Saat Loreng Mengajarkan Nada, Anak-Anak Perbatasan Menemukan Mimpi

Spread the love

Saat Loreng Mengajarkan Nada, Anak-Anak Perbatasan Menemukan Mimpi

Timor Tengah Selatan, NTT — Siapa sangka, dari sekolah sederhana di Tobu, irama drumband menjadi pintu lahirnya mimpi-mimpi baru. Prajurit Satgas Pamtas RI–RDTL Yonarhanud 2 Kostrad tak hanya menjaga perbatasan negara, tetapi juga turun langsung menjadi guru musik bagi anak-anak SMPN Bestaumuti.

Dengan penuh kesabaran, para prajurit membimbing siswa memainkan alat drumband. Dari cara memegang stik, menjaga tempo, hingga membangun kekompakan. Latihan ini bukan sekadar belajar musik, melainkan proses membentuk karakter: disiplin, kerja sama, dan rasa percaya diri.

Memasuki pertemuan ke-6, perubahan mulai terasa. Permainan anak-anak semakin rapi, ritme kian selaras, dan wajah-wajah yang semula ragu kini berubah penuh keyakinan. Setiap dentuman drum menjadi simbol semangat baru bagi generasi muda perbatasan.

Suasana latihan berlangsung akrab dan penuh tawa. Prajurit hadir bukan sebagai sosok yang menggurui, melainkan sebagai kakak yang membimbing. Di sela latihan, candaan dan motivasi mengalir, membuat anak-anak semakin berani mencoba dan tampil.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pengabdian prajurit tak selalu soal senjata dan patroli. Dari barak ke sekolah, dari loreng ke nada, prajurit Yonarhanud 2 Kostrad menunjukkan bahwa menjaga perbatasan juga berarti menjaga masa depan anak-anak bangsa.

Di Tobu, musik telah menjadi bahasa persaudaraan. Dan di balik setiap irama, tersimpan harapan bahwa anak-anak perbatasan berhak bermimpi setinggi siapa pun

Tinggalkan Balasan