Membangun Solidaritas Hukum dari Daerah: Strategi Jelani Christo Menguatkan Akses Keadilan

Spread the love

Membangun Solidaritas Hukum dari Daerah: Strategi Jelani Christo Menguatkan Akses Keadilan

Jakarta, 02 Maret 2026 – Di tengah perdebatan publik tentang tajamnya hukum ke bawah dan tumpulnya hukum ke atas, Jelani Christo, S.H., M.H., memilih bekerja dari akar persoalan: memperkuat solidaritas dan akses keadilan dari daerah. Bagi advokat asal Kalimantan Barat ini, perubahan sistem hukum tidak cukup dengan sorotan media, tetapi membutuhkan kerja kolektif, pendidikan hukum, dan perlindungan profesi yang konsisten.

Lahir di Sintang pada 7 Juli 1975, Jelani memulai kiprahnya dengan menyadari satu hal penting: banyak warga tidak memahami hak-haknya ketika berhadapan dengan aparat atau proses peradilan. Karena itu, ia tidak hanya fokus pada litigasi, tetapi juga mendorong edukasi hukum dan pendampingan yang berkelanjutan bagi masyarakat kecil dan komunitas adat.

Sebagai Ketua Umum Solidaritas Pembela Advokat Seluruh Indonesia (SPASI), ia menguatkan jaringan advokat lintas daerah agar saling mendukung saat menghadapi tekanan atau dugaan kriminalisasi profesi. Menurutnya, advokat yang independen adalah syarat mutlak tegaknya due process of law. Tanpa perlindungan profesi, masyarakat berisiko kehilangan pembela yang bebas dari intervensi.

Di tingkat komunitas, melalui perannya di LBH Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Jelani mendorong penyelesaian konflik berbasis dialog dan penghormatan terhadap hak-hak tradisional. Ia menilai, banyak sengketa dapat diredam jika negara, perusahaan, dan masyarakat adat duduk bersama dengan prinsip transparansi dan keadilan restoratif.

Pendekatan Jelani juga menekankan kolaborasi. Gagasan Laskar Hukum Indonesia ia dorong sebagai wadah sinergi lintas organisasi untuk mengawal kasus-kasus strategis dan memperluas jangkauan bantuan hukum. “Melawan ketidakadilan tak bisa sendirian,” menjadi semangat yang ia gaungkan untuk membangun gerakan yang terstruktur dan berkelanjutan.

Di luar ruang sidang, ia konsisten menyuarakan pentingnya kebebasan pers dan akuntabilitas penegak hukum. Baginya, demokrasi yang sehat bergantung pada transparansi dan kontrol publik yang kuat, termasuk peran media dan masyarakat sipil.

Alih-alih menempatkan dirinya pada pusaran sensasi, Jelani memilih fokus pada penguatan sistem: memperluas akses bantuan hukum, membangun jejaring advokat, dan memastikan setiap warga—tanpa memandang latar belakang—mendapat perlakuan setara di hadapan hukum.

Dalam lanskap hukum yang kompleks, strategi berbasis solidaritas dan edukasi yang ia jalankan menjadi upaya nyata untuk mengubah ketimpangan menjadi peluang keadilan yang lebih merata.

Jurnalis Romo Kefas

Tinggalkan Balasan