RUANG BERSAMA HIDUP: FILSAFAT MULA SARA BUANA DAN KEARIFAN SUNDA YANG HIDUP DI JAWA BARAT

Spread the love

Jawa Barat,01 Januari 2026 Ketika jarum jam menyentuh tengah malam, tahun 2026 bukan hanya datang sebagai angka baru di kalender – melainkan sebagai panggilan untuk melihat hidup melalui lensa “Mula Sara Buana” – filosofi dasar budaya Sunda yang mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta saling terkait dan membentuk ruang bersama yang tak terpisahkan.

Di pagi hari pertama tahun ini, sinar matahari pertama menyebar merata melintasi bentangan tanah Jawa Barat – menyentuh lereng landai Gunung Salak yang tertutup pepohonan hijau di Bogor, mengalir ke dataran aluvial yang disirami Sungai Ciliwung, hingga menyinari hamparan sawah di Karawang dan pantai pasir putih di Pangandaran. Kita tidak hanya menyambut awal tahun, melainkan merasakan getaran hidup yang menyatukan alam, budaya, dan literasi kebudayaan dalam harmoni yang mendalam sesuai dengan ajaran “Mula Sara Buana”. Dengan keragaman geografis yang luar biasa – dari pegunungan hingga dataran rendah, dari kota hingga desa – Jawa Barat berdiri kokoh sebagai bukti bahwa kehidupan kita selalu berada di titik temu antara ketinggian pemikiran dan kedalaman akar budaya. Di sinilah literasi bukan sekadar kemampuan membaca tulisan, melainkan seni memahami dan menghargai makna di balik setiap senyum tetangga, setiap ritual tradisional, dan setiap hembusan angin yang membawa aroma tanah lembab setelah hujan – semua sebagai bagian dari ruang bersama hidup yang kita miliki.

Seperti rumah adat “Gedong Kirtya” di Bogor yang kokoh berdiri di atas fondasi batu vulkanik hasil pelapukan gunung berapi – tempat penyimpanan lontar-lontar kuno yang menyimpan khazanah budaya Sunda – ruang bersama hidup kita adalah perpaduan antara akar yang menancap dalam tanah nusantara dengan lapisan yang fleksibel menghadapi setiap perubahan zaman. Konsep “Sunda Wiwitan” sebagai paham kepercayaan alam yang masih lestari di berbagai daerah Jawa Barat – dari Tasikmalaya hingga Ciamis, dari Sukabumi hingga Garut – menjadi dasar dari nilai-nilai yang mengikat masyarakat dalam satu ruang bersama. Filosofi “Mula Sara Buana” yang mengajarkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang bisa hidup sendirian menjadi pondasi konsep “rukun” yang telah mengikat masyarakat Indonesia sejak dahulu kala. Kisah rakyat Sunda “Si Pitung” bahkan mengilustrasikannya dengan jelas: sosok pahlawan yang tidak pernah bekerja sendirian, melainkan selalu bergantung pada kerja sama dan dukungan masyarakat untuk membantu yang tertindas, menunjukkan betapa eratnya hubungan dalam ruang bersama hidup. Setiap individu adalah sel dalam tubuh besar yang bernama kehidupan, sama seperti bagaimana setiap daerah di Jawa Barat – Bogor, Bandung, Cirebon, dan lainnya – menyusun bentangan yang utuh dan makmur. Tepat di sinilah kearifan kita bertemu dengan pemikiran filsafat kontemporer seperti fenomenologi Emmanuel Levinas: bahwa keberadaan kita tidak pernah dimulai dari diri sendiri, melainkan selalu dari hubungan dengan yang lain dalam ruang bersama yang kita bagi. Setiap tatapan hangat di pasar tradisional, setiap tangan yang saling menjemput saat gotong royong, setiap aliran sungai yang menghubungkan wilayah satu dengan lainnya adalah bentuk wujud dari “Mula Sara Buana”, sejalan dengan nilai “Leu Leus jeung Lemes” (lemah lembut dan santun) yang menjadi ciri khas budaya Sunda dan tetap dijaga di setiap sudut Jawa Barat.

