yang tampak tidak masuk akal adalah provokasi Ilahi, undangan untuk melampaui logika dan memasuki ranah iman yang radikal. Ibrani 11:6 menegaskan, “Tetapi tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”
Segenggam tepung dan setetes minyak adalah representasi yang kuat dari keterbatasan dan kerentanan manusia. Kita seringkali merasa tidak berdaya di hadapan kekuatan-kekuatan besar yang mengendalikan hidup kita. Namun, kisah ini mengajarkan bahwa justru dalam kerentanan kita, kita menemukan kekuatan sejati kita. Mazmur 34:19 menyatakan, “TUHAN itu dekat kepada orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang yang remuk jiwanya.”
Ketaatan janda itu bukanlah tindakan mekanis tanpa pemikiran. Ia adalah pilihan sadar untuk mempercayakan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan, bahkan ketika segala sesuatu di sekitarnya tampak mustahil. Ketaatan ini bukan hanya mengubah nasibnya, tetapi juga mentransformasi kesadarannya, membukanya pada realitas yang lebih tinggi. Roma 12:2 menasihati, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Mukjizat kelimpahan yang dialami janda itu bukan hanya tentang pemenuhan kebutuhan fisik. Ia adalah manifestasi dari kasih Ilahi yang tak terbatas, bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang percaya. Mukjizat ini adalah pengingat bahwa berkat Tuhan tidak hanya bersifat materi, tetapi juga spiritual, emosional, dan relasional. Efesus 3:20 menyatakan, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, sesuai dengan kuasa yang bekerja di dalam kita.”
1. Iman sebagai Pilihan Eksistensial: Kisah janda di Sarfat menantang kita untuk melihat iman bukan sebagai warisan budaya atau doktrin agama, melainkan sebagai pilihan eksistensial yang kita buat setiap hari. Iman adalah keputusan untuk mempercayai sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, bahkan ketika tidak ada bukti empiris yang mendukungnya.
2. Keterbatasan sebagai Sumber Kreativitas: Keterbatasan janda itu bukanlah penghalang, melainkan pemicu kreativitas dan inovasi. Dalam keterbatasan, kita dipaksa untuk berpikir di luar kotak, mencari solusi yang tidak konvensional, dan mengandalkan sumber daya yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya.
3. Ketaatan sebagai Jalan Menuju Kebebasan: Ketaatan janda itu mungkin tampak sebagai penyerahan diri pada otoritas eksternal, tetapi sebenarnya ia adalah jalan menuju kebebasan sejati. Dengan melepaskan kendali atas hidupnya dan mempercayakan dirinya kepada Tuhan, janda itu menemukan kebebasan dari rasa takut, kecemasan, dan ketidakpastian.
4. Kasih sebagai Fondasi Etika: Tindakan janda itu yang rela berbagi dengan Elia adalah manifestasi dari etika kasih yang mendalam. Kasih bukan hanya perasaan sentimental, melainkan prinsip moral yang menuntut kita untuk mengutamakan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan kita sendiri.
5. Mukjizat sebagai Pengingat akan Transendensi: Mukjizat yang dialami janda itu adalah pengingat bahwa ada dimensi transenden dalam kehidupan kita yang melampaui hukum-hukum alam dan logika manusia. Mukjizat adalah undangan untuk membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas dan untuk mempercayai bahwa segala sesuatu mungkin bagi Tuhan.
Kisah janda di Sarfat bukan hanya cerita masa lalu, melainkan panggilan untuk transformasi radikal dalam kehidupan kita saat ini. Ia menantang kita untuk:
– Mempertanyakan asumsi-asumsi dasar kita tentang realitas.
– Menemukan makna sejati di tengah krisis eksistensial.
– Memilih iman di atas ketakutan.
– Mengandalkan kasih di atas kepentingan diri sendiri.
– Membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas.
Dengan merangkul pesan transformatif dari kisah janda di Sarfat, kita dapat melampaui mukjizat dan menemukan esensi iman yang sejati: kepercayaan yang berani, ketaatan yang tulus, dan kasih yang tak terbatas.
Oleh Kefas Hervin Devananda


