SAAT BERKAT DATANG, IMAN KITA MALAH MENYUSUT?
Bogor – Di banyak mimbar gereja, doa yang paling sering terdengar adalah doa meminta berkat. Orang percaya berlomba memohon pembukaan pintu rezeki, kenaikan jabatan, kesuksesan usaha, pemulihan ekonomi, dan kehidupan yang lebih layak. Tidak ada yang salah dengan itu. Bahkan Alkitab sendiri mencatat bahwa Allah adalah sumber berkat.
Namun ada satu kenyataan yang jarang dibahas secara terbuka: banyak orang kuat bertahan saat hidup susah, tetapi gagal menjaga iman saat hidup mulai diberkati.
Rasul Paulus pernah berkata:
“Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.”
(Filipi 4:12)
Kalimat Paulus ini bukan sekadar pengalaman hidup biasa, tetapi sebuah peringatan rohani yang dalam. Hidup dalam kekurangan memang berat, tetapi ternyata hidup dalam kelimpahan sering jauh lebih berbahaya.
Mari jujur.
Ketika hidup sedang sulit, doa kita bisa sangat tulus. Kita bangun pagi mencari Tuhan. Kita menangis dalam doa. Kita setia melayani walau tenaga terbatas. Kita rela memberi walau keadaan pas-pasan.
Saat itu, kita merasa tidak punya siapa-siapa selain Tuhan.
Namun realita yang sering terjadi justru menyedihkan. Ketika Tuhan mulai membuka jalan, banyak orang mulai berubah arah.
Saat berkat mulai datang:
- Persembahan mulai dihitung-hitung
- Pelayanan mulai dikurangi
- Waktu untuk Tuhan mulai disisihkan
- Komitmen pelayanan mulai longgar
Lebih parah lagi, sebagian orang mulai menggunakan alasan klasik: “Saya sibuk.”
Padahal, jika direnungkan dengan jujur, kesibukan sering kali bukan karena tidak punya waktu, tetapi karena prioritas sudah bergeser. Tuhan tidak lagi menjadi pusat, melainkan hanya pelengkap.
Fenomena lain yang semakin sering terlihat adalah munculnya janji-janji pelayanan yang tidak ditepati. Ada yang dulu berjuang bersama dalam pelayanan, tetapi ketika hidup mulai stabil, mereka perlahan menjauh.
Tidak memberi kabar.
Tidak menepati komitmen.
Tidak peduli lagi terhadap rekan sekerja pelayanan.
Tanpa disadari, ini bukan hanya melukai sesama pelayan Tuhan, tetapi mencerminkan hati yang mulai dingin terhadap panggilan ilahi.
Bangsa Israel pernah mengalami hal serupa. Saat Tuhan memberkati mereka dengan kelimpahan, mereka justru melupakan Allah.
Alkitab mencatat:
“Lalu engkau makan dan menjadi kenyang… tetapi hatimu menjadi tinggi dan engkau melupakan TUHAN, Allahmu.”
(Ulangan 8:12-14)
Sejarah rohani menunjukkan satu pola yang berulang: manusia sering setia saat membutuhkan Tuhan, tetapi melupakan Tuhan saat merasa sudah cukup.
Kemiskinan bisa menguji kesabaran.
Kesulitan bisa menguji ketekunan.
Namun kelimpahan menguji kemurnian hati.
Banyak orang jatuh bukan saat hidup susah, tetapi saat hidup mulai nyaman. Kelimpahan sering membuat manusia merasa mampu berdiri sendiri tanpa bergantung kepada Tuhan.
Padahal Yakobus menegaskan:
“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas.”
(Yakobus 1:17)
Berkat Tuhan bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi untuk dipercayakan. Ketika Tuhan memberi lebih, seharusnya hati kita menjadi lebih lembut, lebih murah hati, dan lebih sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Kelimpahan tanpa kerendahan hati hanya akan melahirkan kesombongan rohani.
Kesuksesan tanpa kesetiaan akan melahirkan kekosongan iman.
Hari ini, mungkin Tuhan sedang mengangkat kehidupan kita. Mungkin doa-doa lama mulai dijawab. Jika itu terjadi, mari bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah berkat membuat kita semakin dekat kepada Tuhan?
Atau justru membuat kita semakin jauh dari panggilan-Nya?
Apakah kesibukan kita membuat pelayanan berkembang?
Atau justru menjadi alasan untuk menghindari tanggung jawab rohani?
Pada akhirnya, berkat terbesar bukanlah harta, jabatan, atau kenyamanan hidup. Berkat terbesar adalah hati yang tetap setia ketika Tuhan mempercayakan banyak hal kepada kita.
Mari belajar bukan hanya bagaimana berdoa meminta berkat, tetapi juga bagaimana hidup benar ketika berkat itu sudah kita terima.
Karena iman sejati bukan hanya terlihat saat kita berlutut meminta pertolongan Tuhan, tetapi juga saat kita berdiri teguh menjaga kesetiaan ketika Tuhan menjawab doa kita.
Penulis:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


