Refleksi Rohani: Ketika Tuhan Berbicara Melalui Kebersamaan di KPN 2026

Spread the love

Refleksi Rohani: Ketika Tuhan Berbicara Melalui Kebersamaan di KPN 2026

Bandung – Mengikuti Konferensi Penginjil Nasional (KPN) 2026 bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan pelayanan. Bagi saya, perjalanan beberapa hari dalam konferensi ini menjadi pengalaman rohani yang mengajak saya masuk lebih dalam untuk merenungkan panggilan hidup sebagai pelayan Tuhan. Bukan hanya melalui materi yang disampaikan di mimbar, tetapi justru melalui momen-momen sederhana yang Tuhan pakai untuk berbicara kepada hati.

Ada satu pengalaman yang terus teringat dalam benak saya. Di sela-sela kegiatan, ketika para peserta berkumpul di meja makan, percakapan ringan berubah menjadi ruang persekutuan yang sangat mendalam. Dalam suasana yang sederhana, para pelayan Tuhan saling berbagi pengalaman pelayanan, pergumulan iman, serta perjalanan hidup yang penuh tantangan.

Di tengah percakapan tersebut, seorang peserta yang memilih untuk tidak mempublikasikan identitasnya membagikan kesaksian yang sangat menyentuh hati. Ia menceritakan bagaimana dalam perjalanan pelayanannya, ia pernah mengalami kelelahan rohani yang begitu berat. Ia tetap melayani, tetap berdiri di mimbar, tetap menjalankan tugasnya, tetapi di dalam hatinya ia merasa kosong dan lelah.

Kesaksian itu membuat saya merenung. Betapa sering seorang pelayan Tuhan terlihat kuat di hadapan jemaat, tetapi sesungguhnya sedang berjuang dalam keheningan. Pelayanan sering kali menuntut kita memberi, memberi, dan terus memberi, hingga tanpa disadari kita lupa untuk kembali menerima kekuatan dari Tuhan.

Peserta tersebut mengatakan bahwa kehadirannya di KPN 2026 menjadi momen perjumpaan kembali dengan Tuhan. Ia merasakan bagaimana Tuhan meneguhkan panggilannya melalui firman, doa, dan persekutuan dengan sesama pelayan Tuhan. Ia menyadari bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan pelayan-Nya, bahkan ketika hati merasa lelah.

Kesaksian itu menjadi cermin bagi saya pribadi. Saya mulai bertanya dalam hati, apakah selama ini saya melayani karena panggilan kasih, atau hanya karena tanggung jawab pelayanan? Apakah api panggilan saya masih menyala, atau perlahan mulai redup karena rutinitas dan tekanan pelayanan?

Melalui KPN 2026, saya belajar bahwa pelayanan sejati lahir dari hubungan yang intim dengan Tuhan. Pelayanan bukan hanya tentang strategi, metode, atau program yang terencana dengan baik. Pelayanan adalah buah dari hati yang terus melekat kepada Tuhan. Ketika hubungan dengan Tuhan mulai renggang, maka pelayanan pun perlahan kehilangan makna rohaninya.

Saya juga belajar bahwa Tuhan sering kali bekerja melalui komunitas rohani. Percakapan sederhana di meja makan, doa bersama, dan kesaksian sesama pelayan Tuhan ternyata menjadi sarana Tuhan untuk memulihkan hati. Saya menyadari bahwa pelayanan bukan perjalanan pribadi, tetapi perjalanan bersama dalam tubuh Kristus.

Refleksi ini membawa saya memahami bahwa Tuhan tidak pernah menuntut kesempurnaan dari pelayan-Nya. Tuhan hanya mencari kesetiaan. Bahkan pelayanan yang dimulai dari hal kecil pun dapat dipakai Tuhan untuk membawa dampak besar ketika dilakukan dengan hati yang taat.

KPN 2026 mengingatkan saya bahwa gereja ada karena misi dan gereja ada untuk misi. Namun sebelum gereja menjalankan misi, para pelayan Tuhan harus terlebih dahulu dipulihkan hatinya. Pelayanan yang kuat lahir dari hati yang dipenuhi kasih Tuhan, bukan dari kemampuan manusia semata.

Saya pulang dari konferensi ini dengan kesadaran baru bahwa menjaga api panggilan bukanlah tugas sekali selesai, tetapi perjalanan seumur hidup. Api itu harus terus dipelihara melalui doa, firman Tuhan, dan persekutuan dengan sesama orang percaya.

Refleksi dari KPN 2026 menjadi pengingat bagi saya bahwa pelayanan bukan tentang seberapa besar yang dapat kita lakukan untuk Tuhan, tetapi tentang seberapa setia kita berjalan bersama Tuhan dalam setiap langkah pelayanan.

Saya percaya, Tuhan memakai setiap perjumpaan, setiap percakapan, dan setiap pengalaman selama konferensi ini untuk menata ulang hati saya. Dan saya berdoa agar api panggilan yang kembali dinyalakan ini tidak pernah padam, tetapi terus menyala untuk kemuliaan nama Tuhan.


(@@@)

Tinggalkan Balasan