Memberi yang Terbaik atau Menghitung Untung-Rugi?

Spread the love

Memberi yang Terbaik atau Menghitung Untung-Rugi?

Ketika Penyembahan Bertabrakan dengan Kepentingan

Di zaman ketika segalanya diukur dengan angka, efisiensi, dan manfaat langsung, penyembahan kepada Tuhan pun sering kali terjebak dalam kalkulasi untung-rugi. Apa yang tidak “masuk akal” dianggap berlebihan. Apa yang tidak produktif secara kasat mata dicap pemborosan. Bahkan kasih kepada Kristus pun kini kerap diuji dengan standar ekonomi dan logika dunia.

Ironisnya, dunia tidak sendirian dalam cara berpikir seperti ini. Gereja dan orang percaya pun perlahan bisa terseret ke dalam pola yang sama: cepat menilai pengabdian orang lain, namun lambat menguji ketulusan hati sendiri. Kita fasih berbicara tentang “kepedulian sosial”, tetapi gugup ketika penyembahan menuntut pengorbanan pribadi yang nyata.

Di tengah realitas inilah Injil Yohanes membawa kita ke Betania—bukan ke mimbar megah, bukan ke Bait Allah, melainkan ke sebuah jamuan makan sederhana. Di ruangan itu, bukan hanya Yesus yang menjadi pusat perhatian, tetapi juga hati manusia yang sedang diuji.

Maria, saudari Marta dan Lazarus, melakukan tindakan yang bagi banyak orang tampak irasional: ia mengambil setengah liter minyak narwastu murni—sangat mahal harganya—dan meminyaki kaki Yesus. Nilainya setara hampir satu tahun upah pekerja. Tidak ada perhitungan untung-rugi. Tidak ada strategi pencitraan. Yang ada hanyalah kasih yang meluap dan pengabdian yang total.

Sebaliknya, Yudas Iskariot tampil dengan suara yang terdengar bijak dan peduli: “Mengapa minyak ini tidak dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?” (Yoh. 12:5). Namun Injil dengan jujur membongkar motif di balik retorika rohaninya. Kepedulian itu palsu. Kata-kata indahnya menutupi hati yang dikuasai cinta uang.

Di sinilah Injil menjadi tajam dan menggigit: penyembahan sejati sering kali dikritik oleh orang-orang yang paling pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi enggan berkorban. Maria tidak berbicara banyak, tetapi tindakannya berbicara keras. Yudas berbicara panjang, tetapi hidupnya berseberangan dengan kebenaran.

Yesus tidak membela Maria dengan bahasa sentimental, melainkan dengan perspektif kekekalan. Tindakan Maria adalah persiapan bagi penguburan-Nya. Ia menangkap momentum ilahi yang tidak dipahami oleh murid-murid lain. Maria melihat lebih jauh daripada logika dunia; ia melihat salib yang akan segera datang.

Kisah ini menampar iman kita hari ini. Betapa sering kita mengaku mengasihi Kristus, tetapi hanya memberi sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa perhatian. Betapa mudahnya kita mengoreksi cara orang lain melayani, sementara kita sendiri sibuk menjaga kenyamanan rohani. Kita ingin Tuhan hadir dalam hidup kita, tetapi enggan membiarkan Dia mengusik zona aman kita.

Yesus tidak menolak pelayanan sosial, tetapi Ia menolak kemunafikan rohani. Orang miskin akan selalu ada, kata-Nya, tetapi kesempatan untuk menyatakan kasih yang total kepada Kristus tidak selalu datang dua kali. Penyembahan sejati selalu menuntut harga—bukan untuk membeli kasih Allah, melainkan sebagai respons syukur atas anugerah keselamatan.

Pertanyaannya bukan lagi: berapa besar yang kita berikan, melainkan seberapa utuh hati kita diserahkan. Apakah iman kita masih berani “boros” bagi Tuhan? Ataukah kita telah terlalu pandai menghitung, sampai lupa menyembah?

Memberikan yang terbaik bagi Tuhan bukan tentang jumlah, melainkan tentang keberanian menyerahkan yang paling berharga dalam hidup—waktu, reputasi, kenyamanan, bahkan masa depan—ke dalam tangan Kristus. Di situlah iman diuji. Dan di situlah penyembahan sejati menemukan maknanya.


Ditulis oleh:
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K
GPIAI Filadelfia Bogor


Tinggalkan Balasan