Rohani di Mimbar, Kikir di Kehidupan: Fenomena Memalukan di Gereja

Spread the love

Pelitakota.id Di banyak gereja hari ini kita sering mendengar khotbah yang indah tentang kasih, iman, dan pengorbanan. Kata-kata tentang memberi, berbagi, dan hidup dalam kemurahan hati sering disampaikan dengan penuh semangat dari mimbar.

Namun ada satu kenyataan yang cukup menyedihkan dan jarang dibicarakan secara jujur.

Tidak sedikit orang yang mengaku anak Tuhan, bahkan pelayan Tuhan, tetapi dalam kehidupan nyata justru dikenal sangat kikir dan pelit.

Ironisnya, mereka bisa berkhotbah tentang berkat, mengajar tentang memberi, dan menasihati jemaat untuk hidup murah hati. Tetapi ketika tiba waktunya mereka sendiri untuk memberi, membantu orang lain, atau berbagi berkat, hati mereka tiba-tiba menjadi sangat perhitungan.

Ada yang selalu berkata:
“Sekarang sedang sulit.”
“Ada banyak kebutuhan lain.”

Padahal dalam banyak hal lain, mereka tidak pernah terlalu sulit mengeluarkan uang untuk kepentingan pribadi.

Fenomena ini menjadi ironi yang memalukan bagi kehidupan gereja.

Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika standar yang digunakan kepada jemaat berbeda dengan standar yang dipakai untuk diri sendiri.

Ketika jemaat sedang mengalami kesulitan ekonomi, sakit, atau menghadapi masalah hidup, seringkali yang mereka dengar hanyalah kalimat:

“Berdoa saja kepada Tuhan.”
“Tingkatkan imanmu.”
“Jangan kurang percaya.”

Seolah-olah kesulitan yang dialami jemaat hanya soal iman yang lemah.

Namun ketika seorang pendeta atau pelayan Tuhan membutuhkan sesuatu—entah untuk pelayanan, proyek gereja, atau kepentingan tertentu—jemaat justru ditantang untuk memberi.

Tidak jarang mereka berkata:

“Siapa yang mau diberkati Tuhan, mari menabur.”
“Kalau memberi, Tuhan akan melipatgandakan berkatmu.”

Akhirnya jemaat didorong untuk memberi dengan janji berkat, sementara ketika mereka sendiri membutuhkan pertolongan nyata, mereka hanya disuruh berdoa dan bersabar.

Ironi seperti ini membuat banyak orang mulai bertanya-tanya:

Apakah ajaran tentang memberi benar-benar lahir dari kasih, atau hanya menjadi alat untuk menekan jemaat?

Padahal Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang memberi.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal.”
(Yohanes 3:16)

Kasih Tuhan selalu diwujudkan melalui tindakan nyata.

Firman Tuhan juga berkata:

“Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
(Matius 6:21)

Artinya cara seseorang menggunakan hartanya menunjukkan di mana sebenarnya hatinya berada.

Lebih jauh lagi Alkitab mengingatkan:

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”
(1 Yohanes 3:17)

Ayat ini sangat jelas.

Kasih kepada Tuhan tidak hanya diucapkan dalam doa atau khotbah, tetapi terlihat dari kepedulian kepada sesama.

Terlebih lagi bagi pemimpin rohani.

Alkitab menegaskan:

“Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu… dan jadilah teladan bagi kawanan domba itu.”
(1 Petrus 5:2-3)

Seorang gembala bukan hanya pandai berbicara tentang iman, tetapi juga memberi contoh melalui hidupnya.

Jika pelayan Tuhan hidup dengan hati yang kikir dan perhitungan, bagaimana jemaat bisa belajar tentang kemurahan hati?

Jika pemimpin rohani hanya pandai meminta jemaat memberi, tetapi tidak memiliki kepedulian kepada jemaat yang sedang menderita, maka pesan tentang kasih kehilangan maknanya.

Menjadi orang Kristen bukan hanya soal rajin beribadah atau pandai berkhotbah.

Menjadi anak Tuhan berarti memiliki hati yang berubah, hati yang peduli, hati yang rela memberi.

Sebab firman Tuhan berkata:

“Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
(2 Korintus 9:7)

Iman yang sejati tidak hanya terdengar dari mimbar.

Iman yang sejati terlihat dari kehidupan sehari-hari.

Dan salah satu tanda iman yang hidup adalah hati yang murah hati.

Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak orang yang pandai berbicara tentang kasih.

Dunia membutuhkan anak-anak Tuhan yang benar-benar hidup dalam kasih itu.

Ev. Kefas Hervin Devananda
(Romo Kefas) S.H., S.Th., M.Pd.K


Tinggalkan Balasan