Kearifan lokal yang terasa hidup di setiap sudut Jawa Barat – dari desa hingga pusat kota – bukan sekadar ajaran sosial, melainkan bentuk praktis dari filosofi “Mula Sara Buana” tentang tanggung jawab bersama dalam ruang hidup yang sama. Di budaya Sunda, konsep “Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh” bukan hanya ungkapan kosong, melainkan implementasi konkret dari filsafat yang mengajarkan bahwa kehidupan adalah pertukaran dan hubungan yang saling menguntungkan. Di Bandung, tradisi ini terwujud dalam kegiatan “Arisan Sunda” yang masih aktif di setiap lingkungan – membuktikan bahwa saling berbagi adalah bagian dari ruang bersama hidup; di Cirebon, muncul dalam bentuk “Sedekah Laut” yang dilakukan bersama-sama sebagai rasa syukur atas nikmat alam yang dinikmati bersama; sedangkan di Purwakarta, terlihat dalam kerja bakti membersihkan “Waduk Jatiluhur” secara bergotong royong sebagai tanggung jawab bersama terhadap sumber daya alam yang menjadi bagian dari “Mula Sara Buana”.

“Silih asah” adalah pertukaran ilmu dan pemikiran yang kita lihat dalam pertemuan para petani yang duduk berkeliling di bawah pohon rindang, berbagi teknik bercocok tanam di lahan lereng yang subur. Ini juga terwujud dalam tradisi “Maos” di Cianjur – seni membaca dan menghayati karya sastra lisan maupun tulisan seperti syair-syair Sunda klasik untuk memperdalam pemahaman terhadap nilai budaya dan kearifan lokal – yang juga diadakan secara rutin di Tasikmalaya dan Garut sebagai cara menjaga kesinambungan dalam ruang bersama hidup. Bukan hanya tukang informasi, melainkan bentuk literasi tradisional yang sesuai dengan “Mula Sara Buana”: kemampuan untuk membaca pola alam yang saling terkait, memahami karakteristik tanah yang berbeda di setiap wilayah namun tetap menjadi bagian dari bentangan Jawa Barat, dan menyampaikan pengetahuan turun-temurun yang lebih berharga dari buku teks. Gagasan ini selaras dengan filsafat komunikasi Jürgen Habermas yang menyatakan bahwa kebenaran dan keadilan lahir dari dialog yang terbuka dan saling menghargai – sebuah konsep yang telah hidup dalam masyarakat kita jauh sebelum istilah filsafat kontemporer dikenal, dan merupakan implementasi dari “Mula Sara Buana”.

“Silih asih” adalah rasa kasih sayang yang tak mengenal batas, yang kita saksikan ketika masyarakat Jawa Barat dengan cepat merespons setiap kejadian alam di wilayah mana pun di provinsi ini. Mereka datang dengan bantuan makanan, obat-obatan, dan tenaga kerja tanpa perlu dipanggil – karena rasa peduli sudah menjadi bagian dari literasi nilai-nilai luhur lokal yang sesuai dengan filosofi “Mula Sara Buana”, juga tercermin dalam lagu tradisional Sunda “Es Lilin” yang mengajarkan kesucian perasaan dan penghargaan terhadap kehidupan sederhana sebagai bagian dari ruang bersama. Di Sumedang, tradisi “Rebab Kendang” tidak hanya sebagai seni musik, melainkan juga sarana untuk mengumpulkan dana bagi yang membutuhkan; di Indramayu, “Festival Udang” selalu diakhiri dengan pembagian hasil panen kepada warga kurang mampu. Kisah “Nyi Pohaci Sanghyang Asri” – dewi padi dalam kepercayaan Sunda – juga mengajarkan bahwa kelimpahan alam harus dinikmati bersama dan tidak boleh direnggut sendiri-sendiri, nilai yang tetap dijunjung tinggi di seluruh daerah penghasil padi di Jawa Barat dan merupakan inti dari “Mula Sara Buana”. Ini bisa kita hubungkan dengan konsep “care ethics” dari Carol Gilligan: bahwa moralitas bukan hanya tentang aturan yang kaku, melainkan tentang perhatian yang tulus dan tanggung jawab terhadap penderitaan orang lain dalam ruang bersama hidup kita.

