Perempuan yang Mengajarkan Diam
Ia tidak datang dengan gemuruh,
tidak pula meminta dunia menoleh.
Namun saat ia hadir,
segala yang bising belajar merendahkan suara.
Wajahnya menyimpan ketenangan yang matang—
ketenangan seseorang yang telah berjalan jauh,
mengalami banyak hal,
lalu memilih berdamai tanpa perlu menjelaskan apa pun.
Keindahannya tidak berdiri di permukaan,
ia tinggal lebih dalam,
pada cara ia menatap,
pada caranya diam.
Ia tidak memikat dengan usaha.
Pesonanya tumbuh perlahan,
seperti cahaya yang tidak menyilaukan
namun membuat mata enggan berpaling.
Ada misteri di sana—
bukan untuk ditebak,
melainkan untuk dihormati.
Di dunia yang gemar memamerkan,
ia memilih sederhana.
Di tengah hiruk yang mengejar pengakuan,
ia menjadi jeda.
Dan justru karena itu,
kehadirannya terasa utuh.
Ia tidak menjelaskan siapa dirinya.
Ia membiarkan waktu,
dan perasaan orang-orang yang memandang,
menyimpulkan sendiri.
Mungkin itulah sebabnya ia mempesona:
karena ia tidak berusaha menjadi apa pun,
selain dirinya sendiri—
tenang, anggun,
dan membuat hati ingin tinggal lebih lama
dalam diam.


