
Jakarta, 30 Maret 2026 — Gugurnya satu prajurit TNI dalam misi perdamaian dunia di Lebanon akibat serangan artileri Israel bukan sekadar kabar duka. Ini adalah tamparan keras bagi kedaulatan Indonesia dan ujian nyata bagi sikap pemerintah dalam menghadapi agresi global.
Free Palestine Network (FPN) menilai, tragedi ini tidak boleh dijawab dengan pernyataan normatif atau diplomasi yang setengah hati. Negara dituntut bersuara tegas.
“Ini bukan hanya soal kehilangan prajurit. Ini soal harga diri bangsa! Jika hari ini Indonesia masih diam atau bersikap lunak, maka publik berhak mempertanyakan keberanian pemerintah,” tegas Sekjen FPN, Furqan AMC.
FPN secara terbuka mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengeluarkan pernyataan resmi yang tegas dan tanpa kompromi terhadap tindakan militer Israel.
“Jangan hanya keras di forum internasional, tapi lunak ketika menyangkut Israel. Jangan sampai rakyat melihat ini sebagai inkonsistensi atau sekadar retorika politik,” lanjut Furqan.
Menurut FPN, selama ini Presiden Prabowo dikenal lantang berbicara tentang anti-imperialisme di berbagai forum global. Namun, sikap spesifik terhadap Israel dinilai masih kabur dan belum menunjukkan keberpihakan yang tegas.
Lebih jauh, FPN mengingatkan bahwa konstitusi Indonesia jelas mengamanatkan penolakan terhadap segala bentuk penjajahan.
“Pembukaan UUD 1945 bukan sekadar teks. Itu adalah kompas moral bangsa. Dan hari ini, kompas itu sedang diuji,” kata Furqan.
FPN juga menyoroti sejumlah kebijakan luar negeri yang dinilai membingungkan publik, mulai dari keterlibatan Indonesia dalam skema internasional seperti Board of Peace (BoP), hingga perjanjian dagang dengan Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART).
“Publik melihat arah kebijakan luar negeri kita semakin tidak jelas. Apakah kita benar-benar berdiri melawan imperialisme, atau justru mulai berkompromi?” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, FPN mendesak pemerintah untuk:
- Mengeluarkan kecaman resmi terhadap serangan Israel
- Mengevaluasi keterlibatan Indonesia dalam BoP
- Meninjau ulang perjanjian ART dengan Amerika Serikat
- Mengkaji ulang rencana pengiriman pasukan TNI ke Gaza
- Mengevaluasi keamanan dan peran pasukan UNIFIL di Lebanon
Prajurit TNI yang gugur diketahui bernama Praka Farizal Rhomadhon, bagian dari Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Sementara tiga prajurit lainnya yang terluka adalah Praka Rico Pramudia, Praka Bayu Prakoso, dan Praka Arif Kurniawan, yang kini masih menjalani perawatan medis.
FPN menegaskan, pengorbanan prajurit Indonesia tidak boleh dibiarkan berlalu tanpa sikap negara yang jelas.
“Jika darah prajurit kita tumpah, lalu negara memilih diam, maka yang terluka bukan hanya keluarga korban—tetapi juga martabat bangsa ini,” tutup Furqan.
Furqan AMC
Sekretaris Jenderal FPN
0811-200-7788