Sedangkan “silih asuh” adalah bentuk solidaritas yang menjawab tantangan filsafat kontemporer tentang keberadaan kolektif – bahwa kebahagiaan dan kesejahteraan individu tidak bisa dipisahkan dari kebahagiaan bersama, sesuai dengan ajaran “Mula Sara Buana”. Sama seperti kesuburan tanah aluvial di Jawa Barat tidak terlepas dari peran sungai yang mengalir menyuburkannya, kehidupan kita menjadi bermakna ketika kita saling mendukung dan menguatkan satu sama lain – sebuah pemahaman yang juga terkandung dalam konsep “Nyantika” yang mengajarkan sikap rendah hati dan kesederhanaan, tetap terlihat dalam cara berinteraksi masyarakat Sunda di seluruh Jawa Barat.

Prasasti negara kita, Bhinneka Tunggal Ika, bukan sekadar slogan yang terukir di monumen, melainkan filsafat tentang kesatuan dalam perbedaan yang sejalan dengan filosofi “Mula Sara Buana” dan lahir dari literasi kebudayaan Indonesia yang mendalam. Di budaya Sunda, hal ini selaras dengan pandangan hidup yang tercermin dalam konsep “Nyunda” – pembelajaran budaya lokal yang tidak hanya menjaga kearifan leluhur, tetapi juga mengajarkan untuk menghargai keragaman yang ada sebagai bagian yang tak terpisahkan dari ruang bersama hidup. Konon, pada masa kerajaan Sunda Pajajaran, raja selalu mengundang berbagai ulama dan cendekiawan dari berbagai latar belakang untuk berkumpul dan berdiskusi – membuktikan bahwa semangat pluralisme sudah ada jauh sebelum zaman modern dan merupakan implementasi dari “Mula Sara Buana” yang mengakui bahwa setiap unsur memiliki peran penting dalam keseluruhan.

Di bentangan tanah Jawa Barat yang beragam – mulai dari dataran yang subur untuk menanam padi dan sayuran, lereng yang cocok untuk kehutanan dan perkebunan, hingga kawasan perkotaan yang ramai dengan aktivitas modern – kita melihat contoh konkrit bagaimana keragaman bisa menjadi kekuatan dalam ruang bersama hidup, sesuai dengan “Mula Sara Buana”. Ini selaras dengan pemikiran filsafat kontemporer Jacques Derrida tentang “differance” yang mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah hal yang harus dihilangkan atau ditekan, melainkan sumber kekuatan dan kemaknaan yang membuat kesatuan menjadi lebih kaya dan berwarna.

Di seluruh Jawa Barat yang menjadi rumah bagi berbagai suku, agama, dan latar belakang budaya, perbedaan bukanlah hambatan – melainkan seperti bunga rampai yang setiap jenisnya memberikan warna dan aroma sendiri-sendiri, namun ketika disatukan menjadi karya seni yang memukau. Metafora ini hidup dalam literasi rakyat Indonesia, dari pantun hingga cerita dongeng yang diajarkan oleh nenek moyang kita, juga tercermin dalam nilai “Tata Krama” (sopan santun) yang menjadi dasar hubungan sosial di budaya Sunda dan merupakan cara menjaga keharmonisan dalam ruang bersama hidup sesuai dengan “Mula Sara Buana”. Misalnya, ketika merayakan “Hari Raya Galungan” atau “Waisak”, warga Sunda selalu mengundang tetangga dari berbagai agama untuk bersama-sama menikmati hidangan khas seperti “Nasi Liwet Sunda” atau “Serabi Solo” – membuktikan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan peluang untuk memperkaya ruang bersama hidup kita. Di setiap daerah Jawa Barat – dari Kuningan hingga Majalengka, dari Banjar hingga Pangandaran – tradisi “Sugihan” atau syukuran setelah panen raya selalu diadakan secara bersama, tanpa memandang suku atau agama sebagai bentuk wujud dari “Mula Sara Buana”.

