KOTA BEKASI — Gangguan pasokan daging sapi di Pasar Baru Kota Bekasi menjelang Hari Raya Idul Fitri tidak sekadar menjadi persoalan ketersediaan barang, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang kesiapan sistem distribusi pangan di tingkat daerah.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, pasokan daging mengalami penurunan signifikan. Sejumlah pedagang mengaku tidak lagi mampu memenuhi permintaan, bahkan sebagian lapak kehabisan stok sejak pagi hari—situasi yang tidak lazim di periode dengan permintaan tinggi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang turun langsung ke lokasi pada Kamis (19/3/2026), menilai kondisi ini sebagai sinyal yang tidak bisa diabaikan. Ia menyoroti adanya indikasi pembatasan pemotongan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) yang berpotensi memengaruhi rantai pasok secara menyeluruh.
Menurutnya, persoalan distribusi pangan tidak berdiri sendiri di level kota. Keterkaitan dengan kebijakan di tingkat provinsi hingga pusat menjadikan penanganannya membutuhkan koordinasi lintas kewenangan.
Langkah yang diambil Pemerintah Kota Bekasi saat ini berfokus pada membangun komunikasi intensif dengan berbagai pihak terkait guna memastikan aliran pasokan kembali normal. Upaya ini juga menjadi bagian dari mitigasi agar gejolak tidak meluas menjadi lonjakan harga yang sulit dikendalikan.
Di tengah kondisi tersebut, tekanan terhadap harga bahan pokok lain turut terjadi. Komoditas seperti cabai, bawang merah, dan minyak goreng menunjukkan tren kenaikan—menggambarkan bahwa menjelang hari besar keagamaan, pasar cenderung berada dalam kondisi rentan.
Meski demikian, pemerintah daerah menyatakan bahwa secara umum ketersediaan bahan pangan masih berada dalam batas aman. Tantangan utama saat ini terletak pada menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan, sekaligus memastikan harga tetap dalam koridor yang wajar.
Pengamat menilai, peristiwa ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem distribusi pangan, khususnya dalam menghadapi lonjakan musiman. Ketergantungan pada pasokan dari luar daerah serta potensi hambatan di titik produksi menjadi faktor yang perlu diantisipasi sejak dini.
Pemerintah Kota Bekasi juga mengingatkan para pelaku distribusi agar tidak melakukan pembatasan yang dapat memperburuk situasi. Stabilitas pangan, dalam konteks ini, bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut ketenangan sosial masyarakat menjelang momentum keagamaan.
Jika tidak dikelola dengan cepat dan tepat, gangguan pasokan yang awalnya bersifat teknis berpotensi berkembang menjadi persoalan yang lebih luas. Namun sebaliknya, dengan koordinasi yang kuat, kondisi ini dapat menjadi pijakan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah ke depan.
Jurnalis: Romo Kefas


