Pelitakota.id Dalam pusaran kehidupan modern yang menyesakkan, kita kerap terhempas dalam riuhnya dunia materialistis. Terjebak dalam siklus tak berujung mengejar fatamorgana kekayaan, kekuasaan, dan pengakuan, kita mengkhianati esensi keberadaan kita sebagai manusia. Gemerlap dunia yang fana membungkam suara hati yang seharusnya menjadi kompas penuntun menuju kebenaran dan kebaikan. Sebab, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya,” seperti yang tertulis dalam 1 Yohanes 2:15-17, “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Peribahasa Indonesia pun mengingatkan, “Harta tidak dibawa mati,” menyadarkan kita akan kefanaan duniawi.
Literasi ini hadir sebagai seruan untuk merobek tirai kepalsuan dan merenungkan kembali nilai-nilai fundamental yang menjadi fondasi karakter sejati: integritas dan tanggung jawab. Integritas adalah benteng kokoh yang dibangun di atas keselarasan antara kata dan perbuatan. Ia adalah cerminan jiwa, terpancar dalam setiap tindakan. Tanpa integritas, runtuhlah kepercayaan, kehormatan, dan akhirnya, kemanusiaan kita. Maka, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,” seperti yang dinyatakan dalam Amsal 4:23, “karena dari situlah terpancar kehidupan.” Senada dengan itu, Peribahasa Jawa mengatakan, “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” (Harga diri seseorang dari perkataannya, harga raga dari pakaiannya), menekankan pentingnya menjaga perkataan dan perbuatan.
Tanggung jawab, di sisi lain, adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kebebasan yang kita rengkuh. Setiap pilihan, setiap langkah yang kita ayunkan, mengukir dampak bagi diri sendiri, sesama, dan alam semesta. Mengingkari tanggung jawab sama dengan mengkhianati takdir kita sebagai makhluk berakal budi yang berdaya cipta. Sebab, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan,” seperti yang tertulis dalam Galatia 6:7, “Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Peribahasa Jawa juga mengingatkan, “Sapa nandur bakal ngundhuh” (Siapa yang menanam, dia yang akan memanen), mengajarkan bahwa setiap perbuatan akan menuai hasilnya.
Namun, jalan hidup tak selalu bertabur bunga. Kita seringkali dihadapkan pada persimpangan dilematis yang menguji nyali. Godaan untuk menempuh jalan pintas, berdusta, atau bahkan mengkhianati nilai-nilai luhur bisa menghantui dari berbagai penjuru: tekanan lingkungan yang membabi buta, iming-iming keuntungan sesaat yang memabukkan, atau ketakutan akan kehilangan segalanya yang melumpuhkan. Oleh karena itu, “Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut,” seperti yang diperingatkan dalam Amsal 1:10-11, 15, “Hai anakku, janganlah engkau berjalan di jalan bersama-sama mereka, tahanlah kakimu dari pada jejak mereka.” Peribahasa Indonesia pun mengingatkan, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” betapa satu kesalahan kecil dapat merusak segalanya.
Saat nurani mulai meredup dan kegelapan merayap masuk, kita harus segera melawan. Jangan biarkan keputusasaan mencengkeram jiwa. Kobarkan kembali api keberanian dan carilah setitik cahaya yang akan menuntun kita keluar dari labirin kebingungan. Ingatlah, setiap kejatuhan adalah kesempatan untuk bangkit lebih perkasa. Sebab, “Sebab itu kami tidak tawar hati,” seperti yang dijanjikan dalam 2 Korintus 4:16, “tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.” Peribahasa Jawa mengajarkan, “Gusti ora sare” (Tuhan tidak tidur), mengingatkan bahwa keadilan Ilahi akan selalu ada.
Literasi ini juga mengajak kita menyelami samudra makna yang tersembunyi di balik gemerlap duniawi. Bukan pada seberapa banyak harta yang kita timbun, setinggi apa jabatan yang kita raih, atau seberapa sanjung puja yang kita terima. Makna hidup yang sejati terletak pada seberapa besar cinta yang kita tebarkan, seberapa banyak kebaikan yang kita ukir, dan seberapa berani kita membela kebenaran. Sebab, “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna,” seperti yang ditegaskan dalam 1 Korintus 13:2. Peribahasa Indonesia mengatakan, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama,” bahwa yang abadi adalah amal dan kebaikan yang kita tinggalkan.
Untuk menemukan kembali cahaya di tengah kegelapan yang menyesakkan, introspeksi diri yang jujur dan mendalam adalah kunci utama. Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang benar-benar bernilai bagi saya? Nilai-nilai apa yang rela saya perjuangkan hingga titik darah penghabisan? Warisan apa yang ingin saya tinggalkan bagi generasi mendatang?
Selain itu, asah terus kemampuan berpikir kritis. Jangan telan mentah-mentah setiap informasi yang disodorkan. Selalu pertanyakan, analisis, dan verifikasi setiap klaim sebelum mempercayainya. Sebab, “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik,” seperti yang dinasihatkan dalam 1 Tesalonika 5:21. Peribahasa Jawa mengingatkan, “Aja gumunan, aja kagetan, aja dumeh” (Jangan mudah heran, jangan mudah terkejut, jangan mentang-mentang), agar kita selalu waspada dan rendah hati.
Lebih dari sekadar rangkaian kata, literasi ini adalah panggilan jiwa untuk bertindak. Jadikan setiap detik sebagai kesempatan untuk meretas jalan menuju kebaikan, menebar benih inspirasi, dan membela mereka yang tertindas. Jangan biarkan nurani kita terperangkap dalam penjara kegelapan. Biarkan api integritas dan tanggung jawab membakar semangat kita untuk mewujudkan dunia yang lebih adil dan bermartabat. Sebab, “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” seperti yang diserukan dalam Mikha 6:8. Peribahasa Jawa mengajarkan, “Memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara” (Memelihara keselamatan dunia, memberantas angkara murka), mengajak kita untuk berkontribusi pada kebaikan dan keadilan.
Semoga literasi ini menjadi obor penerang bagi kita semua. Mari bersama-sama merajut peradaban yang berlandaskan integritas, tanggung jawab, dan cinta kasih yang tak terbatas. Sebab, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup,” seperti yang dijanjikan dalam Yohanes 8:12.