Literasi kebudayaan lokal mengajarkan kita untuk “membaca” makna di balik setiap adat istiadat, bahasa daerah yang unik, dan tradisi perayaan yang berbeda – sama seperti bagaimana berbagai jenis vegetasi di lereng gunung dan dataran kota saling melengkapi menjadikan bentangan Jawa Barat semakin hijau dan segar sesuai dengan prinsip “Mula Sara Buana”. Seni “Batik Sunda” dengan motif yang berbeda di setiap daerah – seperti motif “Parang Rusak” di Cirebon, “Megamendung” di Bandung, dan “Ciwidey” di daerah yang sama – juga menjadi bukti bahwa keragaman bisa menjadi kekuatan yang menyatukan dalam ruang bersama hidup. Ini adalah bentuk konkrit dari filsafat pluralisme yang kini menjadi fokus perhatian dunia kontemporer – bahwa tidak ada satu-satunya kebenaran yang mutlak, melainkan banyak cara yang sah untuk memahami dan menghargai kehidupan, sebuah pemahaman yang terus diperkuat oleh filosofi “Mula Sara Buana” dan literasi kebudayaan yang kuat dan hidup di tengah kita.

Konsep gotong royong adalah manifestasi nyata dari filosofi “Mula Sara Buana” dan pemikiran filsafat kontemporer tentang “kebersamaan sebagai esensi keberadaan” yang diajarkan oleh Martin Heidegger dalam karyanya tentang Dasein, sekaligus merupakan bentuk literasi praktis yang telah mengakar di setiap lapisan masyarakat Jawa Barat. Di budaya Sunda, gotong royong dikenal juga dengan konsep “Sabilulungan” – yang berarti bergotong royong dan saling menolong dalam harmoni masyarakat, bahkan terwujud dalam tradisi seperti “Nyi Rib” (menangkap ikan bersama menjelang Ramadhan) yang masih dilakukan di daerah pesisir seperti Pangandaran dan Cirebon, serta “Lil Iuran” (kerja bakti sukarela) yang masih sering kita lihat di kampung-kampung di seluruh Jawa Barat sebagai implementasi dari “Mula Sara Buana”. Kisah rakyat “Lutung Kasarung” juga menggambarkan betapa pentingnya kerja sama: sang pangeran yang rela hidup sederhana dan bekerja bersama rakyat untuk mencapai tujuan bersama, menunjukkan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dalam ruang bersama hidup sesuai dengan filosofi Sunda yang kita anut.

Di berbagai daerah Jawa Barat, kita sering menyaksikan momen-momen indah ketika masyarakat berkumpul bersama – entah untuk membersihkan sungai yang mulai tersumbat di Bogor, membangun saluran drainase di wilayah berisiko banjir di Bandung, atau hanya merayakan hari besar seperti Lebaran, Natal, atau Hari Raya Nyepi bersama-sama di mana saja di provinsi ini. Mereka tidak hanya melakukan pekerjaan bersama, melainkan menunjukkan bagaimana filosofi “Mula Sara Buana” bisa diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh hati dan memperkuat ruang bersama hidup kita.

Lapisan tanah aluvial yang terbentuk dari pasir, tanah liat, dan kerikil hasil pelapukan batuan menjadi simbol yang sempurna dari “Mula Sara Buana” – bagaimana kesatuan dari berbagai unsur yang berbeda bisa menciptakan sesuatu yang kokoh, produktif, dan bermanfaat bagi semua. Analog ini hidup dalam literasi tradisional masyarakat kita, yang juga mengajarkan konsep “Nyantri” dan “Nyakola” – yaitu belajar agama dan ilmu pengetahuan modern secara seimbang, tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan dalam ruang bersama hidup. Di seluruh Jawa Barat, sekolah-sekolah lokal masih mengajarkan seni “Angklung” yang menjadi warisan budaya dunia – dari sekolah dasar di Sukabumi hingga perguruan tinggi di Bandung, angklung selalu menjadi alat untuk mengajarkan kerja sama dan harmoni yang sesuai dengan prinsip “Mula Sara Buana”.

Di era digital yang seringkali membuat orang terisolasi meskipun terhubung secara teknis, konsep ruang bersama hidup yang terkandung dalam “Mula Sara Buana” tetap relevan dan bahkan berkembang di tengah masyarakat Jawa Barat. Komunitas muda di Bogor mengembangkan gerakan “Sabilulungan Digital” – menggunakan platform online untuk mengkoordinasikan kegiatan bakti sosial dan berbagi pengetahuan budaya Sunda kepada generasi muda. Gerakan serupa juga berkembang di Bandung dengan nama “Sunda Digital” dan di Cirebon dengan “Cirebon Pintar Budaya” – semua sebagai cara membawa filosofi “Mula Sara Buana” ke dalam zaman modern. Ini selaras dengan gagasan filsafat dunia maya dari Sherry Turkle yang mengingatkan kita bahwa koneksi yang sebenarnya bukanlah tentang banyak teman di media sosial, melainkan tentang kemampuan untuk saling membantu dan mendukung secara nyata – sebuah nilai yang juga terwujud dalam gerakan “Beas Perelek” di budaya Sunda, di mana warga menyumbang beras untuk dibagikan kepada yang membutuhkan, bahkan kini dilakukan dengan sistem pendaftaran online yang lebih efisien dan telah menyebar ke seluruh daerah di Jawa Barat sebagai wujud dari “Mula Sara Buana” yang terus hidup dan berkembang.

