RINDU INI TERLALU PANJANG UNTUK SEMBUH

Spread the love

RINDU INI TERLALU PANJANG UNTUK SEMBUH

Aku masih ingat hari itu, Papa.
Hari ketika dunia berhenti terasa aman.
Aku berusia dua belas tahun—usia ketika seorang anak seharusnya masih percaya bahwa ayahnya tidak akan pernah pergi.

Tapi kau pergi.

Tidak ada peringatan.
Tidak ada pelukan terakhir.
Tidak ada kata pamit yang bisa kusimpan.
Hanya keheningan yang tiba-tiba terlalu besar untuk dada anak sekecil aku.

Sejak 1986, hidup memang terus berjalan,
namun hatiku tertinggal di sana.
Aku tumbuh dengan satu lubang di dada,
lubang yang tidak mengecil oleh waktu,
hanya menjadi lebih sunyi.

Aku melihat Mama runtuh perlahan,
lalu berdiri kembali demi kami.
Ia menangis di tempat yang tak bisa kulihat,
menjadi kuat dengan cara yang menyakitkan.
Dari Mama aku belajar:
mencintai berarti bertahan meski remuk.

Aku dewasa sebelum waktunya, Papa.
Aku belajar tersenyum ketika ingin berteriak,
belajar diam ketika ingin bertanya.
Dan luka itu tidak pernah sembuh—
ia hanya belajar hidup bersamaku.

Aku menikah.
Aku menjadi ayah.
Dan justru di sanalah aku benar-benar mengerti
betapa besarnya kehilangan itu.

Setiap kali aku memeluk anakku,
aku merasa hangat sekaligus kosong.
Karena di balik pelukan itu
ada rindu yang tak pernah terpenuhi.
Aku memberi apa yang tak pernah sempat kuterima,
menjadi ayah tanpa pernah selesai menjadi anak.

Mama adalah rumah terakhirku.
Selama ia ada, aku masih punya tempat pulang.
Namun pada 10 Januari 2023,
rumah itu runtuh.
Mama menyusulmu, Papa,
dan aku ditinggalkan sendirian oleh waktu.

Kini aku lima puluh dua tahun.
Tubuhku menua,
langkahku berat,
namun kesedihanku tetap berusia dua belas tahun.
Ia tidak tumbuh.
Ia hanya menunggu.

Ada malam-malam
ketika aku ingin memanggil namamu,
tetapi sunyi yang menjawab.
Ada doa-doa yang patah di tenggorokan,
karena terlalu banyak rindu
yang tak tahu ke mana harus pulang.

Papa,
aku tidak meminta hidup diulang.
Aku tidak menuntut takdir berubah.
Aku hanya ingin bertemu.
Sekali saja.

Aku ingin berdiri di hadapanmu
tanpa harus kuat,
tanpa harus dewasa.
Aku ingin menangis sebagai anakmu,
bukan sebagai lelaki yang sudah terlalu lama bertahan.

Jika pertemuan itu hanya mungkin
di batas yang tak bisa kulihat sekarang,
biarlah aku menunggu.
Dengan rindu yang menyakitkan,
dengan cinta yang tidak pernah mati.

Karena ternyata, Papa,
rindu ini terlalu panjang untuk sembuh.

Dan aku masih di sini—
menunggumu.


Tinggalkan Balasan