Saat Kebenaran Tidak Nyaman, Banyak Orang Memilih Pergi

Spread the love

Saat Kebenaran Tidak Nyaman, Banyak Orang Memilih Pergi

Pelitakota.id Tidak semua orang meninggalkan Yesus karena tidak percaya.
Sebagian justru pergi karena terlalu percaya pada versi Yesus yang mereka ciptakan sendiri.

Kisah dalam 6:60–66 memperlihatkan momen yang jarang dibicarakan: saat Yesus tidak semakin populer, tetapi justru ditinggalkan. Bukan karena mukjizat berhenti, bukan karena kuasa-Nya berkurang, melainkan karena perkataan-Nya terasa keras dan tidak menyenangkan.

Yesus berbicara tentang diri-Nya sebagai Roti Kehidupan. Bagi banyak orang, pengajaran itu terlalu berat, terlalu menyinggung, dan terlalu jauh dari logika serta tradisi yang selama ini mereka pegang. Mereka bersungut-sungut, merasa terganggu, lalu satu per satu memilih mundur.

Di titik ini kita belajar satu hal penting:
kebenaran tidak selalu ramah terhadap kenyamanan.


Yesus Tidak Mengubah Kebenaran demi Popularitas

Hal yang mengejutkan, Yesus tidak mengejar mereka yang pergi. Ia tidak melunakkan pesan-Nya, tidak menyesuaikan ajaran-Nya agar lebih bisa diterima, dan tidak mengemis agar mereka tetap tinggal. Yesus membiarkan mereka pergi.

Ini menunjukkan sesuatu yang sangat tegas:
kebenaran tidak tunduk pada selera manusia.

Yesus tidak dipanggil untuk menyenangkan, tetapi untuk menyelamatkan. Dan keselamatan sering kali dimulai dari proses yang menyakitkan—ketika ego dilukai, pemahaman diguncang, dan kenyamanan diruntuhkan.


Masalahnya Bukan pada Yesus, tetapi pada Ekspektasi Kita

Banyak orang mengikuti Yesus dengan harapan tertentu:
Yesus yang memberkati tanpa menegur,
Yesus yang menghibur tanpa mengoreksi,
Yesus yang menyelamatkan tanpa mengubah.

Mereka datang bukan sebagai hati yang kosong, tetapi sebagai pribadi yang sudah penuh dengan konsep, standar, dan kemauan sendiri. Ketika Yesus mulai membongkar isi hati dan membentuk ulang kehidupan, mereka tidak siap.

Di sinilah persoalan iman sering muncul.
Kita ingin Tuhan mengikuti rencana kita, bukan kita yang dibentuk oleh kehendak-Nya.


Kebenaran Selalu Meminta Keputusan

Yohanes 6 tidak hanya berbicara tentang orang-orang yang pergi, tetapi juga tentang mereka yang bertahan. Kebenaran selalu memaksa kita memilih:
bertahan dan dibentuk, atau pergi dan tetap nyaman.

Dalam kehidupan rohani, pertanyaannya bukan apakah kita pernah tersinggung oleh Firman Tuhan, tetapi apa yang kita lakukan setelah tersinggung. Apakah kita membuka hati dan berubah, atau menutup diri lalu menjauh?

Yesus tidak pernah memaksa siapa pun untuk tinggal. Ia memberi ruang bagi kebebasan, tetapi juga menegaskan bahwa mengikuti Dia berarti siap dibentuk, bukan dimanjakan.


Mengikut Kristus Bukan Tentang Nyaman, tetapi Tentang Setia

Iman yang dewasa bukan iman yang hanya kuat saat Firman terasa manis, tetapi iman yang tetap berdiri ketika kebenaran terasa pahit. Mengikut Kristus berarti menyerahkan hak untuk selalu benar, demi dibentuk oleh Dia yang adalah Kebenaran itu sendiri.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana namun tajam:
apakah kita datang kepada Tuhan untuk dibentuk, atau hanya untuk dibenarkan?

Karena hanya mereka yang mau dibentuklah yang akan bertahan sampai akhir.


Oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


Tinggalkan Balasan