Hidup adalah jalan yang kita lalui bersama dalam ruang yang sama, di mana setiap langkah adalah pertemuan, setiap pijakan adalah pembelajaran – sesuai dengan filosofi “Mula Sara Buana” yang menjadi dasar dari ruang bersama hidup kita di Jawa Barat. Begitulah makna yang bisa kita petik dari kearifan lokal dan filsafat kontemporer yang saling melengkapi dengan sempurna, dengan bentangan tanah Jawa Barat sebagai panggung hidup yang nyata dan penuh makna, serta literasi kebudayaan lokal sebagai alat yang memperkuat kita untuk memahami dan menghargai setiap aspek kehidupan yang kita jalani bersama.

Filosofi kehidupan budaya Sunda – dari “Mula Sara Buana” sebagai dasar utama, hingga implementasinya dalam bentuk Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dan Sabilulungan, dari tradisi Maos hingga Beas Perelek, dari kisah Si Pitung hingga Lutung Kasarung – menjadi bagian tak terpisahkan dari pondasi ruang bersama hidup kita, menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas bisa bersatu dalam harmoni yang indah sesuai dengan prinsip yang telah kita anut sejak dahulu. Semua bentuk budaya Sunda yang masih lestari di setiap daerah Jawa Barat – dari seni musik angklung dan rebab kendang, kerajinan batik dan anyaman bambu, hingga tradisi sosial seperti arisan dan sedekah bersama – menjadi bukti bahwa warisan budaya bukan hanya milik satu daerah, melainkan kekayaan bersama yang memperkuat ikatan dalam ruang hidup kita yang sama.

Indonesia bukan hanya negara yang memiliki budaya kaya dan beragam, melainkan juga laboratorium hidup bagi filsafat kontemporer tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan damai, saling menghargai, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik – semua ini didukung oleh filosofi “Mula Sara Buana” dan literasi kebudayaan yang kuat dan terus berkembang seiring waktu. Sebagaimana pepatah Jawa yang mengatakan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” – di depan menjadi contoh yang baik, di tengah membangun semangat dan semangat kebersamaan, di belakang memberikan dukungan tanpa pamrih – ini juga selaras dengan pepatah Sunda “Urang ka urang, linggih ka linggih” yang mengajarkan bahwa setiap orang memiliki hak dan martabat yang sama, serta harus saling menghargai perbedaan sebagai bagian dari keseluruhan yang utuh sesuai dengan “Mula Sara Buana”.

Nilai ini tetap dijunjung tinggi di seluruh Jawa Barat, dari masyarakat pedesaan hingga perkotaan. Sama seperti bagaimana bentangan tanah Jawa Barat terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman namun tetap menjaga akar dan identitasnya yang khas, filosofi “Mula Sara Buana” menjadi jembatan yang kokoh menghubungkan masa lalu yang kaya makna, kini yang penuh dinamika, dan masa depan yang penuh harapan. Saat kita melangkah ke tahun 2026 dan seterusnya, mari kita lanjutkan warisan ini – menjadikan “Mula Sara Buana” sebagai landasan utama dalam membangun ruang bersama hidup yang lebih baik, di mana kearifan lokal menjadi kompas dan filsafat kontemporer sebagai sayap untuk terbang bersama menuju masa depan yang lebih gemilang.

Semoga artikel ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca untuk lebih menghargai khazanah budaya lokal kita dan menjadikan filosofi “Mula Sara Buana” sebagai panduan dalam menjalani kehidupan sehari-hari dalam ruang bersama yang kita miliki!

Ditulis oleh Kefas Hervin Devananda (Romo Kefas)

Tinggalkan Balasan