Sahabat-Sahabat Sekarang dan Kawan Sekerja Allah
Tentang Persahabatan sebagai Anugerah Tuhan di Tengah Sakit dan Pemulihan
Pelitakota.id Aku belajar mengenal arti persahabatan bukan ketika hidup sedang lapang,
melainkan ketika tubuhku rebah dan segala kepastian runtuh.
Sakit membuka tirai yang selama ini menutup mataku.
Ia menelanjangi hidup—mencabut gelar, peran, dan kemampuan.
Di ranjang rumah sakit, aku tidak datang kepada Tuhan sebagai orang kuat,
melainkan sebagai manusia yang rapuh, takut, dan penuh tanya.
“Sebab pada waktu aku lemah, justru aku menjadi kuat.”
(2 Korintus 12:10)
Di titik terendah itulah aku mulai memahami satu hal yang sangat mendasar:
bahwa persahabatan sejati bukan hasil usaha manusia,
melainkan anugerah Tuhan yang diberikan tepat pada waktunya.
Ketika sakit datang, banyak relasi diuji.
Ada yang menjauh, bukan karena jahat, tetapi karena tidak siap melihat kelemahan.
Ada yang hilang tanpa pamit, meninggalkan ruang kosong yang sunyi.
Kesepian itu nyata. Dan rasa ditinggalkan itu perih.
Namun Tuhan tidak membiarkanku tenggelam di dalamnya.
Di antara hari-hari yang berat itu, Tuhan menghadirkan sahabat-sahabat yang tinggal.
Mereka tidak datang membawa solusi,
tidak juga menuntut aku segera bangkit.
Mereka hanya hadir—dan kehadiran itu sendiri adalah penyembuhan.
“Sahabat mengasihi setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”
(Amsal 17:17)
Ayat itu tidak lagi sekadar tulisan suci.
Ia menjelma menjadi wajah-wajah nyata—
orang-orang yang memilih tetap tinggal
ketika aku tidak lagi menyenangkan untuk ditemani.
Aku mulai mengerti:
sahabat sejati bukan mereka yang datang saat kita bersinar,
melainkan mereka yang tetap melihat terang Tuhan
ketika kita sendiri merasa padam.
Persahabatan seperti itu tidak bisa dibeli,
tidak bisa direncanakan,
dan tidak bisa dipaksakan.
Ia adalah rahmat.
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.”
(Yakobus 1:17)
Di masa pemulihan, aku belajar bahwa Tuhan sering bekerja
bukan lewat mukjizat besar yang menggelegar,
melainkan lewat kesetiaan kecil yang berulang-ulang.
Pesan singkat yang menanyakan kabar.
Doa sederhana yang dikirim tanpa banyak kata.
Kesediaan untuk mendengar keluh kesah yang sama, lagi dan lagi.
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu.”
(Galatia 6:2)
Di situlah aku melihat tangan Tuhan bergerak.
Bukan secara spektakuler, tetapi sangat personal.
Sahabat-sahabat sekarang adalah alat kasih Allah.
Mereka mungkin tidak menyebut diri mereka rohani,
tetapi melalui mereka, Tuhan mengajarkanku arti iman yang hidup:
iman yang mau duduk bersama orang sakit,
iman yang tidak lari dari penderitaan,
iman yang setia menemani proses.
Dan perlahan aku sadar—
persahabatan bukan hanya hadiah untukku,
melainkan juga panggilan bagiku.
“Karena kita ini adalah kawan sekerja Allah.”
(1 Korintus 3:9)
Aku dipanggil untuk belajar hadir bagi orang lain
sebagaimana Tuhan menghadirkan sahabat-sahabat bagiku.
Bukan sebagai penyelamat,
melainkan sebagai teman seperjalanan.
Pemulihan tidak membuatku lebih hebat.
Ia membuatku lebih bersyukur.
Lebih rendah hati.
Lebih sadar bahwa hidup ini ditopang oleh kasih yang tidak kasatmata,
namun sangat nyata.
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.”
(Mazmur 34:19)
Kini aku percaya:
jika Tuhan masih memberiku sahabat,
itu berarti Tuhan belum selesai bekerja dalam hidupku.
Sahabat-sahabat sekarang adalah tanda kasih-Nya.
Dan di dalam persahabatan yang setia itu,
aku menemukan pengharapan—
bahwa Tuhan sungguh berjalan bersamaku,
melalui langkah-langkah manusia biasa
yang dipilih-Nya secara luar biasa.
Bogor, 02 Pebruari 2026 – 04 : 30 Wib


