Memahami Jogja dari Tugunya: Mencermati Alam, Sejarah, Budaya, dan Agama
YOGYAKARTA, 18/01/2026, Banyak wisatawan lokal maupun manca negara yang berkunjung ke Kota Yogya di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyempatkan diri berfoto atau pun selfie di Tugu Jogja. Ikon Yogya yang disebut Tugu Pal Putih (de witte paal) ini berada di titik pusat persimpangan antara Jalan Margo Utomo (dulu dikenal sebagai Jalan Pangeran Mangkubumi), Jalan A.M. Sangaji, Jalan Jendral Sudirman, dan Jalan P. Diponegoro.
Sayangnya dari sekian banyak wisatawan itu, tak banyak yang benar-benar mencermati seluk beluk Tugu Jogja itu. Padahal, monument itu menyimpan banyak rahasia yang menarik untuk dipelajari. Karena itu, Pemda DIY pada 2015 membangun sebuah miniatur tugu yang menunjukkan sejarah Tugu Jogja itu. Harapannya, menjadi wahana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung.
Dari monumen Tugu Jogja itu setidaknya kita bisa belajar empat hal. Pertama, belajar tentang alam di daerah Yogyakarta yang ternyata rawan bencana. Tugu Pal Putih yang sekarang ini berbeda dengan tugu yang aseli. Yang aseli, seperti ditampilkan miniaturnya itu, jauh lebih tinggi. Jika tugu yang sekarang setinggi 15 meter, yang aseli 25 meter. Seperti dibahas dalam situs resmi Kasultanan Yogyakarta (www.kratonjogja.id), tugu yang aseli mengalami kehancuran saat Yogyakarta dilanda gempa bumi tektonik yang dahsyat pada 10 Juni 1867. Baru beberapa tahun kemudian dibangun kembali dan diresmikan pada 3 Oktober 1889.
Kedua, dari Tugu Jogja itu kita bisa belajar tentang sejarah Yogyakarta sebagai sebuah Kerajaan yaitu Kasultanan Ngayogyokarto Hadiningrat yang didirikan Sultan Hamengku Buwono I pada 1755. Raja yang juga arsitek ini membangun tata kota Yogya dan mendirikan Tugu Jogja yang aseli yang dinamakan Tugu Golong-Gilig karena bentuk pilarnya silinder (gilig) dan di pucukya berbentuk bola (golong). Gempa dahsyat yang menghancurkannya terjadi pada era Sultan HB VI yang berkuasa sejak 1855 sampai 1877. Tugu Jogja baru dibangun kembali saat Sultan HB VII berkuasa.
Perubahan bentuk setelah dibangun kembali itu menunjukkan bagaimana Penjajah berusaha merusak pola kepemimpinan Raja Yogya. Menurut sejarawan Sri Margana dari UGM, di jaman Penjajahan Belanda Yogya diakui sebagai sebuah Daerah Istimewa (speciaal gebied) karena merupakan Kerajaan yang Merdeka. Kerajaan Yogya sangat kuat karena raja dan rakyatnya bersatu sebagaimana direpresentasikan dalam Tugu Golong Gilig yang berarti “Manunggaling Kawula lan Gusti” (bersatunya rakyat dan raja). Penjajah tidak senang dengan konsep itu maka Tugu Pal Putih dibangun baru dengan bentuk berbeda yaitu persegi dan berpucuk runcing. Jadi, Tugu Jogja menjadi penanda politik kolonial yang berusaha menghancurkan persatuan dan kesatuan di Nagari Yogyakarta.
Ketiga, dari Tugu Jogja kita belajar budaya dan di sini pulalah kita melihat bagaimana Penjajah menghancurkan kebudayaan Yogya. Tugu aselinya yaitu Tugu Golong Gilig adalah simbol ajaran luhur berupa konsep yang sekarang kita pahami sebagai prinsip demokrasi substansial. Jauh sebelum demokrasi modern muncul, Sultan HB I sudah mengajarkan prinsip tentang bagaimana rakyat bersatu dengan rajanya (manunggaling kawula lan gusti). Dari situlah maka Sultan HB IX (1912-1988) yang menjadi Gubernur DIY pertama (1945-1988) menerjemahkannya sebagai prinsip demokrasi “Tahta untuk Rakyat”.
Prof. Dr. Sutrisna Wibawa sebagai Ketua Dewan Pendidikan DIY selalu mengingatkan bahwa Yogyakarta memiliki tiga filosofi utama yang disebut core beliefs: (1) prinsip hamemayu hayuning bawana yaitu prinsip eko-teologi untuk membangun dunia menjadi indah, (2) prinsip sangkan paraning dumadi yaitu hidup, berkiprah, dan berkarya baik dan benar sebagai mahluk ciptaan Tuhan, (3) prinsip manunggaling kawula lan gusti yaitu praktik demokrasi substansial. Jadi, Tugu Jogja bisa dijadikan “media pembelajaran” atau “alat peraga” untuk kegiatan belajar-mengajar tentang budaya luhur Yogya.
Keempat, dari Tugu Jogja sejatinya kita belajar agama. Sebab, konsep manunggaling kawula lan gusti itu juga bermakna spiritual dalam hal mana manusia harus menuju kesempurnaan yaitu sebagai hamba (kawula) yang bersatu dengan Tuhan (Gusti). Itulah sebabnya Tugu Golong-Gilig yang aseli dibangun setinggi 25 meter, supaya Sultan yang duduk di singgasana Kraton (Bangsal Manguntur Tangkil di podium Siti Hinggil Lor) – yang segaris lurus dengan Tugu Golong-Gilig – bisa melihat pucuk tugu itu dari kejauhan sebagai titik meditasi. Pemimpin harus harus selalu fokus untuk bersatu dengan rakyatnya dan bersatu dengan Tuhannya.
Gusti yang disebut dalam konsep manunggaling kawula lan Gusti itu tidak menunjuk pada “Tuhan” menurut agama tertentu. Gusti adalah Tuhan Yang Mahaesa, Sang Pencipta, Tuhan Semesta Alam, Dengan demikian Tugu Jogja menjadi ruang bersama bagi semua orang untuk merenungkan tentang Tuhan menurut imannya masing-masing. Implikasinya, ikon ini juga bisa menjadi semacam media dakwah untuk konteks agama apa pun. Seandainya Rasul Paulus berwisata ke Yogya dan melihat tugu ini, mungkin ia akan melakukan hal sama seperti yang dilakukannya di Kota Atena dulu. Netralitas Tugu Jogja mungkin akan dipakai Paulus untuk menjelaskan siapa Pribadi Gusti itu, sama seperti ketika ia memaknai mezbah yang bertuliskan kepada “Tuhan yang tidak dikenal” yang dijumpainya di kota Atena kala itu.
Penulis: Haryadi Baskoro
Foto: Silis Boom
Editor: SHN


