MEMBERI: Ketika Kasih Menjadi Alat, dan Ketulusan Hanya Sebuah Sandiwara

Spread the love

Pelitakota .id Dalam kaca cermin MEMBERI: Ketika Kasih Menjadi Alat, dan Ketulusan Hanya Sebuah Sandiwara yang terjebak dalam balutan prestise dan keinginan disanjung, “memberi” telah bertransformasi menjadi salah satu pura-pura paling cerdas. Kita membanggakan diri dengan jumlah donasi, menayangkan aksi berbagi di media sosial, dan menyebutnya “kasih”, tapi sesungguhnya – apakah yang kita berikan itu adalah bagian dari diri, atau hanya sekadar investasi untuk mendapatkan “modal sosial” yang lebih besar?

Banyak orang berbicara tentang “ketulusan hati” seperti itu adalah sesuatu yang mudah didapat, sembari mereka mengukur nilai pemberian dengan ukuran rupiah, meter persegi, atau jumlah like di postingan. Mereka memberi karena ingin dilihat sebagai “orang baik”, karena ingin mendapatkan pujian, atau bahkan karena ingin menutupi kesalahan yang tersembunyi. Di sinilah kebenaran terpendam: banyak “memberi” yang kita lihat hari ini hanyalah sandiwara yang dipentaskan untuk memenuhi keinginan diri sendiri, bukan untuk menyentuh kehidupan orang lain.

Seperti yang dikatakan dalam pribahasa Sunda: “Bérékeun jangjang, nyandakkeun tjampoer” – memberi dengan satu tangan, mengambil dengan yang lain. Atau pribahasa Jawa: “Ngaturaken bantal, nggonaken guling” – tampak mau membantu, tapi sebenarnya hanya mau mengambil keuntungan untuk diri sendiri. Kedua pribahasa itu seperti cermin yang jernih, mencerminkan wajah asli dari “memberi” yang tidak tulus di tengah kita.

Tetapi mari kita lihat cerita Jemaat Makedonia dalam 2 Korintus 8:1-3 – mereka memberi dari kekurangannya, tanpa ada sorotan, tanpa harapan balasan apapun. Mereka tidak membangun panggung untuk diri sendiri; mereka hanya membuka hati karena kasih yang sesungguhnya. Ini adalah tantangan yang mengiris hati: mengapa kita yang hidup di zaman yang lebih makmur, malah lebih sulit untuk memberi tanpa niat tersembunyi? Mengapa kita lebih suka menunjukkan “aksi berbagi” daripada benar-benar merasakan penderitaan orang yang kita bantu?

Memberi tidak diukur dari seberapa banyak yang kamu berikan, melainkan dari seberapa jauh kamu bersedia mengorbankan diri. Seperti pribahasa Sunda yang mengajarkan: “Béré ti jero haté, narékah ti luhur langit” – memberi dari dalam hati, akan diterima oleh yang Mahatinggi. Atau pribahasa Jawa: “Ngaturaken ati, nggonaken raharja” – memberi dengan tulus, akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kedua kata bijak ini membuktikan bahwa kebenaran memberi telah lama dikenali oleh budaya kita, tapi seringkali terlupakan dalam keramaian dunia material.

Ketika kamu memberi dengan tulus, kamu tidak menghitung apa yang kamu berikan – kamu hanya merasakan apa yang orang lain butuhkan. Tuhan tidak melihat jumlah yang kamu berikan di meja doa; Dia melihat apa yang ada di dalam hati yang memberi. Apakah itu hati yang penuh dengan keinginan untuk diterima, atau hati yang penuh dengan kasih yang tidak meminta apa-apa?

Kutipan Efesus 6:8 pun menjadi lebih bermakna ketika kita memahami ini: balasan dari Tuhan tidak datang karena kamu “berinvestasi” dalam kebaikan, tapi karena kebaikan itu adalah wujud dari apa yang sebenarnya ada di dalam dirimu. Balasan itu bukan hadiah untuk sandiwara, melainkan pujian untuk kebenaran yang sesungguhnya.

Jadi, berhentilah menari di panggung sandiwaramu itu. Hapus masker “ketulusan” yang kamu pakai hanya untuk dilihat orang. Tanya dirimu dengan tegas: “Apakah yang aku berikan hari ini itu berasal dari hati yang jujur, atau hanya sekadar alat untuk memenuhi kesombongan diriku?” Jangan biarkan “memberi” menjadi sekadar kata kosong yang hanyut di lautan materialisme. Karena ketika hati mu palsu, apa pun yang kamu berikan – tidak peduli seberapa banyak – hanyalah puing-puing yang tidak berarti, sebelum terlambat untuk menjadi orang yang benar-benar tahu cara memberi.

Oleh Kefas Hervin Devananda

Tinggalkan Balasan