Natal Lintas Agama Warga Maluku di Yogyakarta, Pela Gandong Jadi Perekat Persaudaraan

Spread the love

Natal Lintas Agama Warga Maluku di Yogyakarta, Pela Gandong Jadi Perekat Persaudaraan

Yogyakarta — Semangat persaudaraan khas Maluku kembali terasa kuat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Warga Maluku lintas agama yang bermukim di kota pelajar ini merayakan Natal bersama dalam suasana penuh kehangatan, kebersamaan, dan toleransi, Sabtu (10/1/2026).

Perayaan Natal yang digelar di Yayasan Indocharis, Yogyakarta, tersebut diinisiasi oleh Persekutuan Kristen Maluku (PKM) bersama Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Maluku (IKAPELAMAKU). Acara ini tidak hanya dihadiri umat Kristiani, tetapi juga warga Maluku Muslim serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Mengusung tema “Allah Hadir Untuk Menyelamatkan Keluarga”, perayaan diawali dengan ibadah Natal bagi umat Kristiani Maluku. Meski hujan sempat mengguyur wilayah Yogyakarta, ibadah tetap berlangsung khidmat dan penuh penghayatan.

Dalam khotbahnya, Romo Agustinus mengajak jemaat memaknai Natal sebagai momentum memperkuat keluarga dan persaudaraan. Menurutnya, kehadiran Tuhan bukan hanya dirasakan di tempat ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga relasi antaranggota keluarga dan masyarakat.

Usai ibadah, suasana semakin cair ketika warga Maluku non-Kristiani bergabung dalam rangkaian acara kebersamaan. Hadir pula berbagai organisasi kemasyarakatan Maluku, termasuk Persatuan Wanita Maluku (PEWARMA-INA) DIY, Pengurus IKPM DIY, serta Keluarga Besar Pengajian IKAPELAMAKU. Kehadiran lintas iman ini mencerminkan kuatnya nilai Pela Gandong yang telah mengakar dalam budaya Maluku.

Ketua Persekutuan Kristen Maluku, Pendeta Onwin Frans Hetharie, mengatakan perayaan Natal ini menjadi ruang penting untuk merawat persaudaraan orang Maluku di tanah perantauan.

“Pela Gandong mengajarkan kita bahwa perbedaan tidak memisahkan. Justru di situlah persaudaraan diuji dan diperkuat,” ujarnya.

Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai penampilan seni dan musik, mulai dari paduan suara, vokal grup, hingga penampilan anak-anak. Prosesi penyalaan lilin Natal dilakukan sebagai simbol terang persaudaraan dan harapan bagi masa depan bersama.

Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya perwakilan kepolisian daerah, Pembimas Kristen DIY, serta pemerintah kelurahan setempat. Mereka mengapresiasi kekompakan dan kerukunan warga Maluku yang dinilai turut menjaga harmoni sosial di Yogyakarta.

Acara ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama. Hidangan khas Maluku seperti papeda dan ikan kuah kuning disajikan, menambah kehangatan suasana dan mempererat ikatan antarwarga.

Perayaan Natal lintas agama ini menjadi bukti bahwa semangat Pela Gandong tetap hidup di mana pun orang Maluku berada, sekaligus menjadi contoh nyata toleransi dan persaudaraan di tengah keberagaman Indonesia.


Jurnalis: SHN
Foto: SHN
Editor: Romo Kefas

Tinggalkan Balasan