Pdt. Christiana Riyadi Inisiator
Sekolah Kebhinnekaan di Gunungkidul
Berswafoto dengan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu yang adalah salah seorang puteri Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Pdt. Christiana Riyadi, SIP, S.Th tak bermaksud pamer relasi. Pendeta Gereja Kristen Jawa (GKJ) Kemadang Gunungkidul Yogyakarta ini memang memiliki pergaulan yang luas melintas batas agama, kesukuan dan beragam perbedaan latar belakang. Adapun selfie bersama sang puteri itu diambil saat Pdt. Christiana melayani ibadah Natal Pramuka Daerah Istimewa Yogyakarta (13 Januari 2026) yang mana GKR Hayu hadir selaku Ketua Kwarda Pramuka DIY.
Pergaulan yang luas itu pulalah yang menjadikan Pdt. Christiana tokoh Kristen yang diterima di kalangan masyarakat luas. Pendeta GKJ Kemadang yang ditahbiskan pada 28 September 2005 itu bukan tipe hamba Tuhan eksklusif yang hanya sibuk melayani di internal kekristenan. Ia mempu merangkul banyak kelompok agama lain dan kelompok-kelompok yang cenderung kurang bersahabat dengan komunitas Kristen.
Meskipun Pdt. Christiana memiliki pergaulan yang luas, ternyata ia pun mengalami penolakan akibat perilaku intoleran kelompok agama tertentu. Gunungkidul bukan hanya indah alamnya sehingga menjadi destinasi wisata, namun ternyata rentan konflik SARA. Menurut Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, seperti dilansir tempo.co (4/5/2015), Kabupaten Gunungkidul adalah kawasan paling intoleran di Daerah Istimewa Yogyakarta pada periode 2010-2015. Beberapa gereja mengalami dampak buruknya. Ketika menjadi ketua panitia Paskah Adiyuswa (Lansia) di Gunungkidul, Pdt. Christiana dan segenap panitia mengalami tekanan sampai akhirnya pelaksanaan perayaan yang diikuti ribuan lansia Kristen itu terpaksa tidak bisa terpusat namun dipecah ke dalam 8 lokasi yang berbeda. Penolakan waktu itu sempat membuat suasana masyarakat di Gunungkidul tidak nyaman dan gereja-gereja merasa terintimidasi.
Namun pengalaman buruk itu justeru mendorong Pdt. Christiana bersama gereja-gereja GKJ se-Klasis Gunungkidul menginisiasi gerakan yang dinamakan “Sekolah Kebhinnekaan”. Sikap dan perilaku intoleran terjadi karena pola pendidikan keagamaan yang bersifat fanatik dan radikal. Karena itu masyarakat perlu sedini mungkin diedukasi nilai-nilai toleransi yang menghargai keberagaman budaya dan agama. Pendidikan toleransi berbasis kebhinnekaan itu seharusnya diemban bersama oleh semua kelompok agama yang ada.
Awalnya Pdt. Christiana melakukan pendekatan kepada kelompok Katolik, Hindu, dan Budha. Kemudian ia juga melakukan pendekatan kepada kelompok pemuda Anshor dari komunitas Nahdlatul Ulama. Akhirnya semua sepakat untuk mewujudkan “Sekolah Kebhinnekaan” yang berupa pengkaderan generasi muda yang bervisi toleransi agama. Pdt. Christiana menjadi kepala sekolah untuk angkatan pertama (2018) dan angkatan kedua (2019). Proses belajar-mengajar di setiap angkatan diselenggarakan selama 3 bulan dengan tempat sekolah berpindah-pindah di tempat ibadah setiap agama yang ada. Pelaksanaan pendidikan pada angkatan pertama cukup meriah, dipuncaki dengan karnafal kebhinnekaan dan dihadiri bupati dan wakil bupati Gunungkidul.
Keberhasilan gerakan “Sekolah Kebhinnekaan” itu mengantarkan Pdt. Christiana menjadi pembicara nasional di Kalimantan Selatan. Di depan peserta yang mewakili Lembaga Kesbangpol dari seluruh Indonesia, ia berbagi pengalaman. Namun Pdt. Christiana sendiri merasa masih belum bisa berbuat banyak. Pekerjaan besar ini tidak hanya membutuhkan inisiator tetapi lebih banyak kader dan para pemimpin visioner yang berkolaborasi, dan sampai sekarang masih sangat sedikit jumlahnya.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Istimewa
Editor: SHN


