Ps. Arief Arianto: dipanggil menjadi istimewa di Daerah Istimewa

Spread the love

Ps. Arief Arianto: dipanggil menjadi istimewa di Daerah Istimewa

YOGYAKARTA, 16/01/2026 – Kenangan pada tahun 2025 itu masih terekam jelas dalam benak penulis. Saat itu, sebuah kesempatan berharga datang ketika penulis bersama Ps. Arief Arianto dan beberapa rekan hamba Tuhan melangkah masuk ke kompleks Kepatihan untuk menghadap Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam audiensi yang hangat tersebut, Ngarsa Dalem banyak mengulas filosofi tentang “Keistimewaan” DIY. Dialog itu bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan sebuah refleksi mendalam yang selaras dengan perjalanan spiritual yang telah ditempuh oleh Ps. Arief Arianto dalam membangun karya Tuhan di kota budaya ini.

Bagi Ps Arief Arianto, istilah “Istimewa” sangatlah bermakna. Pertama, kata “Istimewa” itu menunjuk pada panggilan hidup Kristen untuk menjadi sempurna (called to be perfect) dalam arti dewasa rohani. Kedua, kata “Istimewa” baginya menunjuk pada DIY yang merupakan tempat di mana ia dipanggil untuk mendirikan dan menggembalakan jemaat GBI Teleios.

Ps Arief mengalami panggilan “menjadi Istimewa di daerah Istimewa” secara supranatural dan melalui proses yang penuh dinamika. Sejak 1994, ia sudah giat dalam pelayanan musik dan kaum muda gereja. Pada 1996, sebelum lulus sarjana, ia sudah ditahbiskan di GIA Isa Almasih Semarang. Setelah lulus dari STT Abdiel pada 1997, ia menikah pada tahun 1998.

Dinamika kehidupan dialaminya setelah kembali berdomisili di Malang Jawa Timur sejak 2000. Di kota ini, Arief muda yang sempat menjadi pengajar di STT Lawang mendapat peluang untuk berkiprah di dunia sekuler. Berkat kompetensinya, ia berhasil mendirikan sekolah musik “Dian Musik” yang cukup berhasil. Kemudian ia mengembangkan bisnis PH (Production House) Graha Pro dengan 15 karyawan. Ia ikut mendirikan Batu TV, televisi daerah yang masih eksis sampai sekarang. Karena semua reputasi itu, pada masa Pilkada 2004 Arief dilirik oleh salah seorang kandidat bupati untuk menjadi timses. Setelah menang, bupati terpilih itu menawari kesempatan baginya untuk menduduki jabatan sebagai seorang camat.

Proses sampai akhirnya Arief Arianto membangun GBI Teleios di Yogyakarta pada bulan Juni 2009 merupakan panggilan illahi. Keterpanggilan itu dimulai ketika bisnis PH-nya merugi dan membuatnya berhutang. Kondisi itu memaksanya untuk menolak tawaran menjadi camat dan karena itu ia menerima kompensasi dana yang cukup untuk melunasi hutang. Kemudian Arief berdoa memohon supaya Tuhan memberinya seorang partner pelayanan. Tuhan pun menjawab dengan mempertemukannya dengan Ps Paulus dari GBI Siloam Jakarta yang memiliki jemaat binaan di Yogyakarta. Akhirnya, Ps Arief diberinya kepercayaan untuk menggembalakan jemaat di Yogyakarta dan diberi kebebasan untuk menamai sendiri gereja baru itu.

Roh Kudus memberinya sebuah mimpi. Ia melihat sebuah pesawat terbang yang besar. Ketika memasukinya, ia menjumpai semua penumpangnya orang dewasa, berjubah indah, penuh kemuliaan, dan menyambut dengan sukacita. Arief duduk di kokpit dan mendengar suara Tuhan: “Hamba-Ku, duduklah disamping-Ku. Ikutilah perintah-Ku.” Dalam mimpi itu, di lambung pesawat tertera tulisan “Matius 5:48” (Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna). Dari situlah Ps Arief memberi nama gerejanya “Teleios” yang berarti sempurna, dewasa, Istimewa.

Menjelang 17 tahun GBI Teleios (2009-2017), Ps Arief merenungkan kembali perjalanan panggilan pelayanannya. Pengalaman berbisnis dan bepolitik selama ia di Malang itu ternyata sangat penting baginya. Pengalaman itu memperluas wawasannya, pergaulannya, dan multikompetensinya. Mimpinya tentang pesawat dan system digital yang dilihatnya di dalam pesawat itu berupa layar sentuh – yang belum lazim di era itu – menyadarkan pentingnya seorang hamba Tuhan melek teknologi. Dengan pengalaman itu Ps Arief kini menjadi sosok pendeta yang “gaul”, aktif bermasyarakat, luas dalam relasi, dan bisa bersinergi dengan pemerintah dan pejabat.

Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: SHN

Tinggalkan Balasan