
JAKARTA — Dalam banyak kerja sama, yang sering menonjol adalah seremoni. Namun dalam pertemuan antara Sekretariat Bersama Wartawan Indonesia (SWI) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, yang justru mengemuka adalah arah: ke mana kolaborasi ini akan dibawa, dan sejauh mana ia bisa memberi dampak.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor BAZNAS Pusat, Jumat (10/4/2026), menjadi ruang diskusi yang lebih dari sekadar agenda formal. Ada upaya untuk menyatukan peran—antara lembaga yang bergerak di bidang komunikasi publik dan lembaga yang menjalankan mandat pengelolaan zakat nasional.
Dari Informasi ke Transformasi
SWI selama ini dikenal sebagai wadah jurnalis. Namun dalam pertemuan tersebut, muncul kesadaran bahwa peran media tidak lagi berhenti pada penyampaian informasi.
Ada ruang yang lebih luas: menjadi bagian dari perubahan sosial.
Sekjen/Plt. Ketum SWI, Herry Budiman, menyampaikan pentingnya membangun kerja sama yang tidak hanya simbolik. Ia mendorong agar kolaborasi ini dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS), sehingga memiliki arah kerja yang jelas.
Rencana penandatanganan pada Musyawarah Nasional SWI di Boyolali, 20 Mei mendatang, menjadi momentum yang dipandang strategis.
ZIS sebagai Instrumen, Bukan Sekadar Program
Dalam pembahasan, fokus pada zakat, infak, dan sedekah (ZIS) tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas rutin, tetapi sebagai instrumen sosial yang memiliki daya ubah.
BAZNAS selama ini mengembangkan pendekatan yang menempatkan mustahik bukan sekadar penerima, tetapi sebagai subjek pemberdayaan.
Di titik ini, SWI melihat peluang untuk berkontribusi—tidak hanya dalam publikasi, tetapi juga dalam membangun kesadaran publik tentang pentingnya partisipasi sosial.
Langkah awal yang disiapkan adalah pembentukan PIC khusus untuk memastikan koordinasi berjalan efektif dan berkelanjutan.
Delapan Program, Satu Arah Besar
BAZNAS telah menetapkan delapan program prioritas nasional yang mencakup sektor kesehatan, ekonomi, pendidikan, hingga pengembangan komunitas.
Program-program ini dirancang dengan satu tujuan besar: mengurangi ketergantungan dan mendorong kemandirian.
Kolaborasi dengan SWI diharapkan dapat memperkuat dua hal penting—jangkauan dan narasi. Jangkauan memastikan program sampai kepada yang membutuhkan, sementara narasi memastikan masyarakat memahami dan tergerak untuk terlibat.
Menguji Keseriusan Kolaborasi
Pihak BAZNAS, melalui Donny Fajar Ramadhan, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia mencatat berbagai poin yang telah dibahas dan akan menyampaikannya kepada pimpinan BAZNAS, termasuk rencana penandatanganan kerja sama di Boyolali.
Namun, sebagaimana setiap kolaborasi, tantangan terbesarnya bukan pada pertemuan awal, melainkan pada konsistensi setelahnya.
Apakah kerja sama ini akan benar-benar berjalan?
Apakah ia mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan?
Atau berhenti sebagai dokumen formal?
Lebih dari Sekadar Kesepakatan
Pertemuan ini setidaknya menunjukkan satu hal: ada kesadaran bahwa persoalan sosial tidak bisa diselesaikan sendiri.
Dibutuhkan kolaborasi yang melampaui peran masing-masing.
SWI membawa kekuatan pada sisi komunikasi dan jaringan informasi.
BAZNAS membawa pengalaman dan sistem dalam pengelolaan program sosial.
Jika keduanya berjalan searah, maka kerja sama ini bukan hanya tentang program, tetapi tentang dampak.
Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan pada berapa banyak yang direncanakan—
melainkan pada berapa banyak yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Sumber: Humas SWI / BAZNAS
Jurnalis: Romo Kefas
Editor: Tim Redaksi
Publisher: Tim Cyber



